//
arsip

maen saham ala serigala

This tag is associated with 2 posts

ihsg TGL 05 Juli 2012

VIVAnews – Aksi beli pelaku pasar saham di Bursa Efek Indonesia masih ramai, meski indeks harga saham gabungan rawan tertekan secara teknis, karena empat hari terakhir menguat berturut-turut.

IHSG dibuka naik ke level 4.086,32 pada perdagangan Kamis 5 Juli 2012, melanjutkan prapembukaan pagi tadi yang menguat 10,42 poin atau 0,25 persen di posisi 4.086,34.

Menurut analis PT Equator Securities, Gina Novrina Nasution, penguatan IHSG pada awal transaksi hari ini dipicu sentimen pencatatan perdana saham PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) di BEI dan aksi beli saham sektor tambang, perkebunan, dan properti.

“Jadi, hal itu membuat pasar masih ramai, walau cenderung terkoreksi secara teknis,” kata dia kepada VIVAnews di Jakarta, Kamis.

Selain itu, dia menambahkan, bursa regional Asia yang berfluktuasi turut memberikan sentimen ke lantai bursa domestik. Tercatat, indeks Nikkei dan Kospi dibuka melemah tipis, sedangkan Straits Times dibuka menguat.

Kendati demikian, Gina mengaku bahwa IHSG lebih cenderung tertekan, karena dalam hampir sepekan perdagangan menguat banyak. “Jadi, kalau naik juga terbatas,” tuturnya.

Terbukti, pada menit keempat setelah perdagangan dibuka, indeks terkoreksi dan hingga berita ini diturunkan kembali bercokol di teritori negatif, meski masih bertahan di atas level psikologis 4.000.

Analis PT Panin Sekuritas Tbk, Purwoko Sartono juga berpendapat bahwa indeks berpeluang terkoreksi, karena dalam empat hari terakhir menguat berturut-turut dan cukup tinggi penguatannya.

“Sisi teknis menunjukkan potensi pelemahan,” kata dia saat dihubungi VIVAnews di Jakarta.

Menurut Purwoko, sentimen eksternal seperti aksi pelaku pasar global yang menanti keputusan Bank Sentral Eropa hari ini mengenai tingkat suku bunga acuan perbankan, — yang membuat laju bursa Asia Pasifik tertahan pagi ini– turut memengaruhi IHSG.

Sementara itu, pada transaksi perdana hari ini, saham Kobexindo hingga pukul 10.05 WIB menguat Rp50 (12,5 persen) ke level Rp450, dari harga perdana Rp400. Harga saham di sektor alat berat ini sempat menguat ke level tertinggi Rp480 dan terendah Rp420 per saham.

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/332866-rawan-tekanan–ihsg-dibuka-menguat

Sumber : VIVA.CO.ID
Investor Alih ke Saham Jangka Pendek
Tribunnews.com – Rabu, 4 Juli 2012 19:25 WIB

TRIBUNNEWS.COM, PONTIANAK – Perdagangan IHSG ditutup menguat 26,02 ke level 4.075.91. Perdagangan didukung oleh nilai transaksi sebesar Rp 5,7 triliun dengan digerakkan oleh 154 saham naik, 88 saham turun dan 104 saham stagnan.

Branch Manager Valbury Sekuritas Pontianak, Tony, mengatakan asing masih melakukan aksi net buy dengan nilai mencapai hingga Rp 594 miliar, Rabu (4/7/2012). “Kelihatan pada akhir perdagangan hari ini para investor melakukan aksi profit taking pada beberapa saham,” ujarnya.

Beberapa saham yang terapresiasi yaitu AALI 22.300 +1200, UNTR 23.500 + 1200, PTBA 16.350 +950. Sedangkan saham-saham yang koreksi yaitu MYOR 22.700 -1550, GGRM 61.500 -1500, UNVR 24.050 – 700.

Sementara untuk perdagangan besok, Kamis (5/7/2012) investor mungkin dapat melakukan profit taking ataupun dapat beralih ke beberapa saham-saham yang dapat dibeli dalam jangka pendek / intraday yaitu LPCK 3475-3775, PGAS 3475-3625, BSDE 1180-1290.

Naik Terbatas, Inilah Saham Seksi Hari Ini
 
 
Oleh: Restu A Putra
pasarmodal – Kamis, 5 Juli 2012 | 04:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – IHSG pada perdagangan Kamis (5/7/2012) diperkirakan bergerak menguat terbatas di kisaran 4.050-4.150.

Demikian ungkap pengamat pasar modal dari Henan Putihrai, Felix Sindhunata kepada INILAH.COM, kemarin. “Potensi IHSG diperkirakan menguat terbatas karena pengaruh eksternal seperti pasar Amerika Serikat yang dipastikan libur memperingati Hari Kemerdekaan negaranya dan Eropa masih mixed,” ujar Felix.

IHSG pada perdagangan kemarin, Rabu (4/7/2012) berakhir menguat seiring masih positifnya sentimen di bursa global dan penguatan harga komoditas. Sementara aksi profit taking dari beberapa sektor yang telah menguat signifikan dalam sepekan terakhir, tidak terlalu membebani bursa.

Selain itu sentimen Asia, menurut Felix tidak terlalu mempengaruhi pergerakan IHSG Kamis hari ini, karena arahnya yang tidak jelas. Adapun sentimen regional meskipun ada inflasi namun masih tetap menunjukkan kenaikan untuk IHSG. “Sentimen regional tidak terlalu berdampak, IHSG masih mengekor pada sentimen global terutama Amerika Serikat dan Eropa,” ujarnya.

Untuk sektor pendorong, Felix masih memperkirakan sektor perkebunan dan pertambangan. Kedua saham dari sektor ini menjadi incaran para investor. Adapun saham-sahamnya yaitu PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah (Persero) Tbk (TINS), dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

Hal senada diungkapkan pengamat pasar modal dari Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo menekankan saham di sektor pertambangan. Di sektor ini terutama batu bara masih jadi prioritas investor melirik sahamnya. Hal ini karena saham batu bara regional sempat rebound dan sektor pertambang dua sampai tiga hari bakal naik tajam.

“Pergerakan saham diperkirakan pada batu bara. Kemungkinan masih berlanjut atau reversal kita liha besok (hari ini),” katanya. Sementara sentimen luar negeri menurutnya masih belum ada yang baru. [hid]

Iklan

PANEN tiba (kejar 1 M, 116, H-119)

order transaksi:
OT A
imas beli @10500
blta beli @250
mapi beli @4125
apln beli @330, jual @335, 345; full matched @330, 335
asia jual @55, 59
elsa jual @280
masa jual @530, 600
kija jual @166, 169,170; full matched @166, 169, 170
bnii jual @465, 510; full matched @465
trub jual @52, 54, 59; full matched @52
bumi beli @2650, jual @2675, 2700; full matched @2650, 2675

… proses bank sentral amrik yang PALING DITUNGGU pa$ar:
Bernanke Time Commitment on Benchmark Rate Spurs Most Dissents Since 1992
By Craig Torres and Josh Zumbrun – Aug 9, 2011

Ben S. Bernanke lost the full consensus of the Federal Open Market Committee as he reached for another non-traditional tool and provoked three dissenting votes in the process — the most for a Federal Reserve chairman since 1992.

For the first time today, U.S. central bankers specified a date for their commitment to low borrowing costs, saying the benchmark rate will stay in a range of zero to 0.25 percent at least through mid-2013. The new language replaces their prior promise to keep rates low for an “extended period.”

Today’s decision shows that a Fed chief can govern with more than two opposing votes, and it opens the door to bolder action if necessary, said Roberto Perli, a former economist in the Fed’s Division of Monetary Affairs, which helps craft the language of the FOMC statements.

“We have reached the point where Bernanke is taking control and saying we have to do the right thing no matter how many people dissent,” said Perli, a managing director at International Strategy & Investment Group in Washington. “It shows the committee can move forward.”

Seven members of the panel favored the action. Richard Fisher, president of the Federal Reserve Bank of Dallas, Charles Plosser of Philadelphia and Narayana Kocherlakota of Minneapolis voted no, preferring to maintain the existing “extended period” language. The last time three FOMC voters dissented was on Nov. 17, 1992, under Bernanke’s predecessor, Alan Greenspan.
History of Discomfort

Fed officials have a long history of discomfort with pledges that limit their policy flexibility, minutes of their meetings show. The deterioration of the economic outlook, and the limits of monetary policy when interest rates are already near zero, prompted Bernanke to opt for the time commitment — even at the cost of three dissenting votes, said former Fed Governor Laurence Meyer.

“He must be unhappy about that, but with no regrets,” said Meyer, now a senior managing director at Macroeconomic Advisers LLC. “The chairman is the decider, and he will do whatever he thinks needs to be done.”

Ten-year Treasury yields touched a record low, and U.S. stocks rebounded from the worst drop since 2008. The Standard & Poor’s 500 Index gained 4.7 percent to 1,172.53 at the 4 p.m. close of trading in New York. The 10-year yield fell as low as 2.03 percent before paring its decrease to 2.25 percent.

The Federal Open Market Committee lowered its economic assessment, saying it now “expects a somewhat slower pace of recovery over the coming quarters.” It left the door open for more action, saying it discussed “the range of policy tools available to promote a stronger economic recovery.”
More Action

The dissents may have weighed against stronger action for now, said Vincent Reinhart, a former director of the Monetary Affairs Division. With the dissents out of the way, the FOMC majority could push for further easing at the Fed’s annual conference in Jackson Hole, Wyoming, later this month, he said.

“The dissents signal a strongly divided committee,” said Reinhart, a resident scholar at the American Enterprise Institute in Washington. The Bernanke majority “did less than they wanted to probably. But they set themselves up for Jackson Hole to be a midcourse correction.”
… pasar saham indon SEBENARNYA relatif TENANG dan NYAMAN:
Selasa, 09/08/2011 20:02 WIB
Bapepam: Kejatuhan IHSG Bukan Karena Aksi Forced Sell
Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan sejak akhir pekan lalu akibat krisis utang di AS dan Eropa. Sampai saat ini belum ada aksi forced sell yang terdeksi otoritas bursa.

Menurut Kepala Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Nurhaida, saat ini kondisi perdagangan saham jauh berbeda dengan saat krisis 2008, di mana banyak pelaku pasar yang melakukan perdagangan margin.

“Kondisi saat ini beda sekali dengan 2008 di mana margin trading banyak sekali dilakukan dan sangat-sangat spekulatif. Beda dengan sekarang, margin trading sekarang sudah ada aturannya yang jelas,” ungkapnya dalam jumpa pers di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (9/8/2011).

Nurhaida menyatakan berdasarkan hasil pantauan pihaknya, hingga kini belum ada laporan forced sell besar-besaran. Dia menegaskan hal tersebut disebabkan adanya kebijakan yang lebih baik saat ini.

“Laporan harian margin trading tidak terlalu besar dan juga bukan yang spekulatif. Sampai saat ini kami belum lihat adanya laporan terjadi forced sell ataupun forced sell besar-besaran. Kami anggap karena sudah diatur lebih baik maka transaksi margin ini lebih reasonable,” jelasnya.

Demikian pula dengan yang terjadi pada perdagangan short selling. Ia pun mengaku belum melihat indikasi adanya perdagangan short selling hingga hari ini. Namun bila terindikasi adanya tren tersebut dalam kondisi saat ini maka Bapepam-LK punya kewenangan untuk memberhentikannya.

“Sampai saat ini kita belum lihat indikasi short-selling tapi Bapepam-LK punya kewenangan penghentian short selling kalau dianggap perlu melihat tren yang terjadi. Kalau short selling nilainya besar dan tidak sesuai dengan ketentuan, bisa saja Bapepam melakukan penghentian short selling. Sampai saat ini short selling masih dibolehkan dengan persyaratan-persyaratan dan kondisi-kondisi yang memang sudah ada kriteria yang jelas tentang short selling,” tandasnya.

Forced sell atau jual paksa merupakan hak yang dimiliki sekuritas terkait adanya fasilitas marjin di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bagi sebagian investor, terlebih bagi kalangan awam, istilah forced boleh jadi terasosiasi dengan segala momok yang menyeramkan dalam investasi di pasar modal.

(nia/dnl)
… pemerintah siapkan DANA DARURAT KRISIS 2011, kalo terjadi, seh:
Selasa, 09/08/2011 19:51 WIB
Pemerintah Mengaku Siapkan Dana Mitigasi Krisis Ekonomi Rp 103 Triliun
Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Antisipasi krisis ekonomi, pemerintah Indonesia menyiapkan dana mitigasi Rp 103,1 triliun pada APBN-P 2011. Dana tersebut dialokasikan dalam empat pos anggaran. Selain itu, pemerintah merencanakan pembelian kembali (buyback) obligasi negara sebesar Rp 3,07 triliun.

Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro menyebutkan dalam APBN-P 2011 pemerintah mengalokasikan anggaran belanja yang polanya diarahkan untuk memitigasi krisis ekonomi.

Pertama, mengalokasikan dana cadangan risiko perubahan asumsi makro dan stabilisasi harga Rp 4,7 triliun. Kedua, melalui pos belanja bantuan sosial sebesar Rp 81,8 triliun yang digunakan untuk mendanai Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), Program Keluarga Harapan (PKH), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), dan mitigasi bencana alam.

Ketiga melalui anggaran subsidi pangan Rp 15,3 triliun. Keempat, pemberian beras untuk rakyat miskin atau Raskin ke-13 sebesar Rp 1,3 triliun.

“Selain itu, pemerintah menyiapkan pula sejumlah langkah mitigasi krisis. Yaitu melalui buyback SBN, lalu bond stabilization framework, dan juga ada manajemen protokol krisis,” jelasnya dalam jumpa pers di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (9/8/2011).

Menurut Bambang, risiko investasi Indonesia mengalami kenaikan belakangan ini karena sentimen global yang bermuara dari krisis utang di Amerika Serikat dan Eropa. Hal itu tercermin dari meningkatnya credit default swap (CDS) Indonesia untuk yang berjangka waktu 10 tahun, dari 186.46 per 31 Juli 2011 menjadi 202,75 pada 5 Agustus 2011, dan 240,37 pada 8 Agustus 2011.

“CDS Indonesia kira-kira hampir sama dengan Filipina yang sebesar 234.98, serta Turki 231.11. Jadi memang ada peningkatan risiko, tapi kenaikan risikonya masih pada tahap bisa di-manage,” ujarnya.

Bambang menyatakan meningkatnya risiko juga bisa dilihat dari penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang juga memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Bursa terpengaruh signifikan tapi rupiah terkontrol,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto menyatakan pada dasarnya pasar obligasi negara bisa merefleksikan keyakinan pelaku pasar terhadap pemerintah. Saat ini obligasi negara sebesar Rp 690 triliun dipegang oleh investor institusi di pasar domestik, seperti perbankan, asuransi, dana pensiun, reksa dana, dan perorangan. Sementara sisanya, sekitar Rp 249 triliun dipegang oleh asing.

“Jadi kalau krisis di pasar SBN, itu dampak yang terjelek dua itu. Yang pertama cost of borrowing (biaya Utang) pemerintah naik dan akan membebani APBN, dan kedua reversal, karena Rp 249 triliun SBN yang dipegang asing mungkin sebagian akan keluar,” ujarnya.

Namun, jelas Rahmat, sejauh ini belum ada indikasi terjadinya krisis di pasar surat utang negara (SUN). Untuk mengantisipasi itu, pemerintah sudah memiliki krisis manajemen protokol dan menyiapkan kebijakan buyback SBN.

“Situasi pasar masih normal, namun kita harus waspadai prakrisis dan krisis. Kemarin terjadi nett sell asing sebesar Rp 3,86 triliun, dan hari ini turun jadi Rp 1,24 triliun. sebelumnya, Jumat (pekan lalu) Rp 663 miliar,” pungkasnya.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang mengungkapkan pemerintah merencanakan buyback SBN pada tahun ini sebesar Rp 3,07 triliun. Dari rencana tersebut, sejauh ini realisasinya baru sebesar Rp 367,2 miliar.

(nia/dnl)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya

Statistik Kunjungan

  • 24,998 hits

Posting gw

Kalender Tahun Ini

Desember 2017
S S R K J S M
« Okt    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Kategori

neh gw ngetwit youw

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.