//
saat ini anda MEMBACA
yang faktual

LABA PERORANGAN (010511)

secara historikal, gw sebagai investor: he3, KEBETULAN, bo
konsep yang ditawarkan oleh Kiyosaki adalah UTANG BUKAN JALAN MENUJU KEKAYAAN, TAPI INVESTASI BERASET TINGGI
sama sekali TIDAK SALAH
tapi gw menganggap bahwa konsep ini bisa lebe TAJAM DIPAHAMI
ketajaman pemahamannya ada pada konsep sederhana: LABA PERORANGAN
UTANG BUKAN LABA
UTANG TANDA KETIDAKBERDAYAAN SESEORANG
UTANG TANDA KETIDAKMAPANAN SESEORANG
jika punya mobil atawa rumah dari utang, JANGAN BANGGA ๐Ÿ˜›
itu artinya SESEORANG BERUTANG KARENA ORANG ITU TIDAK BERDAYA, TIDAK MAPAN, DAN TIDAK BISA MENCETAK LABA dalam kehidupannya
well, gw seh hepi2 aja tukh ๐Ÿ™‚
konsep laba perorangan AMAT SEDERHANA: pemasukan dikurangi pengeluaran orang itu dalam sebulan HARUS MASEH ADA KELEBIHAN PEMASUKAN aka LABA BULANAN
konsep pemasaran ritel SELALU MENEKANKAN BELANJA BULANAN bwat pelanggan perorangan
TAPI TIDAK PEDULI BELANJA ITU DARI UTANG atawa LABA PERORANGAN
ini membuat MITOS KEBERDAYAAN dan KEMAPANAN aka HIDUP SEAKAN-AKAN HEPI
gw mah hepi aja ๐Ÿ™‚
seakan-akan hepi dan hepi aja, KHAN BEDA BANGET
LABA PERORANGAN ITU HEPI BENERAN
TERLILIT UTANG ITU MAMPU$ BENERAN (KEBANGKRUTAN SELEBRITI$)
nah, konsep sederhana LABA PERORANGAN adalah CETAK PEMASUKAN LEBIH BESAR DARIPADA BIKIN PENGELUARAN sebulan
misalnya, GAJI bulanan Rp. 5 Juta, lalu bayar angsuran kredit rumah Rp. 3 Juta, kebutuhan sehari-hari dalam sebulan Rp. 1 juta, dan menikmati hidup Rp. 2 Juta sebulan … ini ARTINYA RUGI PERORANGAN
karena:
gaji = pemasukan = plus Rp. 5 jt
angsuran kredit = PENGELUARAN = minus Rp. 3 Jt
kebutuhan sehari-hari = PENGELUARAN = Rp. 1 jt
menikmati hidup = PENGELUARAN = Rp. 2 Jt
berarti: pemasukan – pengeluaran = 5 – 6 = MINUS 1 JT bo ๐Ÿ˜ฆ
sederhana
kiss : keep it simple STUPID
kalo sebulan minus 1 jt, dan tren tersebut berjalan terus selama 1 taon, maka orang ybs MINUS MINIMALIS 12 JT SETAON
tapi kalo dikalkulasi pake INFLASI, maka BUNGA MAJEMUK KERUGIAN YANG BERLAKU:
misalkan catatan anggaran perorangan seperti contoh di atas, lalu angka inflasi bulanan 0,5%, maka dalam 1 taon, terjadi kerugian secara bunga majemuk sbb:
1 bulan rugi = 1 jt
inflasi bulanan = 0,5%
kerugian total bulanan = 1 Jt + (0,5% X 1.000.000) = 1.005.000
lalu kerugian total tahunan = 12.061.677.81
itu baru setaon, lalu taon berikutnya karena ada EFEK INFLASI, maka PENGELUARAN AKAN MEMBENGKAK,
misalnya:
bayar angsuran = minus Rp. 3 Jt
kebutuhan sehari-hari = minus (Rp. 1 jt + 12X0.5%X 1 Jt)= minus Rp. 1.060.000
menikmati hidup = minus (Rp. 2 Jt + 6%X 2 Jt) = minus Rp. 1.120.000
berarti pengeluaran TAHUN BERIKUTNYA = Rp 3 Jt + Rp. 1.060 K + Rp. 1.120 K = Rp. 6.180 K
itu baru EFEK INFLASI 1 TAON, kalo 15 TAON pengeluaran bulanan non-angsuran, maka kalkulasi secara bunga majemuk menjadi: Rp876,818,418.04

padahal secara BODOH, orang menduga PENGELUARAN dalam 15 TAON ADALAH 180 X Rp. 3 Jt = Rp 540 Jt … berarti ada selisih Rp. 336 Jt atawa minus 62%

itu di luar pengeluaran angsuran kredit rumah bo ๐Ÿ˜›
coba bandingkan dengan strategi investasi dalam 10 taon : INVESTASI THE ONLY BEST WAY TO BEAT THE WORST ENEMY OF HUMAN KIND, INFLATION, for average people dan Reksa Dana LEBE NYAMAN
jadi, LABA PERORANGAN SELAEN MENGATUR PENGELUARAN, TAPI YANG PALING JITU ADALAH DENGAN BERINVESTASI, yaitu MENCETAK PEMASUKAN SEBESAR-BESARNYA ๐Ÿ™‚
… sebenernya kalo KARIER SESEORANG HEBRING BANGET, atawa BISNIS SESEORANG HEBRING BANGET, maka IMBAL HASIL INVESTASI BILA DIKALAHKAN … SEANDAINYA KARIER HEBRING ATAWA BISNIS HEBRING DIBARENGI DENGAN INVESTASI, MAKA DALAM JANGKA PANJANG INFLASI BUKAN MOMOK SAMA SEKALE ๐Ÿ™‚
… menurut sebuah buku kecil, ada 5 cara menjadi KAYA:
1. anak orang kaya, contoh Prince William
2. kawin dengan orang kaya, contoh BCL
3. menang lotere, tapi ini berlaku cuma di luar Indonesia; atawa undian berhadiah di indo
4. PARA SELEB, contoh Oprah Winfrey
5. bisnis atawa INVESTASI: di bidang bisnis BANYAK SEKALE CONTOHnya, di INVESTASI juga banyak, salah satunya WARREN BUFFETT
KESIMPULAN SEDERHANA: LABA PERORANGAN ITU WAJIB, DAN DITENTUKAN OLEH PEMASUKAN SEBESAR-BESARNYA, dan UTANG ADALAH JALAN MENUJU KESENGSARAAN, pasti, apalagi UTANG SELANGIT, pasti TERLILIT UTANG dah ๐Ÿ˜›
…jadi LABA BUKAN HANYA BWAT PERUSAHAAN atau BISNIS, tapi JUGA BERLAKU BWAT PERORANGAN, semua ORANG … beneran, ini BUKAN MITOS ๐Ÿ™‚

faktor vital bwat mempertahankan dan menjaga laba perorangan adalah :
Masih cukup rendahnya tingkat kesadaran berasuransi bagi masyarakat awam membuat penetrasi kepemilikan polis individu di Indonesia masih relatif minim. Dengan penumbuhan kesadaran terhadap pentingnya berasuransi, diyakini tingkat penetrasi tersebut bisa tumbuh mencapai 10%-15%.

“Saat ini penetrasi jumlah polis asuransi, khususnya polis individu, masih sekitar 3% dibanding jumlah penduduk yang ada. Sementara pemegang polisnya masih di level 1%, karena satu nasabah bisa memiliki banyak polis di berbagai perusahaan asuransi,” ujar Ketua Bidang Chanel Distribusi Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Oemin Handayanto di Jakarta, Kamis (28/4).

Dipaparkan Oemin, saat ini penetrasi jumlah polis asuransi khususnya individu masih sangat rendah yakni 3% terhadap jumlah populasi penduduk yang ada, sementara terhadap pemegang polis sendiri masih di level 1% dibanding jumlah penduduk saat ini.

“Karena satu nasabah bisa mempunyai 8-9 polis di berbagai perusahaan asuransi, jadi polisnya banyak tetapi masih dimilki oleh sedikit orang,” tukas Oeman.

Namun dengan sosialisasi yang terus dilakukan AAJI bersama anggotanya, juga pemerintah tentang pentingnya berasuransi, Oemin menilai potensi pasar asuransi yang bisa digarap setidaknya bisa mencapai 10%-15%.

“Perkiraan masyarakat tercover asuransi sebesar 10%-15% karena saat ini setidaknya 50 juta penduduk indonesia terlihat sudah mampu membeli polis asuransi, misalnya sedikitnya dengan premi Rp250 ribu per bulan. Ini dimungkinkan karena saat ini jumlah pengangguran juga sudah mulai turun hingga level 7,6%. Jadi daya beli masyarakt mulai meningkat,” ujar Oemin.

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/04/28/221781/20/2/Penetrasi-Polis-Individu-Bisa-Capai-10-15

Sumber : MEDIA INDONESIA

Cerdas Finansial saat Kas Defisit
Minggu, 1 Mei 2011 10:24 wib

Setiap orang tidak bisa lepas dari uang. Mereka yang kekurangan uang (kas defisit) akan berusaha memperoleh pinjaman dengan bunga yang paling meringankan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya.

Sementara itu, mereka yang mempunyai uang lebih (kas surplus) akan mencari alternatif investasi dengan return yang paling besar. Matematika keuangan mengajarkan bagaimana menjadi cerdas finansial baik sebagai kas defisit maupun sebagai kas surplus.

Untuk menguji apakah Anda cerdas sebagai kas defisit, saya akan menggunakan satu contoh aktual sekaligus sederhana. Misalkan, sebuah bank perkreditan rakyat baru saja menyetujui permohonan kredit Anda sebesar Rp100 juta untuk modal usaha. BPR itu menawarkan Anda dua alternatif pelunasan utang yaitu mengangsur Rp10 juta setiap bulan selama 12 bulan mulai satu bulan lagi atau membayar sekaligus Rp120 juta tepat satu tahun lagi.

Kecuali perbedaan yang satu diangsur dan yang satunya lagi sekaligus, kedua alternatif itu sepintas sama ringan dan beratnya karena besarnya bunga yang harus dibayarkan adalah sama yaitu Rp20 juta dan waktu selesainya juga sama yaitu satu tahun lagi. Alternatif mana yang Anda pilih?

Ternyata lebih banyak orang memilih alternatif pelunasan dengan mengangsur, termasuk mereka yang pernah belajar akuntansi dan keuangan. Ketika ditanyakan alasannya, mereka yang memilih mengangsur mengatakan kalau membayar sekaligus di belakang terasa berat atau khawatir uangnya tidak terkumpul.

Ada juga yang mengatakan mengangsur relatif lebih meringankan dan lebih pasti terbayar karena besar angsuran yang Rp10 juta itu masih dalam batas kemampuan keuangan mereka sedangkan Rp120 juta sekaligus di luar jangkauan mereka dan mereka tidak yakin bisa disiplin dalam menyiapkan uang sebesar itu. Jawaban-jawaban yang masuk akal, bukan?

Masalahnya, dalam ilmu keuangan alasan yang digunakan harus ada dasar hitungannya dan tidak boleh hanya karena lebih suka, terasa lebih ringan, lebih pasti, atau lebih yakin. Bukankah perasaan lebih ringan hanya masalah persepsi karena orang lain mungkin justru merasa lebih berat kalau bulan depan sudah harus mulai mengangsur?

Tergantung Bunga Efektif

Mereka yang cerdas finansial akan mendasarkan keputusan mereka pada hasil hitungan kalkulator atau Excel, bukan pada persepsi subjektif. Kalau ternyata kalkulator atau komputer mengatakan alternatif membayar sekaligus lebih baik karena tingkat bunganya lebih rendah maka alternatif itu yang akan dipilih.

Baiklah, sekarang kita coba menghitung tingkat bunga efektif masing-masing. Untuk pembayaran sekaligus Rp120 juta setahun lagi, tingkat bunga jelas dan pasti yaitu 20 persen.

Tingkat bunga ini adalah tingkat bunga sebenarnya atau tingkat bunga efektif karena utang Rp100 juta bayar Rp120 juta dalam satu tahun sehingga tingkat bunga adalah Rp20 juta/Rp100 juta = 20 persen. Untuk alternatif pelunasan dengan mengangsur, jika dikatakan tingkat bunga sebesar 20 persen p.a. juga benar karena besar jumlah bunga yang dibayarkan pun Rp20 juta dari total utang Rp100 juta.

Masalahnya periode pembayarannya dimulai lebih cepat yaitu bulan depan, kemudian satu bulan berikutnya dan seterusnya. Dari sisi ilmu keuangan, keharusan mulai membayar satu bulan lagi dan setiap bulan hingga lunas mestinya dirasakan lebih memberatkan.

Tingkat bunga 20 persen dalam alternatif angsuran ini disebut tingkat bunga flat. Jika kita menghitung tingkat bunga efektif dari alternatif ini, kita akan memperoleh tingkat bunga yang lebih besar yaitu sekira 2,92 persen per bulan atau 35,1 persen p.a.

Sekarang terbukti kalau yang awalnya dipersepsikan lebih ringan justru malah memberatkan. Angka 2,92 persen per bulan dapat diperoleh dengan menggunakan kalkulator ilmiah dan metode trial and error, kalkulator finansial, atau Excel.

Jika saya diminta untuk menyelesaikan soal di atas, saya akan menggunakan kalkulator finansial atau Excel. Akan tetapi, mahasiswa di kelas matematika keuangan saya juga terbiasa dan umumnya mampu menjawabnya dengan menggunakan kalkulator ilmiah.

Mengangsur Berbunga Tinggi

Pengalaman saya dalam menjelaskan kasus ini dalam beberapa kelas dan presentasi ada saja peserta yang masih tidak dapat menerima logika keuangan ini. Bertentangan dengan pendapat umum, mengangsur utang itu ternyata memberatkan. Mereka belum dapat mengerti mengapa alternatif mengangsur malah lebih tinggi tingkat bunganya alias lebih memberatkan.

Kepada mereka ini, saya balik bertanya, โ€Kalau Bapak menabung sebesar Rp10 juta setiap bulan selama 12 bulan, apakah uang Bapak akan menjadi Rp120 juta atau lebih besar daripada Rp120 juta?โ€ Semua tentunya sepakat kalau jumlah tabungan akan menjadi lebih besar dari Rp120 juta.

Nah, kalau begitu, kata saya selanjutnya, โ€œApakah Bapak tidak sebaiknya mengambil alternatif pelunasan sekaligus dan uang Bapak yang tadinya digunakan untuk melunasi utang sekarang dimasukkan dalam tabungan.

Setelah 12 bulan, tabungan Bapak menjadi lebih besar dari Rp120 juta tapi Bapak cukup mengambil sebesar Rp120 juta untuk melunasi utang Bapak, sisanya masih menjadi milik Bapak.โ€

Dengan kata lain, membayar Rp10 juta setiap bulan kalau dihitung nilainya satu tahun lagi adalah lebih besar dari Rp120 juta, sehingga dua pilihan pelunasan yang ditawarkan di atas bisa disederhanakan menjadi mengangsur Rp10 juta setiap bulan yang nilainya menjadi lebih dari Rp120 juta setahun lagi atau membayar Rp120 juta setahun lagi.

โ€Lebih jelas kan sekarang, mana yang lebih meringankan?โ€ Bapak yang bertanya tadi tampak mengangguk-angguk. Semoga penjelasan saya tidak membuatnya tambah bingung. Pada praktiknya, trik dunia keuangan dan perbankan tidak hanya itu. Jika Anda membeli motor, mobil, komputer, telepon genggam, atau peralatan elektronik, angsuran pertama mesti disetorkan pada hari transaksi, bersamaan dengan uang muka.

Sejatinya, angsuran yang dibayarkan di muka ini adalah uang muka juga sehingga jumlah terutang adalah selisih harga tunai dengan jumlah uang muka. Selain itu, pembeli barang secara kredit juga kerap percaya begitu saja tentang bunga kredit nol persen karena tidak melek finansial apalagi cerdas finansial.

Mereka pun tidak memahami jika untuk pembelian kredit pun, diskon tunai itu relevan. Sangat disayangkan jika logika keuangan tidak diajarkan di sekolah-sekolah keuangan dan akuntansi, baik di tingkat pascasarjana maupun sarjana.

Mestinya, ilmu tentang uang dan trik serta jebakan hitungannya ini diberikan sejak sekolah menengah. Ngomong-ngomong, Anda tadi memilih membayar sekaligus Rp120 juta setahun lagi kan? Jika ya, berarti Anda sudah cerdas finansial sebagai kas defisit. Apakah Anda juga cerdas finansial sebagai kas surplus, nantikan tulisan saya berikutnya di kolom ini.(*)

BUDI FRENSIDY
Penasihat Investasi dan Penulis Buku Matematika Keuangan
(Koran SI/Koran SI/ade)
Bebas dari Cengkeraman Utang
Erlangga Djumena | Rabu, 20 Juli 2011 | 11:10 WIB

KOMPAS.com – Masih ingat 10 pernyataan di artikel saya sebelumnya (Utang, Bermanfaat atau mencelakakan?โ€, Kompas.com, 31 Mei 2011)?, yang jika minimal ada 4 saja yang cocok atau sesuai dengan perilaku Anda saat ini, maka Anda sudah berada dalam masalah keuangan?

Apa sebetulnya masalah keuangan yang dimaksud? Bisa jadi kita sedang tidak sadar bahwa utang semakin menumpuk, karena kehilangan daya beli membuat kita harus melakukan beberapa perilaku dari 10 pernyataan itu.

Atau bahkan Anda sudah masuk lingkaran โ€œsetanโ€ yang namanya terjerat cengkeraman utang? Tentunya tekanan psikologis pun sangat tinggi dirasakan. Tidak jarang kita mendapati berita orang berfikir pendek sampai bunuh diri gara-gara terjerat cengkeraman utang. Ngeri juga hantu blau yang namanya Cengkeraman Utang ini ya?.

Para pembaca yang budiman, terjerat cengkeraman utang bukanlah akhir dari segalanya. Selama kita punya kemauan untuk terbebas dari cengkeraman utang, yakinlah Sang Maha Pencipta akan memberi petunjuk dan kemudahan.

1. Merubah Gaya Hidup Finansial
Kendala terbesar dalam rangka tekad kita terbebas dari cengkeraman utang adalah merubah gaya hidup finansial kita. Gaya hidup finansial adalah dinamisasi hubungan antara pendapatan (income) dan bagaimana kita memanfaatkannya (spending). Perlu disadari bahwa gaya hidup finansial kita selama ini telah membawa kita terjebak dalam cengkeraman utang. Jadi milikilah tekad untuk mengubah gaya hidup. Mulailah dengan mengenali betul, apakah pola belanja kita selama ini lebih kepada memenuhi keinginan kita?

Prihatinlah dulu untuk lebih memenuhi kebutuhan kita ketimbang keinginan kita. Paling tidak sampai kita terbebas dari cengkeraman utang ini kelak. Buatlah rencana perubahan gaya hidup finansial yang fokus pada efisiensi anggaran bulanan. Saya sarankan untuk dibuat secara tertulis.

2. Mengenali Struktur utang saat ini
Untuk mendapatkan solusi masalah secara optimal, syarat utamanya adalah kita harus tahu persis masalah yang dihadapi. Berapa jumlah utang yang masih tertunggak? Berapa beban bulanan yang harus tersedia untuk menyelesaikan utang-utang tersebut. Susunlah secara tertulis dan buat daftar prioritas dari jumlah utang yang terkecil.

3. Identifikasi kemampuan saat ini
Dari hasil tekad merubah gaya hidup finansial, kita tahu berapa kemampuan kita menyisihkan pendapatan kita untuk dialokasikan pada rencana pelunasan beban utang kita. Sehingga kita dapat menghitung berapa jumlah kekurangan dana untuk memenuhi kebutuhan minimum beban bulanannya. Bila sampai langkah ini, ternyata hasilnya kita sudah mampu membayar kebutuhan minimum beban hutang kita. Segera lakukan tindakan sesuai rencana dengan disiplin.Perlu diingat, bahwa menyisihkan pendapatan adalah kegiatan yang harus dilakukan lebih dulu sebelum kita memanfaatkannya lebih lanjut. Bila masih defisit, lanjutkan langkah berikutnya.

4. Negosiasi ulang dengan Pemberi Utang
Selalu ada jalan untuk meringankan beban utang kita melalui pendekatan dengan pihak pemberi pinjaman. Bicarakanlah kesulitan yang kita hadapi dan negosiasikan skema terbaik yang bisa diberikan pihak pemberi utang sebagai solusi, baik dari sisi penjadwalan ulang waktu pelunasan hingga pertimbangan kembali pembebanan bunga. Bila hasil negosiasi ini belum dapat memenuhi kebutuhan rencana pelunasan utang, kita bisa mencoba langkah selanjutnya.

5. Memanfaatkan aset yang ada
Jika kita masih memiliki aset, jalan termudah dalam memanfaatkan aset untuk mengurangi atau melunasi beban utang kita adalah dengan menjualnya. Namun sebagai konsekuensinya, kita kehilangan manfaat dari aset tersebut. Ada baiknya kita mempertimbangkan untuk memanfaatkan aset tersebut sebagai jaminan/agunan untuk utang baru. Sebagai catatan, dana yang bisa dihasilkan harus bisa melunasi seluruh utang kita atau paling tidak sebagian besar (minimal 80 persen dari total beban utang).

Carilah skema utang baru yang memberikan peluang waktu pengembalian yang cukup panjang dan tingkat suku bunga serendah-rendahya untuk mendapatkan jumlah pinjaman yang cukup besar, dengan beban cicilan yang ringan. Langkah ini biasa disebut pengambil alihan utang (Debt Take Over). Bila tidak bisa secara langsung, saat ini ada pihak ketiga yang bisa membantu dan bertindak atas nama kita. Pihak ketiga ini yang akan berhadapan dengan bank (atau institusi finansial lainnya). Tentu saja ada fee yang harus dibayarkan atas jasa pengurusan ini.

6. Mencari pinjaman โ€œLUNAKโ€
Mengingat masalah finansial cukup sensitif dan bersifat pribadi, langkah ini bisa dijadikan alternative terakhir. Pinjaman โ€œLUNAKโ€ yang dimaksud adalah dengan meminjam sejumlah uang kepada keluarga atau kerabat terdekat kita. Ajukan jangka waktu yang cukup panjang dan cicilan tanpa bunga. Bicara apa adanya kesulitan yang dihadapi. Berkomitmen penuh untuk menepati pelunasan yang kita janjikan. Mohon diingat, tali silaturahmi jauh lebih penting daripada uang.

7. Mempertahankan dan Mengembangkan Gaya Hidup Finansial yang Baru
Kita jangan cepat puas pada saat sasaran kita untuk bebas dari cengkeraman utang tercapai. (kalau sudah mampu membayar cicilan utang tepat waktu berarti kita sudah bebas dari cengkeraman bukan?). Lanjutkan gaya hidup yang sudah lebih baik ini untuk mencapai sasaran-sasaran finansial kita berikutnya. Tingkatkanlah nilai yang bisa disisihkan sesuai kemampuan. Kita akan terkagum-kagum akan kekuatan menyisihkan pendapatan diawal ini. Boleh jadi di suatu saat kelak, kita terkaget-kaget mendapati kemampuan finansial yang kita miliki.

Masih ada potensi untuk mengembangkan kemampuan finansial yang kita miliki, yakni dengan menggali lagi kemampuan kita untuk mendapatkan pendapatan lebih (pendapatan tambahan). Teruslah menggali potensi ini sesuai minat yang kita miliki. Kita bukan hanya akan terbebas dari cengkeraman utang, bahkan akan mampu mengejar cita-cita finansial kita. Semoga bermanfaat. (Budi Cahyadi, MM, CFPยฎ/Financial Planner, TGRM Financial Planning Services)

Iklan

About yangvirtualyangnyata

jo adalah anak manusia yang tersesat dalam rimba penuh sesak virtualitas dan kenyataan == saya mencari sang virtual dan sang nyata, masih mencari tru$

Diskusi

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: 2011: ihsg 5000, fingers crossed « Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES - April 28, 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 74 pengikut lainnya

Statistik Kunjungan

  • 24,628 hits

Posting gw

Kalender Tahun Ini

April 2011
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Kategori

neh gw ngetwit youw

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

%d blogger menyukai ini: