//
saat ini anda MEMBACA
yang faktual

inflasi, INVESTASI, dan saham (3)

berikut adalah UPDATE (catatan perubahan) posting gw soal INFLASI, INVESTASI dan SAHAM (INFLASI, INVESTASI, dan SAHAM)
fyi: per tgl 15 Juli 2011, harga penutupan asii = Rp.70.400,- dan ihsg pada 4023.20, dan harga beras Cianjur Slyp per kg = Rp.9000,- (harga beras di situs BULOG)


tren inflasi_ihsg_asii 1997_2011

Matematika Investasi
Minggu, 7 Agustus 2011 11:17 wib

Dalam belasan tahun terakhir, income per kapita Indonesia telah naik tiga kali lipat dari hanya sekira USD1.000 menjadi USD3.000 akhir tahun lalu. Tetapi, persentase orang miskin relatif tidak berubah.

Ini persis apa yang dikatakan PBB di akhir tahun 1970-an, “The rich get richer and the poor get poorer” untuk menjelaskan terjadinya ketimpangan ekonomi antara negara maju dan negara berkembang. Sama seperti negara, masyarakat pun ada yang kaya dan ada yang miskin.

Ungkapan, “Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin”ini kemudian dipelesetkan menjadi, “The rich get richer and the poor get children” untuk mengolok-olok negara berkembang yang penduduknya bertambah sangat pesat di tengah-tengah kemiskinan yang menderanya.

Terakhir, PBB menggantinya lagi dengan “The rich get faster richer and the poor get faster poorer”. Apakah perbedaan antara the rich get richer dan the rich get faster richer? Apa pesan utama kata faster di atas? Untuk menjawabnya, kita memerlukan matematika tepatnya kalkulus dasar yaitu konsep turunan pertama dan kedua.

Ungkapan “yang kaya semakin kaya” mengandung arti turunan pertama fungsi kekayaan dari yang kaya adalah positif tetapi tidak menyebutkan apa-apa tentang turunan kedua. Turunan kedua bisa positif, negatif, atau nol. Sedangkan dalam ungkapan “yang kaya semakin lebih cepat kaya”, baik turunan pertama maupun turunan kedua positif.

ungkapan “yang kaya semakin lebih cepat kaya”, baik turunan pertama maupun turunan kedua positif.

Anda jadi tambah bingung? Jangan khawatir, saya akan membantu pemahaman Anda dengan beberapa contoh. Selama kekayaan seseorang meningkat dari waktu ke waktu, turunan pertama kekayaannya adalah positif.

Contohnya, fungsi kekayaan tahunan yang bertumbuh seperti deret Rp100 juta, Rp120 juta, Rp140 juta, Rp160 juta, dan seterusnya mempunyai turunan pertama positif. Sementara itu, turunan kedua dalam contoh di atas adalah nol karena kenaikan kekayaan, dan bukan nilai kekayaannya, tidak bertambah dari tahun ke tahun.

100
120
140
160
dst
120-100 = 20
140-120 = 20
20-20 = 0

Maksudnya adalah, tahun pertama kenaikan kekayaan sebesar Rp20 juta, tahun kedua dan ketiga besar kenaikan juga sama sehingga fungsi kenaikan kekayaan adalah Rp20 juta, Rp20 juta, dan Rp20 juta. Contoh turunan pertama positif dan turunan kedua negatif adalah nilai kekayaan yang deretnya Rp100 juta, Rp120 juta, Rp137 juta, dan Rp150 juta.

100
120
137
150
120-100= 20
137-120 = 17
150-137 = 13
17-20 = -3
13-17 = -4

Nilai kekayaan memang terus naik tetapi besarnya kenaikan adalah negatif karena dari Rp20 juta turun menjadi Rp17 juta kemudian Rp13 juta. Sedangkan, contoh fungsi kekayaan yang turunan pertama dan keduanya positif adalah Rp100 juta, Rp120 juta, Rp145 juta, Rp180 juta.

Return Nominal dan Pertumbuhan Return

Lalu apa hubungannya turunan pertama dan kedua dengan investasi? Ada seabrek aplikasi konsep ini dalam investasi. Menghitung risiko obligasi, mengukur sikap investor terhadap risiko (netral, suka, atau takut) misalnya, menggunakan konsep ini.

Aplikasi yang utama, menurut saya, adalah return investasi secara nominal adalah turunan pertama fungsi nilai investasi (terhadap waktu) sedangkan pertumbuhan return nominal merupakan turunan keduanya. Memahami hubungan ini, kita dapat merumuskan strategi berinvestasi yang tepat.

Pertama, carilah aset yang return nominalnya positif (necessary condition) dan hindari aset yang return-nya negatif. Return nominal positif (negatif) terjadi jika turunan pertama fungsi harga adalah positif (negatif). Kedua, carilah aset yang juga mampu memberikan pertumbuhan return positif (sufficient condition).

syarat wajib: investasi yang memberi imbal hasil POSITIF
syarat memuaskan: investasi yang memberi pertumbuhan imbal hasil positif yang POSITIF

Pertumbuhan return positif akan ada jika turunan kedua bernilai positif. Tidak sulit mencari alternatif investasi yang mampu memberikan return nominal positif. Misalkan, sebuah saham mempunyai fungsi harga dalam beberapa tahun ke depan sebagai berikut Rp1.000, Rp1.200, Rp1.400, Rp1.600. Return nominal saham itu adalah positif yaitu Rp200 per tahun tetapi pertumbuhan return adalah nol.

Saham ini memenuhi necessary condition tetapi tidak memenuhi sufficient condition karena pertumbuhan return-nya nol secara nominal. Secara relatif (persentase), turunan keduanya bahkan negatif.

Saham bagus dan layak koleksi, menurut saya, adalah saham yang mampu memberikan return tahunan positif dan pertumbuhan return (turunan kedua), secara nominal dan relatif, yang juga positif. Contoh saham seperti ini adalah saham yang fungsi harganya Rp1.000, Rp1.200, Rp1.600, Rp2.500, dan seterusnya.

harga saham yang NECESSARY dan SUFFICIENT:
1000
1200
1600
2500

Investasi Tanah

Siapa pun sepakat harga tanah di Indonesia selalu naik atau tidak pernah turun. Ini berarti turunan pertama harga tanah adalah positif. Apakah ini berarti investasi tanah adalah yang paling menguntungkan? Belum tentu. Mengabaikan masalah likuiditas, PPN, BPHTB, dan PPh, pertumbuhan return tanah secara relatif bisa saja negatif seperti contoh kita di atas. Jika demikian, investasi tanah tidak begitu menguntungkan.

Strategi yang tepat untuk ini adalah investasilah dalam tanah dan terus memegangnya selama pertumbuhan return-nya tetap positif, dan siap-siap untuk menjualnya saat pertumbuhannya menjadi negatif, walaupun harganya tetap naik. Aturan gampangnya adalah, jual tanah Anda atau investasi lainnya jika return tahunan yang diberikan hanya sebesar inflasi atau lebih rendah.

Alihkan hasil penjualan itu ke dalam investasi lain yang menurut analisis Anda masih dapat memberikan pertumbuhan return positif. Dalam praktik, tidak mudah untuk menerapkan strategi ini karena siapa pun tidak bisa memastikan harga saham atau harga tanah atau harga aset lainnya beberapa tahun ke depan.

Kita hanya bisa menduga-duga. Dalam kondisi normal, estimasi itu mungkin dapat mendekati. Sebaliknya, prediksi hampir pasti meleset saat pasar bergerak tidak rasional seperti periode 1997-1998 dan 2008.

BUDI FRENSIDY
Penasihat Investasi dan Penulis Buku Matematika Keuangan
(Koran SI/Koran SI/ade)
Ayo, Berburu Dividen!
Kamis, 21 Januari 2010
Oleh : Eva Martha Rahayu
swa
Sudah menjadi tradisi, beberapa emiten rutin membagi dividen tiap tahun. Namun, mengapa investor justru memprioritaskan capital gain ketimbang dividen dalam memilih saham?

Siang itu terjadi perdebatan seru antara dua investor di sebuah galeri perusahaan sekuritas di Kawasan Sentra Bisnis Sudirman. Rudy Alfiansyah, investor individu, mengatakan ke rekannya bahwa saat ini yang dibutuhkan investor saham adalah capital gain. Alasannya, nilai capital gain lebih besar lantaran peluangnya terjadi berkali-kali. Sementara dividen cuma dibayar sekali dalam setahun oleh perusahaan jika emiten untung.

Seperti tak mau kalah, Alfin Wijaya ngotot bahwa dividen jauh lebih penting. Alasannya, dengan adanya dividen, maka investor mendapatkan income rutin tahunan yang bisa diandalkan. ”Apalagi emiten yang komit bagi dividen tergolong memiliki arus kas bagus. Sebab, ada keuntungan yang disisihkan untuk pemegang saham dan prospeknya lebih cemerlang,” kata Alfin, investor asal Surabaya itu, dengan nada menggurui.

Jika Anda berada dalam posisi investor, Anda sepakat dengan Rudy ataukah Alfin? Sebenarnya, tidak ada yang salah. Baik Alfin maupun Rudy, pilihan dan argumentasinya keduanya benar. Itu semua tergantung pada Anda sendiri termasuk tipikal investor jangka pendek atau panjang. Umumnya investor short term lebih suka spekulatif dengan aksi ambil untung dari kenaikan harga saham sesaat. Sebaliknya, investor yang berorientasi jangka panjang bertujuan meraih dividen.

“Investor butuh keduanya: capital gain dan dividen,” ujar Aidil Akbar Madjid tandas. Pengamat pasar modal itu mengungkapkan, pada prinsipnya investor saham memiliki keuntungan dobel, yaitu capital gain dan saham.

Bagi investor yang berburu dividen, biasanya Mei-Juni adalah masa-masa sibuk menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Maklum, ketika RUPS itulah diputuskan perusahaan bagi dividen atau tidak, berapa besarnya, dan kapan jadwalnya.

Jadwal pembagian dividen penting bagi investor. Pasalnya, jadwal pembagian dividen menimbulkan efek terhadap harga saham di bursa. Ada istilah cum date dan ada ex date. Cum date berarti batas terakhir pemilikan bagi investor yang sahamnya berhak mendapatkan dividen. Sementara, ex date merupakan batas kepemilikan saham yang tidak berhak atas perolehan dividen.

Contohnya, PT Maju Terus mengumumkan bayar dividen Rp 500 dengan cum date 29 April 2009 dan ex date 30 April 2009. Artinya, investor yang tercatat sebagai pemegang saham hingga 29 April berhak atas dividen Rp 500. Sebaliknya, ex date 30 April merupakan jadwal bagi investor yang tidak berhak lagi atas dividen. Dengan demikian, investor yang membeli saham PT Maju Terus tanggal 30 April tidak berhak atas dividen. Ketika ex date ini, biasanya harga saham akan turun dan secara teoretis mestinya penurunan itu proporsional dengan nilai dividen yang dibagikan. Ini merupakan efek pembagian dividen.

Namun, menurut Akbar, penurunan itu tidak berlangsung lama. Alasannya, secara berangsur saham itu akan melakukan adjustment sesuai dengan harga pasar. Nah, pada gilirannya nanti harga saham-saham itu kembali naik. “Di sini ada dua kondisi yang berbeda,” ujarnya. Artinya, saat emiten akan mengumumkan bagi dividen, biasanya hal itu direspons positif oleh investor dengan memburu saham, sehingga harga saham itu terkatrol. Namun, ketika dividen sudah dibagikan, harga saham kembali turun lantaran arus kas perusahaan berkurang. Akan tetapi, mesti diingat, pada dasarnya perusahaan yang bisa bagi dividen memiliki fundamental bagus.

Adakah korelasi antara rutin bagi dividen dan kenaikan harga saham? “Nah, itu sulitnya. Kalaupun saham itu naik, kenaikannya loncat-loncat. Artinya, korelasi tidak selalu positif, selalu ada delay panjang, bisa berhari hari, berminggu-minggu, bahkan tidak diperdagangkan sama sekali,” ujar Poltak Hotradero, Kepala Riset Recapital Securities. Makanya, ada stigma bahwa perusahaan yang kerap bagi dividen sahamnya cenderung tidak likuid.

Poltak mafhum mengapa saham yang langganan bayar dividen kurang likuiditasnya. Pasalnya, pemegang saham itu tidak mau menjual barangnya. Padahal, di luar sana masih banyak investor yang menanti. Bila kondisi ini berlanjut terus, akibatnya harga saham itu makin membubung tinggi, sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran pasar. Sebagai gambaran, kini kisaraan harga saham Multi Bintang Indonesia Rp 180 ribu, Bristol Myrs Squibb Indonesia Rp 136 ribu, Merck Rp 80 ribu, Delta Djakarta Rp 62 ribu, dan Astra International Rp 35.400.

Lebih rincinya, nama-nama emiten Bursa Efek Indonesia yang rajin bagi dividen hasil riset SWA, antara lain, Muti Bintang Indonesia (MBI), Bristol-Myers Squibb Indonesia (MBSI), Merck, Sepatu Bata, Delta Djakarta, Timah, Semen Gresik, Astra International, Adira Dinamika Multifinance, Pool Advista Indonesia, Telkom, Goodyear Indonesia, Astra Agro Lestari, Unilever Indonesia, United Tractors, Aneka Tambang, Samudera Indonesia, BRI dan Bank Danamon. Hebatnya, mereka konsisten bagi dividen secara berturut-turut dari 2006 hingga 2008. Bahkan, tahun 2009 sebagian besar dari mereka juga membayarkan kewajiban dividen tersebut. Tahun 2009 (pembagian dividen berdasarkan kinerja keuangan 2008), dari ke-20 emiten tersebut, lima emiten yang dividennya terbesar adalah MBI (Rp 15.000), BMSI (Rp 8.000), Merck (Rp 5.350), Timah (Rp 3.500) dan Astra (Rp 870) — lihat Tabel.

Dilihat dari sektornya, mayoritas emiten yang getol bagi dividen berasal dari sektor konsumsi dan farmasi. Alasannya, sebagaimana dituturkan Poltak, kedua sektor itu lebih bergairah mengingat penggerak ekonomi di Indonesia itu 70% terkait dengan konsumsi.

Besar-kecilnya dividen yang dibayarkan emiten tergantung pada hasil keputusan RUPS. Biasanya porsi dividen berkisar 20%-50% dari pencapaian laba bersih. Untuk BUMN, tradisi bagi dividen sekitar 50%, kecuali ada permintaan khusus dari pemegang saham utama (pemerintah). Nah, investor saham HM Sampoerna lebih girang lantaran produsen rokok itu membagikan dividen 67,5% dari laba bersih tahun 2008 sebesar Rp 3,89 triliun atau dividen Rp 600/saham.

Hanya saja, emiten, meski untung, sering tidak bayar dividen. Mengapa? Bermacam-macam alasannya. Ada yang berdalih keuntungan perusahaan dipakai untuk memperkuat struktur permodalan, untuk ekspansi, atau alasan lain demi masa depan perusahaan.

Sejatinya, pembagian dividen memiliki dua makna. Pertama, kebijakan pembagian dividen menunjukkan bahwa emiten memiliki performa oke. Artinya, arus kas perusahaan cukup stabil dan baik, tidak terganggu dengan rencana ekspansi yang akan dilakukan perusahaan. Kedua,
pembagian dividen menunjukkan bahwa kondisi keuangan perusahaan untuk masa mendatang tidak perlu diragukan. Investor atau pemegang saham akan merasa aman dengan arus kas perusahaan karena terbukti mampu bayar dividen.

Anehnya, kendati dividen menjanjikan keuntungan pasti, ternyata lebih banyak investor yang memprioritaskan capital gain. Mengapa? Poltak tahu jawabannya. Dia mengatakan, investor Indonesia umumnya berorientasi capital gain. Sebab, di Indonesia capital gain tidak kena pajak, sedangkan dividen ada pungutan pajak 10%. Ini berbeda dari Amerika Serikat yang menarik pajak untuk capital gain.

Apalagi, jika diakumulasikan setahun, nilai capital gain lebih gede ketimbang dividen. Poltak memperkirakan, untuk saham blue chips, dividen sebesar 2%-3% per tahun. Adapun capital gain saham bervariasi, ada yang 50%, 100%, bahkan 300%. Sepanjang 2009, kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 86% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, capital gain yang dicapai transaksi sebuah saham bervariasi. Contoh, dalam setahun saham Bumi Resources loncat-loncat harganya dari Rp 8.000 menjadi Rp 400 dan sekarang menjadi Rp 2.000.

Boleh jadi, analisis Poltak tidak meleset. Buktinya Herris B. Simanjuntak lebih melirik capital gain. “Pertimbangan utama saya pilih saham adalah capital gain. Bahwa kemudian dapat dividen, ya alhamdulillah,” ucap mantan Dirut PT Asuransi Jiwasraya itu. Investor perorangan ini rata-rata membeli saham LQ45. Lalu, disaring lagi, yaitu saham-saham yang aktif diperdagangkan dan kapitalisasinya besar. Contoh, saham Telkom, Aneka Tambang dan Bumi Resources. Berdasarkan pengalamannya, rata-rata dividen yang diperoleh 2%-3% setahun, sedangkan capital gain yang dikantonginya tahun 2008 bisa lebih dari 100%. “Tapi, kini saham-saham saya masih banyak yang nyangkut. Soalnya dulu dibeli di harga tinggi, tapi hingga kini harganya tak kunjung naik,” katanya mengeluh.

Suara investor institusi seirama dengan pemodal ritel. Simak saja pengakuan Ali Gufron. Dirut Dana Pensiun Jasa Marga itu menuturkan, pihaknya mengutamakan capital gain. Alasannya, nilai dividen kecil. Perbandingannya dicontohkan saham Telkom: dividen Rp 297, tetapi harga saham Rp 9.000. “Dibandingkan bunga deposito, kan masih gede deposito,” Ali menerangkan. Namun, dia tidak menampik pernah menikmati dividen dari Telkom, BRI, Aneka Tambang dan Grup Astra. “Rata-rata kinerja Grup Astra bagus, yang agak memble cuma Astra Graphia,” ujarnya. Asal tahu saja, kini dana kelolaan dana pensiun Jasa Marga Rp 400 miliar. Dari jumlah itu, porsi untuk investasi saham kurang dari 10%. Sisanya, obligasi 70%-80%, serta deposito plus reksa dana sekitar 10%.

Terlepas dari pilih dividen atau capital gain, yang jelas ke depan saham-saham yang rutin bayar dividen tidak selalu primadona. Akbar mengingatkan, dilihat dulu sektornya, jadi jangan asal tubruk. Dia memperkirakan tahun 2010 ini sektor pertambangan/energi, telekomunikasi dan infrastruktur masih bagus. Untuk jangka panjang, saham-saham farmasi juga oke. Namun, hati-hati untuk saham perbankan. Alasannya, kalau suku bunga naik, kredit macet timbul, keuntungan bank turun, maka harga saham juga turun. “Pokoknya kalau suku bunga naik, properti, perbankan dan otomotif akan kena imbasnya,” kata Akbar menegaskan.

Riset: Dian Solihati

Iklan

About yangvirtualyangnyata

jo adalah anak manusia yang tersesat dalam rimba penuh sesak virtualitas dan kenyataan == saya mencari sang virtual dan sang nyata, masih mencari tru$

Diskusi

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: inves saham jangka panjang BANGET « Jl maenSAHAM/Stock Trading St - November 15, 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya

Statistik Kunjungan

  • 24,998 hits

Posting gw

Kalender Tahun Ini

Juli 2011
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Kategori

neh gw ngetwit youw

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

%d blogger menyukai ini: