//
arsip

yang faktual

This category contains 271 posts

TIDAK ADA JALAN PINT4$


… well, banyak orang menjanjikan kemudahan maen saham beneran
… well, gw cuma bisa bilang: NO SHORTCUTS, tidak ada jalan pintas menuju kenyataan bahwa bisa hidup sehari-hari dari maen saham
… well, gw WAJIB bilang pada elo semua, maen saham beneran adalah sangat MENJANJIKAN, sekaligus MENANTANG
… well, gw CUMA GELI AJA LIAT BANYAK YANG AKSES BLOG JL MAEN SAHAM HANYA UNTUK MENCARI SAHAM2 BOBO YANG DIGORENG-GORENG … setelah tau bahwa ternyata saham2 tersebut bisa menjadi ranjau atawa bom waktu, LALU PARA PENGAKSES BERHENTI MENGAKSES BLOG ini … well, MEMANG TIDAK ADA JALAN PINTAS bo … gw MELAKUKAN AKSI BELI DAN JUAL SAHAM2 GORENGAN SEBAGAI KOMBINASI AKSI, sehingga gw MELENGKAPI AKSI MAEN SAHAM GW juga
… well, gw uda nyaris 2 taon maen April 2011 ini … sekale lage gw mo bilang: TIDAK ADA JALAN PINTAS, no shortcuts at all 🙂
… gw beneran harus belajar dulu semua ilmu maen saham beneran seperti yang gw posting ini :
ILMU MAEN SAHAM SEDERHANA
… itu ilmu sederhananya, tapi uda cukup untuk bikin laba yang konsisten sehingga bisa hidup beneran … tapi belajar ilmu maen saham beneran TIDAK AKAN PERNAH BERHENTI, tantangan akan selalu berubah bo 🙂
… konsep dasar ilmu maen saham sebenarnya sederhana yaitu : TRISILA INVESTOR SAHAM
… bwat yang sedang mulai terinspirasi maen saham karena mengejar laba, 2 hal di atas AMAT MENARIK lah … karena dengan memahami ILMU MAEN SAHAM SEDERHANA dan TRISILA INVESTOR SAHAM maka jalan menuju laba sudah AMAT JELAS TERBUKA dan TERLIHAT … well, wait a second, YOU MUST REALLY UNDERSTAND THAT THE WAY IS NOT A SHORTCUT PATH … tidak ada jalan pintas untuk bisa berhasil menjadi seorang pemaen saham yang berlaba dan bisa terus menerus maen saham bwat kehidupan yang lebe nyamaN 🙂

sebagai calon investor atau investor pemula atau investor merasa gagal, first thing first adalah baca di  link ini : https://yangvirtualyangnyata.wordpress.com/cerdik-inves/

 

… DASAR DARI SEGALA DASAR BERINVESTASI gw… jadi gw bisa menghubung-hubungkan dan mengaitkan SEMUA FAKTOR DASAR FUNDAMENTAL INVESTASI menjadi KESATUAN YANG KUAT dan BENAR … indahnya …

the basic of the portfolio investing is what I describe with the triangle of investing principles … the first angle is the most important one, that is the global information and knowledge related to the global markets as well as the macroeconomy of Asia and Indonesia markets; don’t forget the intrinsic information of each companies within the stock exchange… the second one is the technical analyses, which support the understanding of the market trending … and the last one is what I deem as the SOLE GOAL of the portfolio investing, that is the financial goal … that’s why I try develop and keep developing the formula on directing me to achieve my sole financial goal … all three principles are bound together covered by the maturity status of the investors themselves

 

KEDEWASAAN INVESTOR SAHAM (KIS) yg gw iri dah (the maturity stages of the investor)

 

IMBAL HASIL HARUS LEBIH DARI 60%/TAHUN (the financial goal for every investor to achieve each year)

 

kalo elo mimpi inves saham di bawah 1 taon doank, baca posting  ini:          JENIS INVESTOR SAHAM INDON (the type of stock investors in Indonesia)  dan juga

http://transaksisaham.wordpress.com/pemalas-bodoh-ala-indon/

RUMUS TRADING SAHAM HARIAN (the formula of each day trading goals)

 

ANALISIS TEKNIKAL SEDERHANA SETIAP HARI lho (the simple technical analyses)

 

TAKTIK TRANSAKSI FOKUS LABA DI TREN TURUN (the transaction tactics with gain  focus on downtrending)

the NEW saham bumi

HUKUM RUMOR BURSA n SAHAM GORENGAN

Jakarta detik- Indeks utama Amerika Serikat (AS) Wall Street, mencapai rekor penutupan tertinggi pada hari Selasa waktu setempat. Namun saham yang digadang-gadangkan akan menguat yakni Apple Inc (AAPL), justru melemah usai meluncurkan iPhone teranyarnya.

Mengutip Reuters, Rabu (13/9/2017), Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 61,49 poin atau 0,28% menjadi 22.118,86. Lalu indeks S&P 500 menguat 8,37 poin atau 0,34% menjadi 2.496,48 dan Indeks Nasdaq Composite naik 22,018 poin atau 0,34% ke level 6.454,28.

Penguatan deretan indeks tersebut dipicu karena investor sudah mulai tertarik kembali pada aset beresiko seperti saham. Hal itu lantaran ketegangan antara AS dan Korea Utara mulai mereda, kerusakan yang dibuat oleh Badai Irma juga ternyata tidak separah seperti yang dikhawatirkan.

“Ini adalah kondisi yang lebih baik untuk aset berisiko. Selama dua isu ini yakni Korea Utara dan angin topan telah surut, ini memberi investor lampu hijau untuk fokus pada fundamental yang lebih kuat,” kata Kepala Strategi Market Ameriprise Financial, David Joy.

Sementara saham Apple (AAPL) justru ditutup melemah 0,4% ke level US$ 160,86. Padahal sebelum hari peluncuran iPhone X kemarin, saham Apple berada di posisi US$ 163,96 dan diprediksi kembali menguat saat seremoni peluncuran.

Beberapa investor menyebutkan bahwa ada kekhawatiran tentang apakah Apple akan menghadapi persoalan kurangnya pasokan. Sementara yang lainnya mengatakan bahwa para pelaku pasar hanya tengah dalam aksi ambil untung.

“Tidak ada yang mengejutkan, meskipun apa yang mereka lakukan dengan produk baru itu cukup bagus,” kata Kepala Investasi Solaris Asset Management, Tim Ghriskey.

Justru yang menjafdi penggerak indeks merupakan saham-saham sektor keuangan yang naik 1,2% dan dibantu penguatan subsektor perbankannya sebesar 1,8%. (ang/ang)

catatan gw: kasus kejatuhan HARGA SAHAM APPLE saat luncurkan IPHONE8 bisa disebut sebagai gejala maen saham. 1. Buy on rumours, Sell on NEWS : beli saat ada rumor bahwa IPHONE8 akan diluncurkan PERUSAHAAN TERBESAR amrik, APPLE. 2. Rumor tentang kehebatan produk n kejayaan penjualan, ternyata baru sekedar rumor, yang hukum rumornya menyebutkan: rumor positif akan memberikan efek kenaekan harga saham cuma + 40% kansnya. Tapi kalo rumor negatif, malah gede efek penurunan harga sahamnya, s/d – 90%. 

UNDUH_DOWNLOAD FILE2 EXCEL RUMUS TRADING (download the files of trading formula)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ORDER TRANSAKSI HARIAN SAHAM gw

Blog2 gw yang ditautkan di sini adalah terkait dengan GAGASAN INVESTASI gw dalam 23 taon terakhir


ISU FUNDAMENTAL Ekonomi GLOBAL, dan MAKRO

: Kalo elo pengen tau blog gw tertua dan berisi info soal SEGALA MACAM TERKAIT EKONOMI dan medicine, baca di taut ini :http://ekonomitakserius.wordpress.com/; yang paling banyak isu global: http://iaminvestor.wordpress.com/

Jika elo mau langsung tau soal REKSA DANA berdasarkan pengalaman gw bole baca di taut2 ini :

pantauan fundamental saham2 gw

sebuah cara memantau sinyal fundamental saham :  http://transaksisaham.wordpress.com/2009/10/19/analisis-fundamental-perusahaan-lage-181009/

: http://sahambbri.wordpress.com/ (saham bbri dan bnii);

http://sahamadaro.wordpress.com/ (saham adro dan elsa);

http://sahamindy.wordpress.com/ (saham indy; berau coal; calon emiten: freeport);

http://sahambumi.wordpress.com/ (saham the bakries: enrg, elty, unsp, dewa, btel, bumi dan bnbr)

http://petajalaninvestasigw.blogspot.com/ (saham BUMI);

http://sahamantmindonesia.blogspot.com/ (saham antm);

http://sahammapi.wordpress.com/ (saham mapi, wika, pgas)

… mau tau order transaksi saham gw sehari-hari :

order-transaksi-saham-harian-gw dan order-transaksi-saham-lain

… SECARA FUNDAMENTAL, INDONESIA AMAT TERIMBAS ISU2 EKONOMI GLOBAL, karena INDONESIA SELALU TERIMBAS, baek langsung atawa tidak langsung, baek ringan maupun berat, oleh KRISIS EKONOMI/FINANSIAL EKSTERNAL … walau pun kejadian2 tersebut juga mengindikasikan KELEMAHAN SISTEM KETAHANAN EKONOMI DAN FINANSIAL INDONESIA SEBAGAI SEBUAH NEGARA BERDAULAT … krismon Indonesia terimbas kasus THAILAND, dan krisfinalo terimbas kasus AMRIK … karena itu elo bole2 tengok2 sikit lah blog ekonomi global gw:http://iaminvestor.wordpress.com/

POSTING ARTIKEL maen saham beneran TERKINI

PENGELOLAAN KEUANGAN SEDERHANA: http://transaksisaham.wordpress.com/2010/02/13/macan-itu-positif-waspada-mah-seumur-hidup-130210/

gw uda bikin tips sederhana

maen saham trading harian di link ini:

 

http://sahambumicrash2009.blogdetik.com

/dan baca juga info keberhasilan teman gw maen saham beneran: http://sahambumicrash2009.blogdetik.com/2010/10/01/kabar-bagus/

Jangan Mudah Terbujuk Investasi Janjikan Keuntungan Besar
Sabtu, 12 Februari 2011 | 1:21

YOGYAKARTA- Masyarakat diharapkan tidak mudah terbujuk investasi yang menjanjikan keuntungan di luar kewajaran untuk menghindari penipuan, kata Kepala Subbagian Humas Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Herry Siswanto.

“Investasi memang sering menjanjikan keuntungan menarik. Namun, masyarakat tidak boleh gegabah dengan mengikuti ajakan berinvestasi dengan keuntungan cukup tinggi,” katanya dalam lokakarya bagi wartawan bertema Strategi Berinvestasi dan Menghindari Penipuan Investasi, di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, berbagai kasus muncul terkait investasi karena masyarakat tidak mau mengecek lebih jauh mengenai tawaran tersebut. Rata-rata mereka tergiur dengan keuntungan yang dijanjikan, melebihi investasi di mana pun.

“Jika ada tawaran seperti itu, seharusnya masyarakat tidak langsung percaya. Mereka seharusnya curiga mengingat keuntungan yang luar biasa,” katanya.

Selain itu, modus yang biasanya dimunculkan adalah memberikan garansi jaminan kembali dan keamanan dana yang diinvestasikan. Padahal, di berbagai bentuk investasi apa pun selalu saja ada risiko yang harus dihitung.

Ia mengatakan, kelengahan mengetahui secara lengkap kadang membuat orang tidak waspada. Apalagi, mereka menawarkan berinvestasi dengan menggunakan perusahaan yang terkenal.

“Padahal, mereka hanya memanfaatkan nama dan tidak ada hubungan dengan perusahaan yang dimaksud. Pola seperti itu banyak terjadi di daerah,” katanya.

Menurut dia, kasus investasi bodong di Indonesia hingga 2010 memang kurang dari 100 kasus. Pada 2011, ada tambahan 31 kasus dan telah disikapi oleh satuan tugas (satgas) yang terdiri atas berbagai unsur.

Kepala Unit Komunikasi dan Informasi Publik Bursa Efek Indonesia (BEI) Dedy Priadi mengatakan, masyarakat sebelum berinvestasi sebaiknya menanyakan dulu lembaga yang menawarkan berbagai produk investasi tersebut mengenai legalitasnya.

Selain itu, masyarakat juga perlu mengecek ke BEI atau bagi mereka yang ada di daerah bisa menanyakan ke Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) yang menjadi kepanjangan tangan BEI.

“Dengan demikian, mereka bisa terhindar dari bujukan atau tawaran berinvestasi dari perorangan maupun lembaga yang tidak mendapat izin dalam mengumpulkan dana dan mengelola uang masyarakat,” katanya. (gor/ant)

Iklan

terperangkap SAHAM GORENGAN, no WAY lah

merah putih

Jakarta detik – Pasar modal merupakan sebuah wadah bagi investor untuk berinvestasi di instrumen saham. Seiring perkembangan zaman, perdagangan saham pun semakin liar, ada pula pihak-pihak serakah mencari keuntungan dengan berbagai cara yang biasa disebut goreng saham.

Adakah praktik goreng saham? Siapa pelakunya? Bagaimana caranya?

Menurut praktisi pasar modal, inspirator investasi serta penulis buku Bandarmology, Ryan Filbert, praktik goreng saham itu sudah pasti ada, namun sulit untuk dibuktikan siapa pelakunya.

Untuk mengetahui sebuah saham digoreng atau tidak sebenarnya cukup mudah kata Ryan, cukup dengan melihat kinerja keuangan perusahaan dan bandingkan dengan harga sahaam saat ini. Jika kinerjanya biasa-biasa saja atau bahkan buruk, tapi sahamnya terus menguat itu sudah pasti digoreng.

“Harga sahamnya bagus, tapi laporan keuangannya jelek, tiba-tiba mau terbitkan MTN, itu tanda tanya besar. Itu rawan,” tuturnya kepada detikFinance, Kamis (10/8/2017).

Biasanya praktik goreng saham juga lebih mudah dilakukan pada saham-saham kecil. Sebab oknum goreng saham bisa leluasa jika tidak ada pemegang saham lain yang memiliki modal lebih besar.

Nah untuk saham seperti itu biasanya terjadi untuk saham-saham yang biasanya tidak bergerak atau tidur tiba-tiba bergerak seperti ‘zombie’.

Untuk target dari praktik goreng saham ini adalah investor-investor kecil yang masih awam. Mereka hanya melihat saham yang bergerak tiba-tiba tanpa melihat fundamental perusahaannya.

Setelah terkumpul mangsanya dan harga saham melambung tinggi, oknum goreng saham langsung banting dengan melakukan aksi jual dalam volume yang besar. Alhasil saham jatuh kembali dan banyak investor yang jadi korban.

Trader nyangkut biasanya bukan saham gede tapi pasti saham kecil. Karena makan rumor tidak lihat laporan keuangannya,” imbuhnya.

Nah apakah oknum goreng saham pasti bandar? Menurut Ryan bukan. Bandar sendiri diartikan pihak yang memiliki dana yang besar sebagai market maker. Bandar yang memegang sebuah saham dalam jumlah besar tentu memiliki kepentingan untuk memperbaiki portofolionya.

“Sah-sah saja jika dia jaga harga sahamnya. Karena punya kepentingan,” imbuhnya.

Menurut Ryan oknum goreng saham adalah ‘Bandit’. Bandar dan bandit memiliki kesamaan yakni memiliki modal besar. Namun perbedaannya dipraktiknya, bandit mencari keuntungan dengan merugikan banyak orang.

“Jadi kalau punya modal tinggal pilih mau jadi malaikat atau setan. Bandar dibutuhkan sebagai market maker, nah yang repot bandit,” tegasnya. (ang/ang)

cross

Jakarta – Bandar seolah jadi bagian yang tidak bisa lepas dari sebuah pasar. Di mana ada pasar di situ pasti ada bandar yang mempunyai kekuatan untuk menguasai pasar.

Tidak hanya di pasar tradisional, di pasar modal pun ada bandar. Pihak-pihak yang memiliki modal besar biasanya dianggap sebagai bandar.

Dengan kekuatan modal yang besar maka bandar berkemampuan untuk menaikkan ataupun menurunkan harga saham sesuka hati. Oleh karena itu terkadang bandar disenangi tapi kadang juga ditakuti.

Menurut praktisi pasar modal, inspirator investasi serta penulis buku Bandarmology, Ryan Filbert, sosok bandar di pasar modal bukan suatu hal yang negatif. Bahkan menurutnya bandar sangat dibutuhkan bagi pasar modal sebagai market maker.

“Kalau enggak ada bandar malah repot. Ibaratnya bagaimana caranya kita sepakat air kemasan harganya Rp 3.000? Karena ada yang mengatur,” tuturnya kepada detikFinance, Jumat (11/8/2017).

Keberadaan bandar, kata Ryan juga diperlukan untuk meningkatkan volume transaksi sebuah saham. Sehingga pasar semakin likuid. Bayangkan saja jika ada batasan modal bagi pelaku pasar, maka nilai transaksi juga akan terbatas.

“Masalah dia bandar ada kepentingan untuk menjaga portofolio investasinya, ya pasti dia punya kepentingan. Sah-sah saja dong dia jaga nilai sahamnya,” imbuhnya.

Nah jika melihat predikat bandar adalah pihak yang memiliki modal besar dan mempunyai kepentingan menjaga portofolio investasi, tentu yang paling cocok disebut bandar menurutnya adalah Manajer Investasi (MI).

MI berkepentingan untuk menjaga produk-produk reksa dananya agar tetap memiliki return yang tinggi. Meskipun tidak melulu MI yang dianggap pasar sebagai bandar.

Ryan mengatakan, yang terpenting bagaimana kita bisa mempelajari pola investasi dari bandar. Untuk itulah dia mengeluarkan buku Bandarmology.

Bandarmology sendiri merupakan analisa pergerakan saham berdasarkan pola-pola kebiasaan transaksi para bandar. Berbeda dengan analisa teknikal yang menggunakan perhitungan dari volume dan harga, Bandarmology menggunakan distribusi volume saham untuk menghitung kebiasaan transaksi dari bandar.

Sayangnya menggunakan metode analisa ini tidak gampang. Harus dikumpulkan data volume dari saham-saham di jajaran top buy dan top sell secara harian. Data tersebut juga harus diambil dari beberapa broker agar lebih akurat.

“Setelah itu dicari rata-ratanya, dengan begitu nanti kelihatan polanya si bandar. Tapi itu susah, bayangkan ada 500 lebih saham, dan itu datanya harus diambil setiap hari. Karena itu pakai sistem,” terang Ryan.

Sama seperti metode analisa lain, Bandarmology tentu tidak 100% akurat. Namun minimal kebiasaan transaksi bandar bisa terlihat.

“Ibaratnya kenapa semua belok kanan, oh karena kiri tutup. Tapi kalau pakai statistik berdasarkan penelitian berapa kali belok kanan. Itu berbeda. Jadi lebih logis. Sama juga seperti mengikuti arus atau mendeteksi arus,” sambung Ryan.

Jika bandar menggunakan kekuatannya untuk menjaga harga saham, menurut Ryan tentu tidak masalah apalagi bisa diprediksi. Namun yang menjadi masalah, jika sang bandar berubah menjadi ‘bandit’. Dengan kekuatan modal yang besar tentu tidak menutup kemungkinan bandar melakukan aksi goreng saham.

“Bandar itu market maker, bandar itu bagus, yang repot itu bandit. Bandit itu yang goreng saham. Naikkan harga habis itu disikat turun, disangkutin modal orang, reponya gagal bayar, itu bandit,” tukasnya.

(ang/ang)

 

Jakarta detik- Pasar modal sejatinya merupakan wadah untuk berinvestasi di pasar modal. Namun pada kenyataannya banyak para pemain yang melakukan berbagai cara untuk meraup keuntungan lebih besar, salah satunya dengan menggoreng saham.

Goreng saham sama saja dengan praktik perdagangan semu. Hal itu tentu dilarang dan diatur dalam Undang-Undang Pasar Modal. Namun aksi goreng saham kenyataannya sulit untuk dibuktikan. Lalu bagaimana caranya goreng saham dilakukan?

Menurut praktisi pasar modal, inspirator investasi, serta penulis buku Bandarmology, Ryan Filbert, untuk menggoreng saham harus dilakukan beberapa orang atau berkomplot dan memiliki beberapa rekening di lebih dari satu sekuritas.

Kenapa disebut komplotan, kata Ryan, karena butuh lebih dari satu orang untuk menjalankan aksinya. Selain bandar sang aktor utama dan pemilik dana, harus ada juga orang-orang yang akan melakukan perdagangan semu dari beberapa akun, serta aksi-aksi lainnya seperti penyebaran isu.

“Pasti pakai beberapa broker, pakai beberapa akun dan beberapa orang. Kerja begitu kan enggak satu orang. Termasuk untuk menyebar isu. Itu jadi satu bagian,” ujarnya kepada detikFinance, Jumat (11/8/2017).

Komplotan ini juga berisi pihak-pihak yang biasanya memberikan rekomendasi saham. Awalnya mereka memberikan rekomendasi jual terhadap saham yang akan digoreng. Hal itu agar harga sahamnya turun dan bisa ditampung oleh penggoreng saham.

“Misalnya sahamnya selalu direkomendasikan sell, tapi ada di salah satu broker akumulasi beli terus. Dia bilang jangan beli lagi jelek, eh dia beli sendiri. Itu praktik bandit,” terang Ryan.

Setelah memiliki saham dengan volume yang cukup besar, komplotan ini mulai melakukan transaksi semu dengan beberapa akun yang berbeda dari beberapa broker. Dengan begitu seolah-olah saham yang biasanya tidur seakan tiba-tiba bergerak. Hal itu agar menarik pelaku pasar lainnya.

Untuk lebih meyakinkan para investor yang menjadi mangsanya, komplotan penggoreng saham biasanya menyebar isu-isu positif terhadap emiten yang sahamnya tengah digoreng.

Nah, penyebaran isu-isu ini dilakukan secara sporadis melalui grup-grup sosial media yang berisi investor saham. Bahkan menurut Ryan terkadang juga melibatkan media untuk menyebarkan isu tersebut.

“Kalau penyebaran isu bisa pakai perkumpulan investor, WhatsApp grup, media juga. Saya juga kadang suka dapat info. Kalau untuk penyebaran isu banyak cara,” tuturnya.

Ketika para pelaku pasar mulai termakan isu tersebut, mereka akhirnya mulai masuk ke saham yang sedang digoreng. Di saat itu sahamnya mulai bergerak menguat secara drastis. Gerbong-gerbong investor yang menjadi mangsa pun mulai penuh.

Ketika saham yang digoreng sudah menyentuh target level penguatan yang dituju, barulah sang penggoreng saham melepasnya dengan jumlah yang besar. Alhasil sahamnya kembali ambruk ke level yang seharusnya. Di situlah banyak investor yang menjadi korban karena nyangkut di saham tersebut.

Namun kata Ryan, banyak skenario yang bisa dilakukan untuk menggoreng saham, yang terpenting harus memiliki modal agar mampu menggerakan saham. (wdl/wdl)

tax scares

Jakarta detik – Saham gorengan memang sangat menggiurkan. Jika masuk dan keluar di saat yang tepat, kita bisa mengambil keuntungan yang besar. Tentu harus dengan strategi yang benar agar tidak menjadi mangsa sang bandar pengoreng saham.

Layaknya makanan gorengan yang mengandung kolesterol, saham gorengan bisa memberikan penyakit buat kita. Tapi jika dikonsumsi dengan benar dengan kadar yang tepat tidak ada salahnya menikmatinya. Untuk menikmati saham gorengan tentu harus mengetahui dulu ciri-ciri saham yang sedang digoreng.

Menurut praktisi pasar modal, inspirator investasi, serta penulis buku Bandarmology, Ryan Filbert, cara mudah melihat saham sedang digoreng atau tidak dengan melihat kinerja keuangan perusahaan dan bandingkan dengan harga saham saat ini. Jika kinerjanya biasa-biasa saja atau bahkan buruk, tapi sahamnya terus menguat itu sudah pasti digoreng.

“Harga sahamnya bagus, tapi laporan keuangannya jelek, tiba-tiba mau nerbitin MTN (Medium Term Notes), itu tanda tanya besar. Itu rawan,” tuturnya kepada detikFinance, Kamis (10/8/2017).

Ada berbagai variabel untuk melihat nilai kewajaran sebuah saham dari laporan keuangannya. Seperti melihat dari indikator Price Earning Ratio (PER) dengan harga saham dibagi laba persaham, lalu bandingkan dengan emiten di industri yang sama.

Lalu bisa juga dengan melihat Price to Book Value (PBV), harga saham dibagi nilai buku per saham, lalu dibandingkan juga dengan emiten sejenis. Jika PER dan PBV-nya lebih besar dari emiten lainnya terindikasi digoreng.

Selain itu, kata Ryan, biasanya saham-saham yang digoreng merupakan saham kecil dan tidak likuid. Hal itu agar tidak ada oknum pengoreng saham bisa leluasa melancarkan praktiknya.

“Kalau ada pemain lain yang punya lebih besar ya susah,” imbuhnya.

Selain itu, saham-saham yang sedang digoreng biasanya dibalut juga dengan rumor yang belum tentu kebenarnya. Rumor dihembuskan agar investor ritel yang menjadi mangsa semakin percaya untuk membeli saham tersebut.

Kendati begitu menurut Ryan, sebenarnya sangat sulit untuk mengetahui sampai level mana kenaikan saham yang sedang digoreng. Tidak ada cara yang pasti untuk menganalisanya.

“Susah buat ditentukan. Paling pakai hitungan technical fibonacci. Mengandai-andai pakai teori matematika dalam sebuah perdagangan yang aneh. Karena pasar itu invisible hand. Kita enggak tahu hatinya si bandit,” tukasnya. (wdl/wdl)

neh pengalaman nyata gw keluar dari perangkap saham gorengan mlpl dan berlaba tinggi: laba tinggi dari mlpl
LABA lumayan dari gorengan pyfa
… kebanyakan mitos soal saham gorengan adalah:
– tren naek sesaat doank
– hanya untuk menguntungkan investor institusi/raksasi
– kalo uda naek pasti turun
– kalo uda turun pasti turun terus
– laba hanya diperoleh pada saat tren naek saja
well, gw berbeda pendapat:
– terbukti pada beberapa saham, tren naek melesat bisa berulang-ulang
– ternyata investor ritel juga bisa untung
– kalo uda naek pasti TURUN NAEK juga
– kalo uda turun PASTI TURUN NAEK JUGA
– laba bisa diperoleh SAAT AVG LEBE MURAH, dan REBOUND TERJADI (fldtt: KABUUUUUuuuRRrr) … contoh saham G yang berhasil gw turunkan avg-nya dengan cara FLDTT : sstm dari avg@280 turun menjadi @252
… saham microsoft bukan gorengan, tapi juga bisa mempunyai pola sesaat yang MENCEKAM:

Capture.jpg (739×531)
… coba liat rekam jejak saham2 gorengan ini :

http://chart.finance.yahoo.com/z?s=MFIN.JK&t=6m&q=l&l=on&z=l&c=MLPL.JK,BFIN.JK,TRIL.JK,ABBA.JK&p=s&a=v&p=s&lang=en-US&region=US

… biasanya saham gorengan adalah saham bobo … well, tidak selalu sih, tapi kemungkinannya lebe gede begitu :
Saham Kok Bisa Tidur?
Senin, 23 September 2013 04:23 wib

Investor atau calon investor mungkin pernah mendengar istilah ‘saham tidur’. Sebelum membahas apa itu saham tidur, mari kita mengingat kembali strategi berinvestasi saham.

Ketika berinvestasi di pasar modal, investor harus benar-benar menyadari adanya kemungkinan mengalami kerugian, disamping potensi keuntungan yang tinggi. Keuntungan atau kerugian tersebut sangat dipengarahi oleh kemampuan investor dalam menganalisa keadaan harga saham dan kemungkinan turun naiknya harga di bursa.

Saat berinvestasi di pasar modal, investor tidak dijamin akan mendapatkan capital gain atau selisih lebih dari harga beli saham dan harga jual saham di setiap waktu. Investor juga memiliki peluang akan mengalami kerugian atau capital loss.

Strategi yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan keuntungan dan meminimalkan risiko dalam berinvestasi saham adalah dengan cara mengumpulkan beberapa jenis saham dalam satu portofolio. Strategi ini dapat memperkecil risiko dalam investasi karena kemungkinan bagi investor dalam mengalami kerugian akan disebar ke berbagai jenis saham.

Sebelum memilih saham mana saja yang akan dimasukkan ke dalam keranjang portofolio investasi, sebaiknya investor terlebih dahulu harus mengumpulkan informasi dan melakukan analisa terhadap berbagai jenis saham. Langkah berikutnya, memilih beberapa saham sesuai dengan kemampuan dana investasi.

Apabila di antara saham tersebut ada yang mengalami penurunan harga, maka saham tersebut dapat dilepas untuk kemudian digantikan dengan saham yang lain yang lebih baik. Kemudian apabila saham yang dilepas tadi harganya diperkirakan telah mencapai titik terendah, dapat dipertimbangkan untuk dibeli kembali apabila perusahaan yang bersangkutan memperlihatkan kinerja dan prospek yang baik.

Strategi berikutnya, adalah beli dan simpan. Strategi ini dapat digunakan apabila investor memiliki keyakinan berdasarkan analisis, bahwa perusahaan yang bersangkutan memiliki prospek untuk berkembang yang cukup pesat beberapa tahun mendatang sehingga sahamnya diharapkan akan mengalami kenaikan yang cukup besar pada saat itu.

Nah, strategi berikutnya adalah membeli saham tidur, sesuai judul di atas. Saham tidur adalah saham yang jarang atau tidak pernah ditransaksikan investor. Saham tidur ini bisa disebabkan karena jumlah saham yang dicatatkan terlalu sedikit atau dikuasai oleh investor institusi dan pemilik saham lama (pendiri perusahaan).

Saham tidur dapat pula disebabkan karena kinerja perusahaan yang bersangkutan kurang baik atau prospek usahanya masih kurang cerah sehingga kurang mendapat perhatian pemodal. Harga saham seperti ini biasanya cenderung undervalued (di bawah harga wajar).

Apabila investor meyakini kinerja perusahaan yang sahamnya tidur akan baik di masa mendatang, maka investor bisa membeli saham ini di harga yang rendah dibanding nilai buku perusahaan. Tetapi, membeli saham tidur ini diperlukan kesabaran investor terhadap perkembangan harga saham perusahaan yang bersangkutan.

Investor yang memilih strategi membeli saham tidur ini cenderung lebih bersifat spekulatif. Investor masih bisa mendapatkan keuntungan tahunan dari pembagian dividen saham tidur. Banyak perusahaan besar, terutama perusahaan multinasional yang sahamnya tidur, karena dimiliki institusi besar yang terbatas. Namun, perusahaan ini bisa memberikan dividen yang besar setiap tahun, karena keuntungan besar dari perusahaan.

Sekedar tambahan, ada pula investor yang memilih berkonsentrasi pada industri tertentu. Strategi ini lebih cocok bagi investor yang benar-benar menguasai kondisi suatu jenis industri, sehingga mengetahui prospek perkembangannya di masa yang akan datang.

Oleh karena itu, investor dapat memilih beberapa saham perusahaan yang baik yang memiliki bisnis di dalam sektor industri yang bersangkutan. Contohnya hanya membeli saham sektor infrastruktur, atau membeli saham di sektor perkebunan. (//)

tax scares

C1LETUH, Sukabumi, WORLD CLASS GEOPARK — jalan kuliner khas

situs RESM1 Geopark Ciletuh tujuan wisata @ GEOPARK CILETUH: AMFITEATER GEOPARK CILETUH: Pemandangan yang sulit ditandingi di Bukit Panenjoan, Ciletuh, Sukabumi some of details of the dirty roadmap of the destination of Bukit Panenjoan from Jl Simpenan, as follows:

via C1LETUH, Sukabumi, WORLD CLASS GEOPARK — jalan kuliner khas

evaluasi TREN WARTEG OT B (2016-2017)

tren lot_NAS 2016_2017blog

penjelasan: secara sederhana terjadi perubahan dalam INDEKS jumlah lot n INDEKS Nilai Aset Saham total @ warteg ot B

indeks jumlah lot (diasumsikan bahwa jumlah lot per tgl 31 Agustus 2016 sebagai tingkat indeks JUMLAH LOT 100).

indeks NAS total (diasumsikan bahwa NAS total per tgl 31 Agustus 2016 sebagai tingkat indeks NAS total 100)

tren jumlah lot: naek pesat dari per tgl 31/08/2016 k 28 Desember 2016. Namun terjadi koreksi SEHAT jumlah lot dari per tgl 28/12/2016 k per tgl 31 Juli 2017. Koreksi sekira 5%. 

tren NAS total: naek pesat sejak dari per tgl 31/08/2016 k per tgl 28 Desember 2016 n k per tgl 31 Juli 2017, sebuah pencapaian GAIN sekira +83% (per tgl 31/08/2016) n +174% (per tgl 31 Juli 2017). jika dikalkulasi gain per tgl 31 Juli 2017 atas per tgl 28/12/2016, maka GAIN sekira + 49%. 

saat penurunan jumlah lot saham @ warteg 0T B (sekira 5%), malah NAS total saham @ warteg 0T B naek sekira + 49%. berarti manajemen portofolio warteg 0T B : SEHAT.

sila bandingkan dengan tren harga saham yang ada di warteg 0T B sejak 31 Agustus 2016, sbb:

tren lot_NAS 2016_2017blogVharga

 

strategi 2 gawang @ saham

maksud utama judul di atas: MAEN OPTION (opsi), sila contoh di bawah (kutipan dari Investopedia)

Now that you know the basics of options, here is an example of how they work. We’ll use a fictional firm called Cory’s Tequila Company.

Let’s say that on May 1, the stock price of Cory’s Tequila Co. is $67 and the premium (cost) is $3.15 for a July 70 Call, which indicates that the expiration is the third Friday of July and the strike price is $70. The total price of the contract is $3.15 x 100 = $315. In reality, you’d also have to take commissions into account, but we’ll ignore them for this example.

Remember, a stock option contract is the option to buy 100 shares; that’s why you must multiply the contract by 100 to get the total price. The strike price of $70 means that the stock price must rise above $70 before the call option is worth anything; furthermore, because the contract is $3.15 per share, the break-even price would be $73.15.

When the stock price is $67, it’s less than the $70 strike price, so the option is worthless. But don’t forget that you’ve paid $315 for the option, so you are currently down by this amount.

Three weeks later the stock price is $78. The options contract has increased along with the stock price and is now worth $8.25 x 100 = $825. Subtract what you paid for the contract, and your profit is ($8.25 – $3.15) x 100 = $510. You almost doubled our money in just three weeks! You could sell your options, which is called “closing your position,” and take your profits – unless, of course, you think the stock price will continue to rise. For the sake of this example, let’s say we let it ride.

By the expiration date, the price drops to $62. Because this is less than our $70 strike price and there is no time left, the option contract is worthless. We are now down to the original investment of $315.

To recap, here is what happened to our option investment:

Date May 1 May 21 Expiry Date
Stock Price $67 $78 $62
Option Price $3.15 $8.25 worthless
Contract Value $315 $825 $0
Paper Gain/Loss $0 $510 -$315

The price swing for the length of this contract from high to low was $825, which would have given us over double our original investment. This is leverage in action.

Exercising Versus Trading-Out
So far we’ve talked about options as the right to buy or sell (exercise) the underlying. This is true, but in reality, a majority of options are not actually exercised.

In our example, you could make money by exercising at $70 and then selling the stock back in the market at $78 for a profit of $8 a share. You could also keep the stock, knowing you were able to buy it at a discount to the present value.

However, the majority of the time holders choose to take their profits by trading out (closing out) their position. This means that holders sell their options in the market, and writers buy their positions back to close. According to the CBOE, about 10% of options are exercised, 60% are traded out, and 30% expire worthless.

Intrinsic Value and Time Value
At this point it is worth explaining more about the pricing of options. In our example the premium (price) of the option went from $3.15 to $8.25. These fluctuations can be explained by intrinsic value and time value.

Basically, an option’s premium is its intrinsic value + time value. Remember, intrinsic value is the amount in-the-money, which, for a call option, means that the price of the stock equals the strike price. Time value represents the possibility of the option increasing in value. So, the price of the option in our example can be thought of as the following:

Premium = Intrinsic Value + Time Value
$8.25 = $8 + $0.25

In real life options almost always trade above intrinsic value. If you are wondering, we just picked the numbers for this example out of the air to demonstrate how options work.

… sederhananya : TETAP ADA RISIKO RUGI, walo semua kerugian DITEKAN ABIS-ABISan supaya KECIL (menurut ukuran AMRIK youw)… tapi TIDAK ADA YANG SALAH DENGAN SISTEM INI, up2u 🙂

cara gw maen saham : STRATEGI JEPIT

maksud strategi jepit, gw ORDER BELI n JUAL sekaligus (simultaneously)

bwat yang maen HIT n RUN: biasanya mulai dengan BELI dulu, lalu JUAL (baek itu rugi atawa UNTUNG)

bwat yang maen ala warteg saham gw: MULAI DENGAN INVES, baru kemudian JUAL (jangka waktu PANJANG) … setelah TERBELI, maka KESEMPATAN JUAL tercipta … saat STRATEGI JEPIT terjadi, sbb:

inves 1000 unit saham A @ Rp100/saham, aset total : 1000 X Rp 100 = Rp 100,000

pada saat sudah mempunyai 1000 unit, maka kesempatan BERSTRATEGI JEPIT, sbb:

order beli @ 99

order jual @ 101

berarti: JARAK HARGA antara HARGA REAL-TIME (harga saat ini) dengan HARGA ORDER BELI n JUAL hanya masing-masing Rp1,- (1 poin, tergantung pada ATURAN MAEN bursa saham kita)

ini yang gw sebut sebagai JEPIT, karna gw SEBENARNYA MENGINCAR EFEK BUNGA MAJEMUK JANGKA PANJANG, yaitu yang SETIDAKNYA TERBUKTI PADA STRATEGI BELI n JUAL ala EDY DJOENARDI, pemaen saham Rp 62 juta bertumbuh menjadi Rp 5 Triliun dalam waktu 5 taon (periode 2003-2008).

well, sila pikir sendiri, tentukan sendiri, semua orang BEBAS memilih n memutuskan. gw dah maen sejak 2009, namun kondisi SEMPURNA bursa saham kita periode 2003-2008 TIDAK PERNAH TERJADI s/d saat ini (ihsg naek dari 400an ke 2700an, selalu NAEK setiap taonnya, termasuk pada 2005 saat kondisi obligasi/surat utang kita sempat terpuruk). Jadi kondisi sempurna yang tidak terjadi  TELAH MENGHALANGI asumsi bahwa efek bunga majemuk pada beli n jual ala EDY DJOENARDI akan terjadi. walau pun demikian gw tetap BERLABA lumayan.

 

 

 

 

 

 

simply THE FED H0RR0R starts … 10 (heroes day)11/2015

emerging markets are GOING D0WN

simultaneously

without any pity

NO FORESEEN BOTTOM

the Fed will HIKE THE PROBABILITY OF HIKE THE RATE every day

but

the GLOBAL STOCKMARKETS WOULDN’T AGREE WITH THE POLICY OF HIKING THE RATE 2015

because THE MARKET KNOWS VERY WELL THE SITUATION IS VERY BAD IN THE GLOBAL MARKET$

not only the emerging markets

deflation, disinflation with all the markets

commodity prices are not performed well, going down

the global manufacturers are not in rebounding condition for the better off

the global consumption is still flat or rather bad

the usa economic condition is not rebounding from the low inflation and the low economic growth

the divergence between central banks and the fed rate TOO WIDE, the FED MUST STOP DISTURB THE MARKET

the FED must eventually realise the REAL BAD GLOBAL ECONOMIC SITUATION of 2015

wait March 2016 for the better condition of hiking the RATE 🙂

KR1$1$, lage

2011, neh komentar gw : well, krisis inflasi dan harga minyak global SUDAH MENGHAMPIRI PEMULIHAN EKONOMI GLOBAL karena KRISIS SOSPOL LIBYA akibat pergantian kepemimpinan dari Gadhafi sedang terjadi … $100/barel, selamat datang krisis baru
well, seingat gw, 2 kale KRISIS DAHSYAT EKONOMI MENERKAM INDON: krismon (1998) dan krisfinalo (krisis finansial global 2008) …
well, seingat gw, 2 kale investasi gw MALAH TUMBUH KENCENG pada saat seperti itu …
jadi, gw bersikap optimis aja lah 🙂

… per tgl 11 Juli 2015: setidaknya ada 2 krisis RAK$A$A: eurozone n the fed fund rate … well, time2buy as always, see the results when I arrive @ the end of the dark tunnel 🙂
berikut 2 posting soal kata weiji (krisis) menurut ahli bahasa mandarin:

Wei-ji

October 21, 2010

By Malcolm

For the academics and pedants among you: a little bit of background theory…

 

The Chinese word wei-ji – which means “crisis” – is often quoted as being composed of the two words wei (“danger”) and ji (“opportunity”).

However, this is an oversimplification… although wei, on its own, does approximate to “danger, dangerous; endanger, jeopardize; perilous; precipitous, precarious; high; fear, or afraid”, ji used as a single word is polysemous: its meanings can include “machine, mechanical; airplane; suitable occasion; crucial point; pivot; incipient moment; opportune, opportunity; chance; key link; secret; or cunning” – note that “opportunity” is only one of the meanings.  The precise meaning is only determined by the preceding morpheme in the compound noun: on this occasion, its pairing with wei shifts its meaning to “crucial point”, rather than “opportunity”.  The true meaning, here, is that this is a situation that has reached an extremely difficult and dangerous point (i.e. it is ‘knife-edge’).

The real lesson to be learned, however, is that when such a pivotal point has been reached, the outcome depends largely on how we respond to it.  We can turn a dangerous situation into an opportunity.  The Chinese word zhuan means “turn into”… if we combine that with ji we get zhuan-ji, which means “turn for the better” – or “turn into opportunity”.  In this sense, the Chinese for “crisis”can mean “opportunity” in a time of “danger”, if we choose to make it so!  This is the mark of the true business ninja.

 

KESALAHPAHAMAN soal KRISIS secara mandarin

How a misunderstanding about Chinese characters has led many astray

There is a widespread public misperception, particularly among the New Age sector, that the Chinese word for “crisis” is composed of elements that signify “danger” and “opportunity.” I first encountered this curious specimen of alleged oriental wisdom about ten years ago at an altitude of 35,000 feet sitting next to an American executive. He was intently studying a bound volume that had adopted this notorious formulation as the basic premise of its method for making increased profits even when the market is falling. At that moment, I didn’t have the heart to disappoint my gullible neighbor who was blissfully imbibing what he assumed were the gems of Far Eastern sagacity enshrined within the pages of his workbook. Now, however, the damage from this kind of pseudo-profundity has reached such gross proportions that I feel obliged, as a responsible Sinologist, to take counteraction.

A whole industry of pundits and therapists has grown up around this one grossly inaccurate statement. A casual search of the Web turns up more than a million references to this spurious proverb. It appears, often complete with Chinese characters, on the covers of books, on advertisements for seminars, on expensive courses for “thinking outside of the box,” and practically everywhere one turns in the world of quick-buck business, pop psychology, and orientalist hocus-pocus. This catchy expression (Crisis = Danger + Opportunity) has rapidly become nearly as ubiquitous as The Tao of Pooh and Sun Zi’s Art of War for the Board / Bed / Bath / Whichever Room.

The explication of the Chinese word for crisis as made up of two components signifying danger and opportunity is due partly to wishful thinking, but mainly to a fundamental misunderstanding about how terms are formed in Mandarin and other Sinitic languages. For example, one of the most popular websites centered on this mistaken notion about the Chinese word for crisis explains: “The top part of the Chinese Ideogram for ‘Crisis’ is the symbol for ‘Danger’: The bottom symbol represents ‘Opportunity’.” Among the most egregious of the radical errors in this statement is the use of the exotic term “Ideogram” to refer to Chinese characters. Linguists and writing theorists avoid “ideogram” as a descriptive referent for hanzi (Mandarin) / kanji (Japanese) / hanja(Korean) because only an exceedingly small proportion of them actually convey ideas directly through their shapes. (For similar reasons, the same caveat holds for another frequently encountered label, pictogram.) It is far better to refer to the hanzikanjihanja as logographs, sinographs, hanograms, tetragraphs (from their square shapes [i.e., as fangkuaizi]), morphosyllabographs, etc., or — since most of those renditions may strike the average reader as unduly arcane or clunky — simply as characters.

The second misconception in this formulation is that the author seems to take the Chinese word for crisis as a single graph, referring to it as “the Chinese Ideogram for ‘crisis’.” Like most Mandarin words, that for “crisis” (wēijī) consists of two syllables that are written with two separate characters, wēi (危) and jī (機/机).

Chinese character wei 危Chinese character wēi

Chinese character ji1 -- in traditional form 機Chinese character jī (in traditional form)

Chinese character wei 危Chinese character wēi

Chinese character ji1 in simplified form 机Chinese character jī (in simplified form)

The third, and fatal, misapprehension is the author’s definition of jī as “opportunity.” While it is true that wēijī does indeed mean “crisis” and that the wēi syllable of wēijī does convey the notion of “danger,” the jīsyllable of wēijī most definitely does not signify “opportunity.” Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary defines “opportunity” as:

  1. a favorable juncture of circumstances;
  2. a good chance for advancement or progress.

While that may be what our Pollyanaish advocates of “crisis” as “danger” plus “opportunity” desire jī to signify, it means something altogether different.

The jī of wēijī, in fact, means something like “incipient moment; crucial point (when something begins or changes).” Thus, a wēijī is indeed a genuine crisis, a dangerous moment, a time when things start to go awry. A wēijī indicates a perilous situation when one should be especially wary. It is not a juncture when one goes looking for advantages and benefits. In a crisis, one wants above all to save one’s skin and neck! Any would-be guru who advocates opportunism in the face of crisis should be run out of town on a rail, for his / her advice will only compound the danger of the crisis.

For those who have staked their hopes and careers on the CRISIS = DANGER + OPPORTUNITY formula and are loath to abandon their fervent belief in jī as signifying “opportunity,” it is essential to list some of the primary meanings of the graph in question. Aside from the notion of “incipient moment” or “crucial point” discussed above, the graph for jī by itself indicates “quick-witted(ness); resourceful(ness)” and “machine; device.” In combination with other graphs, however, jī can acquire hundreds of secondary meanings. It is absolutely crucial to observe that jīpossesses these secondary meanings only in the multisyllabic terms into which it enters. To be specific in the matter under investigation, jī added to huì (“occasion”) creates the Mandarin word for “opportunity” (jīhuì), but by itself jī does not mean “opportunity.”

A wēijī in Chinese is every bit as fearsome as a crisis in English. Ajīhuì in Chinese is just as welcome as an opportunity to most folks in America. To confuse a wēijī with a jīhuì is as foolish as to insist that a crisis is the best time to go looking for benefits.

If one wishes to wax philosophical about the jī of wēijī, one might elaborate upon it as the dynamic of a situation’s unfolding, when many elements are at play. In this sense, jī is neutral. This jī can either turn out for better or for worse, but — when coupled with wēi — the possibility of a highly undesirable outcome (whether in life, disease, finance, or war) is uppermost in the mind of the person who invokes this potent term.

For those who are still mystified by the morphological (i.e., word-building) procedures of Sinitic languages, it might be helpful to provide a parallel case from English. An airplane is a machine that has the capability of flying through the air, but that does not imply that “air” by itself means airplane or that “plane” alone originally signified airplane. (The word “plane” has only come to mean “airplane” when it functions as a shortened form of the latter word.) The first element of the word airplane, like the first element of wēijī, presents no real problems: it is the stuff that makes up our earth’s atmosphere. The second element, however, like the second element of wēijī, is much trickier. There are at least half a dozen different monosyllabic words in English spelled “plane.” While most of these words are derived from a Latin root meaning “flat” or “level,” they each convey quite different meanings. The “plane” of “airplane” is said to be cognate with the word “planet,” which derives from a Greek word that means “wandering.” A planet is a heavenly body that wanders through space, and an airplane is a machine that wanders through the air. As Gertrude Stein might have said, “An airplane is an airplane is an airplane.” Neither “air” nor “plane” means “airplane”; only “airplane” means “airplane” – except when “plane” is being used as an abbreviation for “airplane”! Likewise, neither wēi nor jī means wēijī; only wēijī means wēijī. These are illustrations of the basic principles of word formation that are common to all languages. When etymological components enter into words, they take on the semantic coloring of their new environment and must be considered in that context.

As a matter of fact, the word “airplane” has a contested etymology (I follow Webster’s Third International), with some authorities believing that it derives from “air” + the apparent feminine of French plan (“flat, level”). Even with this latter etymon, however, we must recognize that “airplane” does not mean “a flat surface in the air,” but rather it signifies a heavier than air flying machine. That is to say, when entering into a word consisting of two or more morphemes, the constituent elements take on special meanings depending upon their new, overall environment. In “airplane,” the second element no longer means merely “wander” or “flat” — depending upon which etymology you favor.

Perhaps it would be worthwhile to offer another example from English that is closer to our Chinese word wēijī (“crisis”). Let’s take the –ity component of “opportunity,” “calamity” (“calamity” has a complicated etymology; see the Oxford English Dictionary, Barnhart, etc.), “felicity,” “cordiality,” “hostility,” and so forth. This –ity is a suffix that is used to form abstract nouns expressing state, quality, or condition. The words that it helps to form have a vast range of meanings, some of which are completely contradictory. Similarly the –jī of wēijī by itself does not mean the same thing as wēijī (“crisis”), jīhuì (“opportunity”), and so forth. The signification of jī changes according to the environment in which it occurs.

The construction of wēijī merits further investigation. The nature of this troublesome word will be much better understood if it is pointed out that, in Mandarin morphology, morphemes are divided into “bound” and “free” types. “Bound” morphemes can only occur in combination with other morphemes, whereas “free” morphemes can occur individually.

It just so happens that, in the real world of Mandarin word formation,wei and ji are both bound morphemes. They cannot occur independently. Just as the syllable/morphemes cri- and -sis that go together to make up the English word “crisis” cannot exist independently in an English sentence, so too wēi and  cannot exist by themselves in a Mandarin sentence. They can only occur when combined with other word-forming elements, hence fēijī (“airplane”), jīhuì (“chance, opportunity”), wēixiǎn(“danger”), wēijī (“crisis”), and so forth.

Now let us look at the morphology of the word “crisis” itself, bearing in mind that it derives from Greek κρίσις (krisis) < κρίνω (krinō) (see the last section of this essay). The English suffix -sis may be analyzed as consisting of -si--s, where -si- is a Greek suffix and -s is the nominative singular ending in Greek. The suffix is used to form action or result nouns from verb roots: kri-si-s (“judgement, decision” > “crisis”); the-si-s (“act of putting [down]” > “thesis”); ap-he-si-s (“act of letting go” > “aphesis” –apo [“off, away”]). Greek -si- is cognate with Sanskrit -ti-. Greek -sisendings are nominal and productive (i.e., they can be added to roots to produce new nouns quite readily), and are often used to make abstractions, usually from verbs.

If one wants to find a word containing the element jī that means “opportunity” (i.e., a favorable juncture of circumstances, or a good chance for advancement), one needs to look elsewhere than wēijī, which means precisely “crisis” (viz., a dangerous, critical moment). One might choose, for instance, zhuǎnjī (“turn” + “incipient moment” = “favorable turn; turn for the better”), liángjī (“excellent” + “incipient moment” = “opportunity” [!!]), or hǎo shíjī (“good” + “time” + “incipient moment” = “favorable opportunity”).

Those who purvey the doctrine that the Chinese word for “crisis” is composed of elements meaning “danger” and “opportunity” are engaging in a type of muddled thinking that is a danger to society, for it lulls people into welcoming crises as unstable situations from which they can benefit. Adopting a feel-good attitude toward adversity may not be the most rational, realistic approach to its solution.

Finally, to those who would persist in disseminating the potentially perilous, fundamentally fallacious theory that “crisis” = “danger” + “opportunity,” please don’t blame it on Chinese!

Pertinent observations for those who are more advanced in Chinese language studies.

The word “crisis” enters the English language around 1425 with the meaning of “turning point in a disease,” in a translation of Chauliac’s Grande Chirurgie (Major Surgery). It was borrowed from Latin crisis, which in turn comes from Greek krisis (“a separating, distinguishing, discrimination, decision, judgement”), from krinein (“separate, decide, judge”). Chauliac’s first translation gives it as Old French crise, while the second translation has Latin crisis. The sense of “decisive moment” is first recorded in English in 1627 as a figurative extension of the original medical meaning. In Latin, crisis signified: 1. a (literary) judgement, 2. a critical stage in one’s life; climacteric. Since, in the Hippocratic-Galenic medical literature, “crisis” signified “a turning point in a disease; sudden change for better or worse,” this old Greek usage would be somewhat better positioned to serve as a justification for the “danger + opportunity” meme than does Chinese wēijī, which is, from the very beginning, always something worrisome and unwanted.

The earliest occurrences of the Chinese expression wēijī occur in the 3rd century A.D., at which time, and for centuries thereafter, they convey the notion of “latent danger.” It was not until the late 19th and early 20th centuries that wēijī came to mean “crisis,” as in “financial crisis,” “economic crisis,” and so on. How did this happen? It was almost certainly the result of matching up the old Chinese word wēijī (“latent danger”) with the Western concept of “crisis,” and carried out through the intermediary of Japanese, where it is pronounced kiki. This would make it another of the hundreds of modern Chinese terms that I refer to as “round-trip words” (see Sino-Platonic Papers, 34 [October, 1992]).

Many coinages that made it into twentieth-century báihuà(vernacular Mandarin) are based on traditional uses of words. That is to say, new compounds using jī draw on traditional uses of jī.

There is no traditional use of jī that means “opportunity” per se. Jīhuìis a neologism coined to translate the English word “opportunity.”

To say that jī means “opportunity” is like saying that the zōng ofzōngjiào means “religion” (N.B.: jiào here means “doctrine, teaching”).Zōng traditionally means a line of orthodox transmission, or a clan lineage. It is anachronistic to say that zōng by itself means “religion.” For numerous examples of such calques and neologisms, many (such as those for “economics” and “society”) involving an initial borrowing into Japanese, and then a reborrowing into Chinese with a completely new, Westernized meaning, see Victor H. Mair, “East Asian Round-Trip Words,” Sino-Platonic Papers, 34 (October 1992).

Traditional senses of jī include: mechanism, inner workings (and by extension secrecy), germinal principle, pivotal juncture, crux, or a witty turn of thought.

This is the same jī that was used in the coinage yǒujī (organic), but we can hardly say that jī in and of itself means “organic.”

As examples of recent coinages using jī in innovative ways, we may cite jīzhì, which means “mechanism” or “machine-processed / produced.” There’s also another jīzhì meaning “quick-witted” where the zhì syllable is written with a different character than the zhì syllable of the jīzhìmeaning “mechanism.” The latter jīzhì is based on the same sense of jīwhich is used in the expression dǎ Chánjī — to employ the gnomic, witty language of Chan (Zen) Buddhist teaching stories. If anyone is truly interested in sharpening his or her mind to meet the crises of the future, engagement with this kind of challenging wisdom might be a good place to begin.

Victor H. Mair
Professor of Chinese Language and Literature
Department of East Asian Languages and Civilizations
University of Pennsylvania
Philadelphia, PA 19104-6305
USAWith contributions from Denis Mair and Zhang Liqing.
Thanks also to Don Ringe and Ralph Rosen.Last revised September 2009

If Greece rejected the international “bailout” terms, defaulted on its debts and dropped out of the eurozone, would it really face economic devastation, collapse and disaster?

The International Monetary Fund, the European Central Bank and most economic “news” reports about the crisis say so.

But history says something completely different.

Contrary to what you may have read, lots of countries have been in a similar bind to that faced by the Greeks. And those that chose the so-called nuclear option of devaluation and default did just fine.

Great Britain saw a “V-shaped” economic recovery after it dropped out of the European Exchange Rate Mechanism, the forerunner to the euro, in 1992. Real economic output expanded by 14% over the next five years, IMF records show.

Human beings are adaptable and use some common sense, even without the help of financiers. Gosh. Who knew?
The East Asian “Tiger” economies boomed after dropping their pegs to the U.S. dollar and letting their currencies plunge in 1997-1998. Ditto Russia after it defaulted and devalued in 1998. Ditto Argentina after it defaulted and devalued in 2001-2002.

Those countries saw huge gains in real, inflation-adjusted output per person in the years following the alleged “nuclear” option of devaluation or default. The International Monetary Fund’s own data reveal that from 1998 to 2003, Russia’s output per person soared by more than 40%. So did Argentina’s from 2002 to 2007. So much for “disaster” and “collapse.”

Even the U.S. has been through this. In 1933, in the depths of the Great Depression, U.S. President Franklin Roosevelt outraged bankers by abandoning the gold standard and devaluing the dollar by 70%.

Over the next five years, gross domestic product expanded by around 40% (at constant prices).

If history says financial devaluation or default may turn out just fine on Main Street, the same may even be true of bank closures.

Ireland suffered three massive bank strikes in the 1960s and 1970s, including one that lasted for six months. During that time, people were effectively unable to use banks or get their hands on currency. What happened? The real economy emerged largely unscathed. People coped. They circulated IOUs and endorsed checks as makeshift currencies. They understood that “money” is just an accounting system.

In other words, human beings proved to be adaptable and used some common sense, even without the help of financiers. Gosh. Who knew?

Greek proposals appear closer to creditors’ demands(1:25)
Our grandparents and great-grandparents did something similar here in the U.S. in the early 1930s, at the depths of the Great Depression’s banking crisis, records Loren Gatch, a political-science professor at the University of Central Oklahoma. Towns and even employers that lacked official currency to meet payroll or pay suppliers issued IOUs or notes, he writes. In March 1933, 24 companies in the mill town of New Bedford, Mass., effectively issued their own bank notes, and those were accepted by retailers around the town and circulated at face value, Gatch wrote.

It’s hardly a surprise. Only bankers or fools would think human beings are completely powerless without banks. As for currencies, whether gold or dollars or euros or drachmas: The idea that they have power in themselves is a myth. They are purely a social construct.

Money is merely “a convention…a representative of demand,” and a medium for use in exchanging real things. “[I]t exists not by nature but by law and it is in our power to change it. …”

Who said that? Aristotle. You’d think the Greek prime minister, at least, would have read Aristotle’s “Nicomachean Ethics.”

But, alas, Alexis Tsipras never studied history or philosophy at university. Instead he studied engineering and urban planning. It shows.

 

Bisnis.com, JAKARTA – Berinvestasi di masa seperti ini? Yang bener saja!” Begitulah, ada orang yang takut sekali berinvestasi, apalagi di masa-masa ekonomi sulit seperti sekarang.

Memang kalau kita bicara soal perilaku investasi, ada dua tipe orang. Ada yang terlalu perhitungan, tetapi ada juga yang terlalu kebablasan. Ujung-ujungnya investasinya justru menyengsarakan hidupnya. Namun, hidup memang perlu berinvestasi. Pada masa apapun. Ilmu pertanian mengajarkan kepada kita, “Kalau kita ingin menuai, maka kitapun harus menabur.”Nah, mari kita bicara soal investasi personal macam apa sajakah yang perlu kita lakukan dalam kehidupan ini.

Banyak orang menyebut situasi saat ini sebagai krisis. Tak heran, banyak tulisan seputar krisis menghiasi koran dan majalah. Hal yang paling wajar adalah menjual atau menahan, tetapi bukan lagi investasi. Makanya, baru-baru ini saya menerima sebuah email, “Perusahaan kami sedangtight money policy, semua training dan pendidikan disetop. Pokoknya jualan, gimanamenghasilkan sebanyak-banyaknya. Ibarat kuda, kami terus dipacu berlari, tetapi enggak dikasih rumput yang bagus!”

Ada nasihat para bijak yang mengatakan, kalau mau sukses luar biasa, justru kita harus mampu melakukan hal yang berbeda dengan orang normal pada umumnya.

Saya pun teringat saat ke Lampung di masa krisis 1998. Saya pernah bertemu dengan seorang dari Swiss. Pekerjaannya aneh. Justru di masa krisis, dia mewakili perusahaannya membeli perusahaan dan dibereskan manajemennya, untuk kemudian dijual lagi. Jadi, kalau belajar prinsipnya, justru tatkala orang lain menahan diri dan tidak mau investasi, mereka melihatnya sebagai peluang penting untuk investasi.

Bagaimana dengan diri kita?

Sebenarnya, terlalu terlambat untuk mengkhawatirkan dan mencemaskan hasil kita sekarang. Justru apa yang kita petik sekarang adalah hasil dari apa yang telah kita investasikan di masa-masa sebelumnya. Ingatlah, what you’re enjoying right now, is equal to what you’ve invested.

SAYA TIDAK PUNYA UANG!

Banyak orang yang bilang begini, “Saya enggak punya uang, jadi enggak dapat investasi”. Namun, apakah benar demikian? Malahan menurut saya, sebenarnya uang, hanyalah salah satu dari hal yang dapat kita investasikan. Paling tidak, kalau saat ini dikatakan situasi krisis di mana rata-rata kondisi bisnis slow down, penjualan menurun, minat beli melemah dan produksi berkurang, justru inilah timing  yang tepat untuk ‘menggenjot’ investasi pada diri kita.

Nah, apa sajakah yang sebenarnya dapat kita investasikan? Paling tidak, ada lima hal yang sebenarnya dapat kita investasikan, yakni pikiran, waktu, uang, energi, dan prioritas.

Pikiran, bagaimana kamu menginvestasikan pikiranmu? Waktu, bagaimana kamu menginvestasikan dan menggunakan waktumu? Uang, bagaimana kamu menginvestasikan dan menyimpankan uangmu? Energi, bagaimana kamu menginvestasikan dan mengalokasikan energi terbesarmu? Prioritas, bagaimana kamu memprioritaskan tujuanmu di masa-masa seperti sekarang?

Prinsipnya sederhana. Justru pada saat kebanyakan orang akan berhenti, melemah dan beristirahat, itulah waktu yang tepat untuk melatih dan menginvestasi energi, waktu maupun uang kita. Dengan demikian, tatkala kondisinya membaik, dan kesempatan baik akhirnya tiba, justru kitalah yang paling siap dan mendapatkan paling banyak keuntungan.

Di sinilah berlaku prinsip trade off juga, yakni menukar kesenangan dengan sesuatu yang kita prioritaskan, meski itu sakit rasanya. Dengan menginvestasikan waktu dan energi (dan mungkin keuangan) dari diri kita di masa-masa sekarang, serta menukar segala kesenangan dan istirahat yang dapat kita lakukan, kita menyambut peluang dan kesempatan. Jadi, berpikirnya bukan soal kondisi yang sulit sekarang ini, tetapi masa depan yang cerah, yang akan datang.

Dalam hal ini, kita dapat belajar dari Larry Bird, salah seorang pemain NBA legendaris yang terkenal dengan tembakan tiga angkanya. Tatkala temannya santai dan melepaskan lelah sepulang sekolah, dia memaksa dirinya latihan tembakan minimal 100 kali tembakan, sebelum pulang. Dan, tatkala kesempatan menjemputnya, dia pun mampu menyambutnya. Inilah hasil dari investasi waktu dan tenaga yang telah dilakukannya.

PRINSIP INVESTASI DIRI

Pertama-tama, ingatlah prinsip investasi keuangan yang mengatakan, “Normal return, follow the crowd! Extraordinary return, against the crowd!” Dikatakan, seringkali mereka yang suksesnya luar biasa, justru mereka yang melawan yang umum. Contohnya, jika umum menjual, dia justru membeli.

Begitu pula, tatkala di masa krisis, orang berhenti belajar. Orang beristirahat karena slow down. Inilah waktu untuk lebih giat, juga waktu memacu diri karena umumnya orang akan beristirahat,slow down ataupun berhenti. Bagi kebanyakan, krisis diartikan sebagai in-active atau tidak melakukan apapun. Lakukanlah sebaliknya.

Penting juga dalam hal menginvestasikan sesuatu, kita tahu bedanya antara harga (price ) dengan nilai (value). Ada yang harganya mahal, tapi tidak bernilai. Mungkin makanan tidak sehat (junk food), dapat kita jadikan sebagai contoh.

Namun, ada juga barang atau sesuatu yang tampaknya mahal, tapi nilainya begitu tinggi di masa mendatang. Sebagai contoh, baru-baru ini saya mengikuti training  beberapa hari senilai Rp50 juta di Filipina. Kelihatannya mahal. Akan tetapi, kalau dibandingkan dengan nilai yang akan saya peroleh, harga Rp50 juta itu sebenarnya amatlah kecil. Inilah contoh nilai yang melebihi harga.

Nah, begitu pula dalam hal berinvestasi. Kita pun mesti cerdik. Dan selalulah berpikir ke depan. Jangan terpaku dengan kondisi kriris saat ini. Segalanya sudah terlambat untuk sekarang. Lebih baik, pikirkan ke depan. Pikirkan, pada saat segalanya kembali membaik, apakah hal yang dapat kamu invesasikan sekarang yang justru akan menguntungkan dirimu?

*) ANTHONY DIO MARTIN, The Best EQ Trainer Indonesia, motivator, trainer dan  direktur HR Excellency. http://www.hrexcellency.com

tren TURUN (bear1$h) ITU BAGU$ bwat SAHAM2 gw… KEJAR max (07-080915)

per closing of 08th of September 2015, the trading results as follows:

all trading 080915perb tren ihsg _ pg%gab_tanpaOTB 080915Aperb tren ihsg _ pg%gab_tanpaOTB 080915Bperb tren ihsg _ pg%gab_tanpaOTB 08092015_nov2012_des2012_sjk Jan2013

tren inves + trading @ asii, unvr, wika, n bbri di warteg KBSU gw sbb:

perb tren ihsg _4 saham unggulan 080915 perb tren ihsg _4 saham unggulan 080915B

 

per closing of the trading day (7th of September 2015), the trading results as follows:

perb tren ihsg _ pg%gab_tanpaOTB 040915Aperb tren ihsg _ pg%gab_tanpaOTB 070915Aperb tren ihsg _ pg%gab_tanpaOTB 070915Bperb tren ihsg _ pg%gab_tanpaOTB 07092015_nov2012_des2012_sjk Jan2013

tren 4 saham unggulan per closing of the trading day on 7th of September 2015:

perb tren ihsg _4 saham unggulan 070915 perb tren ihsg _4 saham unggulan 070915B

 

secara fundamental setidaknya ada beberapa GEJALA (bukan SEBAB) pada Sep-Des 2015:

tren harga minyak (amat dominan dalam urusan energi global)

tren perlambatan ekonomi di LUAR AMRIK (terutama CHINA)

tren penurunan NILAI n VOLUME ekspor GLOBAL (para eksportir tetap berlaba, walo melambat)

tren DEFLASI (terutama di negara2 berkembang BUKAN NEGARA MAJU, kecuali Jepang)

tren CAPITAL OUTFLOW melesat menuju AMRIK, JEPANG (safe haven)

nah, itu sebabnya INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN MEROSOT TRU$

… secara teknikal ada alasan kuat bahwa TREN PENURUNAN DALAM JANGKA PANJANG, MENENGAH n PENDEK sudah terjadi di BANYAK BURSA SAHAM global, termasuk INDONESIA:

… jadi GAMPANG BANGET MEMASTIKAN TREN PENURUNAN di IHSG, bwat seorang TRADER SETIDAKNYA SUDAH AMAT MENGURANGI SATU KENDALA VITAL, yaitu MENENTUKAN ARAH PASAR sehingga BISA MENYESUAIKAN METODE TRADING, yaitu JUAL DI HARGA TINGGI, BELI DI HARGA RENDAH

… misalnya harga saham penutupan yang terakhir @100, lalu kondisi bursa saham terbukti TURUN, lalu pasang jual di 100, lalu beli di 95, maka tinggal tunggu kapan 2 tingkat harga tersebut tergapai, sehingga LABA TERCAPAI

… misalnya, harga saham penutupan yang terakhir @100, lalu kondisi bursa saham terbukti TURUN, lalu pasang BELI @98, lalu tunggu order beli tersebut TERBENTUK (matched, done), lalu pasang JUAL @100, lalu tunggu s/d matched/ done … saat 2 tingkat harga tersebut terbentuk, maka LABA TERCAPAI

… misalnya, harga saham penutupan @100, tren bursa turun, lalu pasang beli @ 98, 95, 90, sementara jual @97, 93, tunggu semua tingkat harga tersebut hingga s/d matched/done … lalu saat done/matched semuanya, maka LABA TERCAPAI

… tinggal MENENTUKAN JUMLAH LOT SAHAM YANG AKAN DIPASANG HARGANYA

… bwat gw TRADING SAAT TURUN ITU MENARIK, terutama karna gw memilih saham yang masih punya fundamental bagus dalam jangka menengah s/d AKHIR 2015, dan gejala2 ekonomi global sedang dalam PEMULIHAN menuju PERBAIKAN yang NYATA

… pada saat gw BELI SAHAM YANG SEDANG ANJLOK berarti bahwa RERATA HARGA BELI SAHAM gw juga MEROSOT TRUS aka LEBE RENDAH, sehingga saat terjadi PEMBALIKAN ARAH MENUJU PERBAIKAN EKONOMI, tren harga saham DAPAT DIEKSPEKTASIKAN JUGA NAEK (bahkan sebelum terjadi perbaikan ekonomi)… berarti saat semua hal itu terjadi gw MEMPEROLEH DUA KALI PEMBENTUKAN LABA, laba jangka pendek (saat trading), n jangka menengah s/d panjang (saat INVES)

… well, liat aza 🙂

BINGUNG PILIH SAHAM BAGUS :P, bagus lah

sudah ada 22 posting gw soal memilih saham bagus
jelas semakin banyak posting, akan SEMAKIN MEMBINGUNGKAN lah
itu MEMANG TUJUAN gw, karena SEJAK AWAL gw uda bilang:
I’m a lousy forecaster
I’m not intending to become A GOOD STOCK INVESTOR
I’m ALL about being a STOCK TRADER with PROFITS
that’s it

3 saham inves warteg gw masuk KATEGORI FORBES GLOBAL 2000 :

JAKARTA kontan. Dua perusahaan Indonesia terdepak dari daftar 2.000 perusahaan terbesar dan terbaik di dunia versi majalah Forbes. Kedua perusahaan itu adalah PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN).

Justin Doebele, Chief Editorial Advisor Forbes Indonesia mengatakan, hal tersebut merupakan buntut dari melambatnya perekonomian dan ambruknya nilai tukar rupiah. Dua faktor ini memberikan dampak negatif bagi kondisi SMGR dan BDMN.

“Tetapi, masih ada tujuh perusahaan yang masuk dalam daftar,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Kamis (7/5).

Enam dari tujuh perusahaan merah putih yang ada di dalam daftar tersebut adalah korporasi BUMN. Adapun, lima dari tujuh perusahaan itu ada di peringkat 1.000 teratas. Mereka adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Emiten bank pelat merah ini ada di peringkat 457 dari 2.000 korporasi terbaik di dunia.

Lalu, PT Bank Mandiri Tbk (BMR) di peringkat 490, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di posisi 630. Selanjutnya, ada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) di posisi 783, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) di peringkat 927, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) di posisi 1.524 dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) di peringkat 1.679.

Ketujuh korporasi ini sudah lima tahun berturut-turut ada masuk ke dalam daftar perusahaan terbaik di dunia. Bahkan, dua tahun terakhir, ada tujuh perusahaan, sebelum SMGR dan BDMN terdepak.

Editor: Yudho Winarto

JAKARTA  07 Mei 2015- Terdapat sejumlah perusahaan terbuka Indonesia yang masuk daftar Forbes Global 2000.Global 2000 adalah daftar perusahaan di dunia yang memiliki pengaruh yang kuat.

Artinya, perusahaan dalam daftar ini memiliki tingkat pendapatan yang tinggi, laba, aset dan market value.

Pada daftar Forbes Global 2000 tahun 2015, hanya ada tujuh perusahaan Indonesia yang masuk daftar ini. Menurun dibandingkan tahun 2014, di mana ada sembilan perusahaan yang mewakili Indonesia dalam daftar tersebut.

Seperti dilansir Forbes, Kamis (7/5/2015), berikut perusahaan terbuka Indonesia yang masuk daftar bergengsi tersebut.

1. Peringkat 457. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI)

Pendapatan: USD6,9 miliar

Laba: USD2 miliar

Aset: USD64,8 miliar

Market value: USD24,9 miliar

2. Peringkat 490. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Pendapatan: USD7,1 miliar

Laba: USD1,7 miliar

Aset: USD69 miliar

Market value: USD22 miliar

3. Peringkat 630. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Pendapatan: USD4,4 miliar

Laba: USD1,4 miliar

Aset: USD44,6 miliar

Market value: USD28,9 miliar

4. Peringkat 783. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Pendapatan: USD7,6 miliar

Laba: USD1,2 miliar

Aset: USD11,4 miliar

Market value: USD22,1 miliar

5. Peringkat 927. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Pendapatan: USD3,6 miliar

Laba: USD909 juta

Aset: USD33,6 miliar

Market value: USD10,4 miliar

6. Peringkat 1.542. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

Pendapatan: USD3,4 miliar

Laba: USD721 juta

Aset: USD6,2 miliar

Market value: USD9,1 miliar

7. Peringkat 1.679. PT Gudang Garam Tbk (GGRM)

Pendapatan: USD5,5 miliar

Laba: USD453 juta

Aset: USD4,7 miliar

Market value: USD7,7 miliar.

 

http://economy.okezone.com/read/2015/05/07/278/1145999/cuma-tujuh-perusahaan-tbk-indonesia-masuk-daftar-global-2000
Sumber : OKEZONE.COM

per tgl 24 Desember 2014 (FOKUS: kejar pesawat qz8501)

gw balek dari java overland seh, nyaris dua puluh kota gw lalui, mulai dari kuliner simpang lima Semarang, museum R.A. Kartini di Rembang, pelelangan pelabuhan Bulu di Tuban, keindahan laut/pantai pantura di Tuban,  jembatan Suramadu, wisata Batu Malang, pantai Balekambang Malang n pura Amerta Jatinya,  kuliner kota Malang, swike PING jl Sugiono  Purwodadi, dan tauto PPIP kota Pekalongan. Siap2 trading besok 29 Desember 2014 neh :

perb tren ihsg _ pg%gab_tanpaOTB 241214 perb tren ihsg _ pg%gab_tanpaOTB 241214_nov2012_des2012_sjk Jan2013

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya

Statistik Kunjungan

  • 24,998 hits

Posting gw

Kalender Tahun Ini

Desember 2017
S S R K J S M
« Okt    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Kategori

neh gw ngetwit youw

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.