//
saat ini anda MEMBACA
yang faktual

terperangkap SAHAM GORENGAN, no WAY lah

merah putih

Jakarta detik – Pasar modal merupakan sebuah wadah bagi investor untuk berinvestasi di instrumen saham. Seiring perkembangan zaman, perdagangan saham pun semakin liar, ada pula pihak-pihak serakah mencari keuntungan dengan berbagai cara yang biasa disebut goreng saham.

Adakah praktik goreng saham? Siapa pelakunya? Bagaimana caranya?

Menurut praktisi pasar modal, inspirator investasi serta penulis buku Bandarmology, Ryan Filbert, praktik goreng saham itu sudah pasti ada, namun sulit untuk dibuktikan siapa pelakunya.

Untuk mengetahui sebuah saham digoreng atau tidak sebenarnya cukup mudah kata Ryan, cukup dengan melihat kinerja keuangan perusahaan dan bandingkan dengan harga sahaam saat ini. Jika kinerjanya biasa-biasa saja atau bahkan buruk, tapi sahamnya terus menguat itu sudah pasti digoreng.

“Harga sahamnya bagus, tapi laporan keuangannya jelek, tiba-tiba mau terbitkan MTN, itu tanda tanya besar. Itu rawan,” tuturnya kepada detikFinance, Kamis (10/8/2017).

Biasanya praktik goreng saham juga lebih mudah dilakukan pada saham-saham kecil. Sebab oknum goreng saham bisa leluasa jika tidak ada pemegang saham lain yang memiliki modal lebih besar.

Nah untuk saham seperti itu biasanya terjadi untuk saham-saham yang biasanya tidak bergerak atau tidur tiba-tiba bergerak seperti ‘zombie’.

Untuk target dari praktik goreng saham ini adalah investor-investor kecil yang masih awam. Mereka hanya melihat saham yang bergerak tiba-tiba tanpa melihat fundamental perusahaannya.

Setelah terkumpul mangsanya dan harga saham melambung tinggi, oknum goreng saham langsung banting dengan melakukan aksi jual dalam volume yang besar. Alhasil saham jatuh kembali dan banyak investor yang jadi korban.

Trader nyangkut biasanya bukan saham gede tapi pasti saham kecil. Karena makan rumor tidak lihat laporan keuangannya,” imbuhnya.

Nah apakah oknum goreng saham pasti bandar? Menurut Ryan bukan. Bandar sendiri diartikan pihak yang memiliki dana yang besar sebagai market maker. Bandar yang memegang sebuah saham dalam jumlah besar tentu memiliki kepentingan untuk memperbaiki portofolionya.

“Sah-sah saja jika dia jaga harga sahamnya. Karena punya kepentingan,” imbuhnya.

Menurut Ryan oknum goreng saham adalah ‘Bandit’. Bandar dan bandit memiliki kesamaan yakni memiliki modal besar. Namun perbedaannya dipraktiknya, bandit mencari keuntungan dengan merugikan banyak orang.

“Jadi kalau punya modal tinggal pilih mau jadi malaikat atau setan. Bandar dibutuhkan sebagai market maker, nah yang repot bandit,” tegasnya. (ang/ang)

cross

Jakarta – Bandar seolah jadi bagian yang tidak bisa lepas dari sebuah pasar. Di mana ada pasar di situ pasti ada bandar yang mempunyai kekuatan untuk menguasai pasar.

Tidak hanya di pasar tradisional, di pasar modal pun ada bandar. Pihak-pihak yang memiliki modal besar biasanya dianggap sebagai bandar.

Dengan kekuatan modal yang besar maka bandar berkemampuan untuk menaikkan ataupun menurunkan harga saham sesuka hati. Oleh karena itu terkadang bandar disenangi tapi kadang juga ditakuti.

Menurut praktisi pasar modal, inspirator investasi serta penulis buku Bandarmology, Ryan Filbert, sosok bandar di pasar modal bukan suatu hal yang negatif. Bahkan menurutnya bandar sangat dibutuhkan bagi pasar modal sebagai market maker.

“Kalau enggak ada bandar malah repot. Ibaratnya bagaimana caranya kita sepakat air kemasan harganya Rp 3.000? Karena ada yang mengatur,” tuturnya kepada detikFinance, Jumat (11/8/2017).

Keberadaan bandar, kata Ryan juga diperlukan untuk meningkatkan volume transaksi sebuah saham. Sehingga pasar semakin likuid. Bayangkan saja jika ada batasan modal bagi pelaku pasar, maka nilai transaksi juga akan terbatas.

“Masalah dia bandar ada kepentingan untuk menjaga portofolio investasinya, ya pasti dia punya kepentingan. Sah-sah saja dong dia jaga nilai sahamnya,” imbuhnya.

Nah jika melihat predikat bandar adalah pihak yang memiliki modal besar dan mempunyai kepentingan menjaga portofolio investasi, tentu yang paling cocok disebut bandar menurutnya adalah Manajer Investasi (MI).

MI berkepentingan untuk menjaga produk-produk reksa dananya agar tetap memiliki return yang tinggi. Meskipun tidak melulu MI yang dianggap pasar sebagai bandar.

Ryan mengatakan, yang terpenting bagaimana kita bisa mempelajari pola investasi dari bandar. Untuk itulah dia mengeluarkan buku Bandarmology.

Bandarmology sendiri merupakan analisa pergerakan saham berdasarkan pola-pola kebiasaan transaksi para bandar. Berbeda dengan analisa teknikal yang menggunakan perhitungan dari volume dan harga, Bandarmology menggunakan distribusi volume saham untuk menghitung kebiasaan transaksi dari bandar.

Sayangnya menggunakan metode analisa ini tidak gampang. Harus dikumpulkan data volume dari saham-saham di jajaran top buy dan top sell secara harian. Data tersebut juga harus diambil dari beberapa broker agar lebih akurat.

“Setelah itu dicari rata-ratanya, dengan begitu nanti kelihatan polanya si bandar. Tapi itu susah, bayangkan ada 500 lebih saham, dan itu datanya harus diambil setiap hari. Karena itu pakai sistem,” terang Ryan.

Sama seperti metode analisa lain, Bandarmology tentu tidak 100% akurat. Namun minimal kebiasaan transaksi bandar bisa terlihat.

“Ibaratnya kenapa semua belok kanan, oh karena kiri tutup. Tapi kalau pakai statistik berdasarkan penelitian berapa kali belok kanan. Itu berbeda. Jadi lebih logis. Sama juga seperti mengikuti arus atau mendeteksi arus,” sambung Ryan.

Jika bandar menggunakan kekuatannya untuk menjaga harga saham, menurut Ryan tentu tidak masalah apalagi bisa diprediksi. Namun yang menjadi masalah, jika sang bandar berubah menjadi ‘bandit’. Dengan kekuatan modal yang besar tentu tidak menutup kemungkinan bandar melakukan aksi goreng saham.

“Bandar itu market maker, bandar itu bagus, yang repot itu bandit. Bandit itu yang goreng saham. Naikkan harga habis itu disikat turun, disangkutin modal orang, reponya gagal bayar, itu bandit,” tukasnya.

(ang/ang)

 

Jakarta detik- Pasar modal sejatinya merupakan wadah untuk berinvestasi di pasar modal. Namun pada kenyataannya banyak para pemain yang melakukan berbagai cara untuk meraup keuntungan lebih besar, salah satunya dengan menggoreng saham.

Goreng saham sama saja dengan praktik perdagangan semu. Hal itu tentu dilarang dan diatur dalam Undang-Undang Pasar Modal. Namun aksi goreng saham kenyataannya sulit untuk dibuktikan. Lalu bagaimana caranya goreng saham dilakukan?

Menurut praktisi pasar modal, inspirator investasi, serta penulis buku Bandarmology, Ryan Filbert, untuk menggoreng saham harus dilakukan beberapa orang atau berkomplot dan memiliki beberapa rekening di lebih dari satu sekuritas.

Kenapa disebut komplotan, kata Ryan, karena butuh lebih dari satu orang untuk menjalankan aksinya. Selain bandar sang aktor utama dan pemilik dana, harus ada juga orang-orang yang akan melakukan perdagangan semu dari beberapa akun, serta aksi-aksi lainnya seperti penyebaran isu.

“Pasti pakai beberapa broker, pakai beberapa akun dan beberapa orang. Kerja begitu kan enggak satu orang. Termasuk untuk menyebar isu. Itu jadi satu bagian,” ujarnya kepada detikFinance, Jumat (11/8/2017).

Komplotan ini juga berisi pihak-pihak yang biasanya memberikan rekomendasi saham. Awalnya mereka memberikan rekomendasi jual terhadap saham yang akan digoreng. Hal itu agar harga sahamnya turun dan bisa ditampung oleh penggoreng saham.

“Misalnya sahamnya selalu direkomendasikan sell, tapi ada di salah satu broker akumulasi beli terus. Dia bilang jangan beli lagi jelek, eh dia beli sendiri. Itu praktik bandit,” terang Ryan.

Setelah memiliki saham dengan volume yang cukup besar, komplotan ini mulai melakukan transaksi semu dengan beberapa akun yang berbeda dari beberapa broker. Dengan begitu seolah-olah saham yang biasanya tidur seakan tiba-tiba bergerak. Hal itu agar menarik pelaku pasar lainnya.

Untuk lebih meyakinkan para investor yang menjadi mangsanya, komplotan penggoreng saham biasanya menyebar isu-isu positif terhadap emiten yang sahamnya tengah digoreng.

Nah, penyebaran isu-isu ini dilakukan secara sporadis melalui grup-grup sosial media yang berisi investor saham. Bahkan menurut Ryan terkadang juga melibatkan media untuk menyebarkan isu tersebut.

“Kalau penyebaran isu bisa pakai perkumpulan investor, WhatsApp grup, media juga. Saya juga kadang suka dapat info. Kalau untuk penyebaran isu banyak cara,” tuturnya.

Ketika para pelaku pasar mulai termakan isu tersebut, mereka akhirnya mulai masuk ke saham yang sedang digoreng. Di saat itu sahamnya mulai bergerak menguat secara drastis. Gerbong-gerbong investor yang menjadi mangsa pun mulai penuh.

Ketika saham yang digoreng sudah menyentuh target level penguatan yang dituju, barulah sang penggoreng saham melepasnya dengan jumlah yang besar. Alhasil sahamnya kembali ambruk ke level yang seharusnya. Di situlah banyak investor yang menjadi korban karena nyangkut di saham tersebut.

Namun kata Ryan, banyak skenario yang bisa dilakukan untuk menggoreng saham, yang terpenting harus memiliki modal agar mampu menggerakan saham. (wdl/wdl)

tax scares

Jakarta detik – Saham gorengan memang sangat menggiurkan. Jika masuk dan keluar di saat yang tepat, kita bisa mengambil keuntungan yang besar. Tentu harus dengan strategi yang benar agar tidak menjadi mangsa sang bandar pengoreng saham.

Layaknya makanan gorengan yang mengandung kolesterol, saham gorengan bisa memberikan penyakit buat kita. Tapi jika dikonsumsi dengan benar dengan kadar yang tepat tidak ada salahnya menikmatinya. Untuk menikmati saham gorengan tentu harus mengetahui dulu ciri-ciri saham yang sedang digoreng.

Menurut praktisi pasar modal, inspirator investasi, serta penulis buku Bandarmology, Ryan Filbert, cara mudah melihat saham sedang digoreng atau tidak dengan melihat kinerja keuangan perusahaan dan bandingkan dengan harga saham saat ini. Jika kinerjanya biasa-biasa saja atau bahkan buruk, tapi sahamnya terus menguat itu sudah pasti digoreng.

“Harga sahamnya bagus, tapi laporan keuangannya jelek, tiba-tiba mau nerbitin MTN (Medium Term Notes), itu tanda tanya besar. Itu rawan,” tuturnya kepada detikFinance, Kamis (10/8/2017).

Ada berbagai variabel untuk melihat nilai kewajaran sebuah saham dari laporan keuangannya. Seperti melihat dari indikator Price Earning Ratio (PER) dengan harga saham dibagi laba persaham, lalu bandingkan dengan emiten di industri yang sama.

Lalu bisa juga dengan melihat Price to Book Value (PBV), harga saham dibagi nilai buku per saham, lalu dibandingkan juga dengan emiten sejenis. Jika PER dan PBV-nya lebih besar dari emiten lainnya terindikasi digoreng.

Selain itu, kata Ryan, biasanya saham-saham yang digoreng merupakan saham kecil dan tidak likuid. Hal itu agar tidak ada oknum pengoreng saham bisa leluasa melancarkan praktiknya.

“Kalau ada pemain lain yang punya lebih besar ya susah,” imbuhnya.

Selain itu, saham-saham yang sedang digoreng biasanya dibalut juga dengan rumor yang belum tentu kebenarnya. Rumor dihembuskan agar investor ritel yang menjadi mangsa semakin percaya untuk membeli saham tersebut.

Kendati begitu menurut Ryan, sebenarnya sangat sulit untuk mengetahui sampai level mana kenaikan saham yang sedang digoreng. Tidak ada cara yang pasti untuk menganalisanya.

“Susah buat ditentukan. Paling pakai hitungan technical fibonacci. Mengandai-andai pakai teori matematika dalam sebuah perdagangan yang aneh. Karena pasar itu invisible hand. Kita enggak tahu hatinya si bandit,” tukasnya. (wdl/wdl)

neh pengalaman nyata gw keluar dari perangkap saham gorengan mlpl dan berlaba tinggi: laba tinggi dari mlpl
LABA lumayan dari gorengan pyfa
… kebanyakan mitos soal saham gorengan adalah:
– tren naek sesaat doank
– hanya untuk menguntungkan investor institusi/raksasi
– kalo uda naek pasti turun
– kalo uda turun pasti turun terus
– laba hanya diperoleh pada saat tren naek saja
well, gw berbeda pendapat:
– terbukti pada beberapa saham, tren naek melesat bisa berulang-ulang
– ternyata investor ritel juga bisa untung
– kalo uda naek pasti TURUN NAEK juga
– kalo uda turun PASTI TURUN NAEK JUGA
– laba bisa diperoleh SAAT AVG LEBE MURAH, dan REBOUND TERJADI (fldtt: KABUUUUUuuuRRrr) … contoh saham G yang berhasil gw turunkan avg-nya dengan cara FLDTT : sstm dari avg@280 turun menjadi @252
… saham microsoft bukan gorengan, tapi juga bisa mempunyai pola sesaat yang MENCEKAM:

Capture.jpg (739×531)
… coba liat rekam jejak saham2 gorengan ini :

http://chart.finance.yahoo.com/z?s=MFIN.JK&t=6m&q=l&l=on&z=l&c=MLPL.JK,BFIN.JK,TRIL.JK,ABBA.JK&p=s&a=v&p=s&lang=en-US&region=US

… biasanya saham gorengan adalah saham bobo … well, tidak selalu sih, tapi kemungkinannya lebe gede begitu :
Saham Kok Bisa Tidur?
Senin, 23 September 2013 04:23 wib

Investor atau calon investor mungkin pernah mendengar istilah ‘saham tidur’. Sebelum membahas apa itu saham tidur, mari kita mengingat kembali strategi berinvestasi saham.

Ketika berinvestasi di pasar modal, investor harus benar-benar menyadari adanya kemungkinan mengalami kerugian, disamping potensi keuntungan yang tinggi. Keuntungan atau kerugian tersebut sangat dipengarahi oleh kemampuan investor dalam menganalisa keadaan harga saham dan kemungkinan turun naiknya harga di bursa.

Saat berinvestasi di pasar modal, investor tidak dijamin akan mendapatkan capital gain atau selisih lebih dari harga beli saham dan harga jual saham di setiap waktu. Investor juga memiliki peluang akan mengalami kerugian atau capital loss.

Strategi yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan keuntungan dan meminimalkan risiko dalam berinvestasi saham adalah dengan cara mengumpulkan beberapa jenis saham dalam satu portofolio. Strategi ini dapat memperkecil risiko dalam investasi karena kemungkinan bagi investor dalam mengalami kerugian akan disebar ke berbagai jenis saham.

Sebelum memilih saham mana saja yang akan dimasukkan ke dalam keranjang portofolio investasi, sebaiknya investor terlebih dahulu harus mengumpulkan informasi dan melakukan analisa terhadap berbagai jenis saham. Langkah berikutnya, memilih beberapa saham sesuai dengan kemampuan dana investasi.

Apabila di antara saham tersebut ada yang mengalami penurunan harga, maka saham tersebut dapat dilepas untuk kemudian digantikan dengan saham yang lain yang lebih baik. Kemudian apabila saham yang dilepas tadi harganya diperkirakan telah mencapai titik terendah, dapat dipertimbangkan untuk dibeli kembali apabila perusahaan yang bersangkutan memperlihatkan kinerja dan prospek yang baik.

Strategi berikutnya, adalah beli dan simpan. Strategi ini dapat digunakan apabila investor memiliki keyakinan berdasarkan analisis, bahwa perusahaan yang bersangkutan memiliki prospek untuk berkembang yang cukup pesat beberapa tahun mendatang sehingga sahamnya diharapkan akan mengalami kenaikan yang cukup besar pada saat itu.

Nah, strategi berikutnya adalah membeli saham tidur, sesuai judul di atas. Saham tidur adalah saham yang jarang atau tidak pernah ditransaksikan investor. Saham tidur ini bisa disebabkan karena jumlah saham yang dicatatkan terlalu sedikit atau dikuasai oleh investor institusi dan pemilik saham lama (pendiri perusahaan).

Saham tidur dapat pula disebabkan karena kinerja perusahaan yang bersangkutan kurang baik atau prospek usahanya masih kurang cerah sehingga kurang mendapat perhatian pemodal. Harga saham seperti ini biasanya cenderung undervalued (di bawah harga wajar).

Apabila investor meyakini kinerja perusahaan yang sahamnya tidur akan baik di masa mendatang, maka investor bisa membeli saham ini di harga yang rendah dibanding nilai buku perusahaan. Tetapi, membeli saham tidur ini diperlukan kesabaran investor terhadap perkembangan harga saham perusahaan yang bersangkutan.

Investor yang memilih strategi membeli saham tidur ini cenderung lebih bersifat spekulatif. Investor masih bisa mendapatkan keuntungan tahunan dari pembagian dividen saham tidur. Banyak perusahaan besar, terutama perusahaan multinasional yang sahamnya tidur, karena dimiliki institusi besar yang terbatas. Namun, perusahaan ini bisa memberikan dividen yang besar setiap tahun, karena keuntungan besar dari perusahaan.

Sekedar tambahan, ada pula investor yang memilih berkonsentrasi pada industri tertentu. Strategi ini lebih cocok bagi investor yang benar-benar menguasai kondisi suatu jenis industri, sehingga mengetahui prospek perkembangannya di masa yang akan datang.

Oleh karena itu, investor dapat memilih beberapa saham perusahaan yang baik yang memiliki bisnis di dalam sektor industri yang bersangkutan. Contohnya hanya membeli saham sektor infrastruktur, atau membeli saham di sektor perkebunan. (//)

tax scares

Iklan

About yangvirtualyangnyata

jo adalah anak manusia yang tersesat dalam rimba penuh sesak virtualitas dan kenyataan == saya mencari sang virtual dan sang nyata, masih mencari tru$

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya

Statistik Kunjungan

  • 24,824 hits

Posting gw

Kalender Tahun Ini

Agustus 2017
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Kategori

Klik tertinggi

  • Tidak ada

neh gw ngetwit youw

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

%d blogger menyukai ini: