//
arsip

maen saham

This tag is associated with 3 posts

kejar 1 M (120) H-115 (jaga2 … as alway$)

order transaksi:
OT B
adro jual @2425; full matched @2425
bumi beli @2675; full matched @2675
OT A
bumi beli @2650, jual @2775; full matched @2775
trub beli @52, jual @55, 56
asia beli @54, 55, jual @56, 57; full matched @56, 57, 55, 54
bnii beli @470, 475, jual @480; full matched @480, 475, 470
elsa beli @245, jual @250, 260; full matched @245

wika beli @600, 610, jual @620; full matched @610
kija beli @188, jual @192, 194, 195; full matched @192
blta beli @260, 265, jual @275; full matched @265



… well, ASIEN-k BALEK lage ke bursa saham indon 😛 … cuma cari untung seh 😦 … tapi imbasnya positif ke ihsg dan harga saham2 gw 🙂

Jaga Keselamatan Aset Anda
Simon Saragih | Marcus Suprihadi | Senin, 15 Agustus 2011 | 07:43 WIB

KOMPAS.com-Tidak sedikit “yang terbakar” di saat krisis muncul tahun 2008 lalu. Contoh nyata adalah para nasabah Lehman Brothers yang membeli surat berharga Lehman Brothers lewat Citibank. Kertas berharga yang bernilai ratusan juta rupiah benar-benar berharga. Apakah hal seperti itu akan bisa terulang lagi?

Keadaan sekarang sebenarnya jauh lebih tak aman. Jika pada tahun 2008 lembaga keuangan yang tak aman relatif sebatas di Amerika Serikat, kini melebar lebih luas. Krisis juga melanda Eropa, yang tadinya sebatas di pinggiran Eropa, kini melanda negara inti Uni Eropa seperti Perancis, Spanyol, dan Italia.

Persoalan kini jauh lebih buruk dari sekadar kejatuhan harga-harga saham. Persoalan lebih struktural kini melanda bahkan sampai ke negara-negara yang juga sudah kekurangan dana seperti Yunani, Portugal, Irlandia.

Kini, kesulitan juga melanda Italia dan Spanyol. Ini terlihat dari pertama kali Bank sentral Eropa (ECB) turun tangan membeli obligasi Perancis dan Spanyol. Ini melanggar asas tugas ECB sebagai pengontrol inflasi.

Kepercayaan konsumen juga telah mencapai titik terrendah sebagaimana diberitakan kantor berita Reuters, Jumat (2/8) lalu. Dari sektor keuangan, pemerintahan, kini persoalan merembet ke sektor konsumen.

“Keyakinan berjatuhan sehubungan dengan semua hal telah menganggu pasar,” kata Kurt Karl, ekonom senior di Swiss RE, cabang New York.

Karena itu, asset-aset denominasi dollar AS dan Uni Eropa sebaiknya dihindari. Terlebih-lebih surat berharga dan simpananan dalam denominasi kawasan itu. Jika tidak diputus, dikurangi saja.

“Inilah sebuah kepanikan, dan benar-benar panik,” kata James Paulsen, ahli strategi investasi di Wells Capital Management, yang mengelola asset investasi sebesar 340 miliar dollar AS.

Hal seperti ini sudah dilakukan oleh sebuah bank di Singapura, yang mengurangi eksposur kredit ke sebuah bank di Eropa.

Menerka pasar keuangan 2011

Oleh

Senin, 15 Agustus 2011 | 01:23 WIB

bisnis indonesia

Secara teori, pergerakan harga di pasar keuangan merefleksikan antisipasi pelaku pasar terhadap kondisi fundamental perekonomian. Apabila inflasi diperkirakan menurun dan credit rating dipertimbangkan meningkat maka imbal hasil (yield) obligasi akan membaik.

Jika suku bunga diperkirakan turun dan pertumbuhan ekonomi membaik maka harga di pasar saham dan di pasar komoditas akan meningkat. Dan selanjutnya aliran modal dari luar negeri yang masuk ke pasar keuangan akan membuat kurs mata uang terapresiasi.

Empat hal tersebut terjadi di pasar keuangan Indonesia pada 2010. Yield obligasi Surat Utang Negara (SUN) berjangka 10 tahun membaik signifikan dari 10 % ke 7,9% karena investor mengantisipasi perbaikan credit rating ke investment grade.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) meningkat 46%, suatu pertumbuhan yang spektakuler dari 2.534 ke 3.703 didorong oleh peningkatan laba perusahaan Indonesia dan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan menembus 6%. Pada 2010, harga kelapa sawit menguat 43%, harga batu bara naik 31%, dan harga karet meningkat 107% seiring dengan tingginya permintaan di negara berkembang seperti China dan India yang sedang mengalami booming economy.

Penambahan aliran modal asing yang masuk ke Surat Utang Negara pada 2010 mencapai sekitar Rp90 triliun, belum lagi ditambah dengan aliran modal asing yang masuk ke Sertifikat Bank Indonesia dan pasar saham. Sepanjang 2010, pasar modal Indonesia berhasil memberikan dana Rp103 triliun kepada para emiten yang melakukan IPO, rights issue, dan penerbitan obligasi.

Bank Indonesia dalam rangka memupuk cadangan devisa dan menghindari rupiah yang terlalu kuat, telah membeli dolar AS yang masuk ke pasar keuangan. Jika tidak ditahan oleh Bank Indonesia maka kurs rupiah kemungkinan sudah menembus angka Rp8.500 per dolar AS. Cadangan devisa sudah mencapai US$93 miliar, naik dari akhir 2009 yang hanya US$66 miliar.

Masih akan naik

Apakah pada 2011 pasar keuangan Indonesia masih akan menikmati kenaikan harga saham, pembaikan yield SUN, penguatan rupiah, dan kenaikan harga komoditas?

Banyak analisis yang mengatakan bahwa pada tahun ini indeks harga saham masih akan naik, kurs rupiah masih akan stabil atau menguat, harga komoditas energi dan pangan akan terus meningkat, tapi yield obligasi SUN akan memburuk (naik).

Mari kita bahas satu persatu. Harga saham Indonesia di indeks 3.703 secara valuasi sebenarnya sudah tidak murah, yaitu sekitar 14 x PER (price earning ratio) 2011. Seiring dengan perbaikan kondisi politik dan ekonomi maka valuasi saham Indonesia dalam 10 tahun terakhir meningkat dari 5 x PER menjadi 14 x PER.

Akan tetapi valuasi pasar saham Indonesia pernah mencapai 18 x PER pada awal 2008, bahkan dulu pernah mencapai 20 x PER pada era 1993–1997.  Di era 1993–1997 pertumbuhan ekonomi Indonesia memang lebih tinggi dari pada saat ini, yaitu diatas 6,5%. Akan tetapi profitabilitas atau return on equity (RoE) emiten bursa saham Indonesia  saat ini lebih tinggi dari pada di era 1995–1997 contohnya emiten perbankan, semen, batubara, dan perkebunan.

Emiten di bursa saham Indonesia saat ini banyak yang memiliki RoE di atas 20%, artinya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yield Surat Utang Negara berjangka 10 tahun (7,5%). Pada 2011 menurut data Mandiri Sekuritas, diperkirakan 56 emiten besar akan memiliki pertumbuhan laba (earning per share) sebesar 27% dengan RoE 23%. Dengan keyakinan bahwa ekonomi negara maju pertumbuhannya masih lebih lambat dibandingkan dengan negara di Asia, maka pasar saham Asia masih akan lebih menarik dibandingkan dengan pasar saham negara maju.

Berpegang pada skenario optimis tersebut, beberapa analis memakai target valuasi PER 17–18 kali untuk peningkatan indeks saham Indonesia di 2011 atau setara dengan IHSG 4.300–4.500. Pada 2011 tampaknya saham sektor energi, metal, dan perkebunan, akan lebih bergairah dibandingkan dengan saham sektor perbankan, infrastruktur, dan konsumsi.

Akan tetapi investor tetap harus waspada terhadap ancaman inflasi akibat kenaikan harga komoditas karena bank sentral kemungkinan akan bereaksi dengan melakukan pengetatan moneter. Kondisi stabilitas ekonomi di Eropa juga harus dipantau. Di saat valuasi sudah tidak murah maka pasar saham mudah terkoreksi oleh berita berita negatif.

Sudah mulai terlihat di kuartal IV/2010 bahwa tekanan harga pangan dan energi telah meningkatkan inflasi di Indonesia menjadi di atas 6,5%. Kenaikan inflasi berakibat negatif bagi pasar obligasi Surat Utang Negara berhubung yield-nya saat ini cukup rendah.

Jika kenaikan inflasi tidak ditanggapi oleh bank sentral dengan pengetatan moneter maka investor akan mulai menjual sehingga yield SUN akan meningkat sekitar 100 bp (basis poin), misalnya menjadi 9,0% untuk SUN jangka waktu 10 tahun. Apalagi jika terjadi pemburukan pada situasi fiskal negara Eropa (Yunani, Irlandia, Portugal, Spanyol, Itali) maka pasar SUN bisa ikut terpengaruh negatif.

Selain ditentukan oleh jumlah modal asing yang masuk, kurs rupiah juga ditentukan oleh kebijakan Bank Indonesia. Menurut perkiraan Bank Dunia, modal portofolio asing diperkirakan masih masuk sekitar US$14,3 miliar pada 2011, sedikit turun dibandingkan US$15,9 miliar yang masuk pada 2010.

Dengan menguatnya harga komoditas maka ekspor Indonesia juga akan meningkat, demikian pula cadangan devisa berpotensi naik menjadi lebih dari US$110 miliar. Dengan jumlah cadangan devisa yang cukup maka tampaknya BI mempunyai ruang untuk membiarkan kurs rupiah menguat ke Rp8.700–Rp8.800 pada 2011 sekaligus untuk menekan inflasi.

Oleh: Mirza Adityaswara, Ekonom Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI)

Iklan

kejar 1 M (118) H-117 (kambing item = short sell) : (bottom is the theme 2)

order transaksi:
OT A
bumi beli @2600, jual @2800
bnii beli @455,460, jual @465, 470; full matched @465, 460, 470
trub beli @52, jual @55; full matched @52
wika beli @600, jual @620; full matched @620
elsa beli @240, 245, jual @250, 260; full matched @250, 245
asia beli @52, jual @55
cpin beli @2450
antm beli @1950; full matched @1950

… kayanya asien-K MULAI NET BUY @bei 🙂 … ekh sore malah foreign net sell lage, mungkin gara2 soal moratorium pemilikan asien-K atas bank2 lokal …

France, Spain, Italy, Belgium Try to Halt Bank Rout
By Howard Mustoe and Jim Brunsden – Aug 11, 2011

France, Spain, Italy and Belgium will impose bans on short-selling from today to stabilize markets after European banks including Societe Generale SA hit their lowest level since the credit crisis.

“While short-selling can be a valid trading strategy, when used in combination with spreading false market rumors this is clearly abusive,” the European Securities and Markets Authority, which coordinates the work of national regulators in the 27-nation European Union, said in a statement after talks ended late yesterday. National regulators will impose the bans “to restrict the benefits that can be achieved from spreading false rumors or to achieve a regulatory level playing field.”

The watchdogs are trying to stem a rout that sent European bank stocks to their lowest in almost 2 1/2 years and quell concern that European lenders may be struggling to fund themselves. Banks’ overnight borrowings from the European Central Bank jumped to the highest in three months yesterday, a sign some lenders may have need for emergency cash. Regulators imposed similar limits on short sales in September 2008 following the collapse of Lehman Brothers Holdings Inc.

The move “shows a sense of panic among European regulators,” Giri Cherukuri, head trader for Oakbrook Investments, which manages $2.7 billion, said in a telephone interview. “On the other hand, people have been calling for regulators to do something decisive, and this is one step along that way.”
‘Unintended Consequences’

Market turbulence has already led Turkey to curb short sales and threaten “severe” penalties for manipulation, following nations including Greece and South Korea. Britain, the first to impose a temporary ban in September 2008, lifted its restrictions in January 2009. The Financial Services Authority said yesterday it has no plans to reintroduce a ban.

Short-sellers sell borrowed shares with plans to buy them back later at a lower price, a practice politicians and some investors blame for roiling markets.

Short-sellers sell borrowed shares with plans to buy them back later at a lower price, a practice politicians and some investors blame for roiling markets.

“EU policy makers don’t seem to understand the law of unintended consequences,” Jim Chanos, the short seller known for predicting Enron Corp.’s collapse, said by e-mail. “The vast majority of short-selling financial shares is by other financial institutions, hedging their counterparty risks, not speculators. The interbank lending market froze up completely in October to December 2008 — after the short-selling bans.”

The gap between the three-month euro interbank offered rate and the overnight indexed swap rate widened yesterday to the most since April 2009, showing that European banks are becoming more reluctant to lend to each other for longer than overnight. The Bloomberg Europe Banks and Financial Services Index, which climbed 3.4 percent yesterday, is down 27 percent this year.
France, Belgium

France’s markets regulator said in a statement it will ban any net short positions and any increase in such positions for at least the next 15 days. The 11 companies covered by the restrictions include insurer Axa SA (CS), BNP Paribas (BNP) SA, Credit Agricole SA (ACA), Natixis and Societe Generale, the regulator said. Market makers will be exempt from the ban.

In Belgium, the local regulator said it banned short- selling “by any means whatsoever.” Existing short positions won’t be banned, though can’t be increased. Ageas, Dexia SA, KBC Groep NV (KBC) and KBC Ancora are covered by the limits.

The board of Italy’s securities markets regulator, Consob, postponed a meeting to before the market opens today, said an official at the Rome-based watchdog, who couldn’t be identified in line with its policy. The meeting will address short sales and measures to review the practice, the official said.
Short-Term Funding

Florence Harmon, a spokeswoman for the U.S. Securities and Exchange Commission, declined to comment on the EU measures.

Frederic Oudea, chief executive officer of Paris-based Societe Generale (GLE), defended the company against speculation that a deterioration in France’s creditworthiness would damage the bank’s stability. He called the rumors “absolute rubbish” in an Aug. 10 interview with CNBC after the stock sank 15 percent.

Oudea’s bank is among lenders being targeted by investors because of its perceived dependence on short-term funding, according to analysts at Royal Bank of Scotland Group Plc.

“The primary culprit for the share-price decline is funding concerns for European banks in general and French banks in particular,” RBS analysts including Stefan Stalmann said in a note to clients yesterday. “The mix of euro doubts and rating fears in recent days and weeks may have dented the confidence of funding counterparties, which has then fed back into equity markets.”
Funding Plans

Societe Generale, Credit Agricole, Spain’s Bankia SA, Italy’s UniCredit SpA (UCG) and Intesa Sanpaolo SpA (ISP) as well as Germany’s Commerzbank AG (CBK) are among banks with the lowest net stable funding ratios and are most reliant on short-term sources of wholesale funding, RBS said. Societe Generale said on Aug. 10 it had fulfilled “almost all” of its funding plan for 2011.

Stable funds are those that banks can expect to have for at least a year even in stressed market conditions, such as term deposits and long-standing consumer deposits. The latest round of Basel rules, scheduled to become binding at the start of 2018, will set a minimum amount of stable funds that banks will have to use to finance different types of lending.

“It’s quite likely, in our view, that funding will not become a serious issue for the large French banks, that anxieties subside and that the shares rebound,” the RBS analysts said. “But there is a non-trivial risk that confidence deteriorates further.”

JAKARTA. Dalam hasil riset yang dirilis hari ini, Universal Broker Indonesia menulis, harapan untuk tercapainya bottom dari trend penurunan tajam pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan bursa regional lainnya, kembali muncul pada hari ini. Hal ini terjadi setelah indeks Dow Jones Industrial (DJI) semalam mengalami kenaikan sebesar 423.37poin (+3.95%).

Menurut Kepala Riset Universal Satrio Utomo, indeks DJI memang belum memberikan signal bullish karena masih belum mampu menembus kisaran resisten di 11.200-11.250.

“Akan tetapi, dengan posisi resisten dari bursa di kawasan Asia yang relatif rendah, berakhir atau tidaknya kepanikan pasar akibat penurunan peringkat surat hutang pemerintah Amerika sepertinya bakal lebih mudah untuk di deteksi lebih dini,” jelasnya.

Dia meramal, resisten pertama dari IHSG hari ini berada di kisaran 3.875-3.883. “Jika IHSG mampu menembus resisten ini, maka IHSG memiliki potensi penguatan hingga kisaran 3890-3975,” urainya.

http://investasi.kontan.co.id/v2/read/1313113827/75263/Universal-Ada-harapan-IHSG-sudah-mencapai-bottom-dari-penurunan-tajam

Sumber : KONTAN.CO.ID

PANEN tiba (kejar 1 M, 116, H-119)

order transaksi:
OT A
imas beli @10500
blta beli @250
mapi beli @4125
apln beli @330, jual @335, 345; full matched @330, 335
asia jual @55, 59
elsa jual @280
masa jual @530, 600
kija jual @166, 169,170; full matched @166, 169, 170
bnii jual @465, 510; full matched @465
trub jual @52, 54, 59; full matched @52
bumi beli @2650, jual @2675, 2700; full matched @2650, 2675

… proses bank sentral amrik yang PALING DITUNGGU pa$ar:
Bernanke Time Commitment on Benchmark Rate Spurs Most Dissents Since 1992
By Craig Torres and Josh Zumbrun – Aug 9, 2011

Ben S. Bernanke lost the full consensus of the Federal Open Market Committee as he reached for another non-traditional tool and provoked three dissenting votes in the process — the most for a Federal Reserve chairman since 1992.

For the first time today, U.S. central bankers specified a date for their commitment to low borrowing costs, saying the benchmark rate will stay in a range of zero to 0.25 percent at least through mid-2013. The new language replaces their prior promise to keep rates low for an “extended period.”

Today’s decision shows that a Fed chief can govern with more than two opposing votes, and it opens the door to bolder action if necessary, said Roberto Perli, a former economist in the Fed’s Division of Monetary Affairs, which helps craft the language of the FOMC statements.

“We have reached the point where Bernanke is taking control and saying we have to do the right thing no matter how many people dissent,” said Perli, a managing director at International Strategy & Investment Group in Washington. “It shows the committee can move forward.”

Seven members of the panel favored the action. Richard Fisher, president of the Federal Reserve Bank of Dallas, Charles Plosser of Philadelphia and Narayana Kocherlakota of Minneapolis voted no, preferring to maintain the existing “extended period” language. The last time three FOMC voters dissented was on Nov. 17, 1992, under Bernanke’s predecessor, Alan Greenspan.
History of Discomfort

Fed officials have a long history of discomfort with pledges that limit their policy flexibility, minutes of their meetings show. The deterioration of the economic outlook, and the limits of monetary policy when interest rates are already near zero, prompted Bernanke to opt for the time commitment — even at the cost of three dissenting votes, said former Fed Governor Laurence Meyer.

“He must be unhappy about that, but with no regrets,” said Meyer, now a senior managing director at Macroeconomic Advisers LLC. “The chairman is the decider, and he will do whatever he thinks needs to be done.”

Ten-year Treasury yields touched a record low, and U.S. stocks rebounded from the worst drop since 2008. The Standard & Poor’s 500 Index gained 4.7 percent to 1,172.53 at the 4 p.m. close of trading in New York. The 10-year yield fell as low as 2.03 percent before paring its decrease to 2.25 percent.

The Federal Open Market Committee lowered its economic assessment, saying it now “expects a somewhat slower pace of recovery over the coming quarters.” It left the door open for more action, saying it discussed “the range of policy tools available to promote a stronger economic recovery.”
More Action

The dissents may have weighed against stronger action for now, said Vincent Reinhart, a former director of the Monetary Affairs Division. With the dissents out of the way, the FOMC majority could push for further easing at the Fed’s annual conference in Jackson Hole, Wyoming, later this month, he said.

“The dissents signal a strongly divided committee,” said Reinhart, a resident scholar at the American Enterprise Institute in Washington. The Bernanke majority “did less than they wanted to probably. But they set themselves up for Jackson Hole to be a midcourse correction.”
… pasar saham indon SEBENARNYA relatif TENANG dan NYAMAN:
Selasa, 09/08/2011 20:02 WIB
Bapepam: Kejatuhan IHSG Bukan Karena Aksi Forced Sell
Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan sejak akhir pekan lalu akibat krisis utang di AS dan Eropa. Sampai saat ini belum ada aksi forced sell yang terdeksi otoritas bursa.

Menurut Kepala Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Nurhaida, saat ini kondisi perdagangan saham jauh berbeda dengan saat krisis 2008, di mana banyak pelaku pasar yang melakukan perdagangan margin.

“Kondisi saat ini beda sekali dengan 2008 di mana margin trading banyak sekali dilakukan dan sangat-sangat spekulatif. Beda dengan sekarang, margin trading sekarang sudah ada aturannya yang jelas,” ungkapnya dalam jumpa pers di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (9/8/2011).

Nurhaida menyatakan berdasarkan hasil pantauan pihaknya, hingga kini belum ada laporan forced sell besar-besaran. Dia menegaskan hal tersebut disebabkan adanya kebijakan yang lebih baik saat ini.

“Laporan harian margin trading tidak terlalu besar dan juga bukan yang spekulatif. Sampai saat ini kami belum lihat adanya laporan terjadi forced sell ataupun forced sell besar-besaran. Kami anggap karena sudah diatur lebih baik maka transaksi margin ini lebih reasonable,” jelasnya.

Demikian pula dengan yang terjadi pada perdagangan short selling. Ia pun mengaku belum melihat indikasi adanya perdagangan short selling hingga hari ini. Namun bila terindikasi adanya tren tersebut dalam kondisi saat ini maka Bapepam-LK punya kewenangan untuk memberhentikannya.

“Sampai saat ini kita belum lihat indikasi short-selling tapi Bapepam-LK punya kewenangan penghentian short selling kalau dianggap perlu melihat tren yang terjadi. Kalau short selling nilainya besar dan tidak sesuai dengan ketentuan, bisa saja Bapepam melakukan penghentian short selling. Sampai saat ini short selling masih dibolehkan dengan persyaratan-persyaratan dan kondisi-kondisi yang memang sudah ada kriteria yang jelas tentang short selling,” tandasnya.

Forced sell atau jual paksa merupakan hak yang dimiliki sekuritas terkait adanya fasilitas marjin di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bagi sebagian investor, terlebih bagi kalangan awam, istilah forced boleh jadi terasosiasi dengan segala momok yang menyeramkan dalam investasi di pasar modal.

(nia/dnl)
… pemerintah siapkan DANA DARURAT KRISIS 2011, kalo terjadi, seh:
Selasa, 09/08/2011 19:51 WIB
Pemerintah Mengaku Siapkan Dana Mitigasi Krisis Ekonomi Rp 103 Triliun
Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Antisipasi krisis ekonomi, pemerintah Indonesia menyiapkan dana mitigasi Rp 103,1 triliun pada APBN-P 2011. Dana tersebut dialokasikan dalam empat pos anggaran. Selain itu, pemerintah merencanakan pembelian kembali (buyback) obligasi negara sebesar Rp 3,07 triliun.

Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro menyebutkan dalam APBN-P 2011 pemerintah mengalokasikan anggaran belanja yang polanya diarahkan untuk memitigasi krisis ekonomi.

Pertama, mengalokasikan dana cadangan risiko perubahan asumsi makro dan stabilisasi harga Rp 4,7 triliun. Kedua, melalui pos belanja bantuan sosial sebesar Rp 81,8 triliun yang digunakan untuk mendanai Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), Program Keluarga Harapan (PKH), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), dan mitigasi bencana alam.

Ketiga melalui anggaran subsidi pangan Rp 15,3 triliun. Keempat, pemberian beras untuk rakyat miskin atau Raskin ke-13 sebesar Rp 1,3 triliun.

“Selain itu, pemerintah menyiapkan pula sejumlah langkah mitigasi krisis. Yaitu melalui buyback SBN, lalu bond stabilization framework, dan juga ada manajemen protokol krisis,” jelasnya dalam jumpa pers di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (9/8/2011).

Menurut Bambang, risiko investasi Indonesia mengalami kenaikan belakangan ini karena sentimen global yang bermuara dari krisis utang di Amerika Serikat dan Eropa. Hal itu tercermin dari meningkatnya credit default swap (CDS) Indonesia untuk yang berjangka waktu 10 tahun, dari 186.46 per 31 Juli 2011 menjadi 202,75 pada 5 Agustus 2011, dan 240,37 pada 8 Agustus 2011.

“CDS Indonesia kira-kira hampir sama dengan Filipina yang sebesar 234.98, serta Turki 231.11. Jadi memang ada peningkatan risiko, tapi kenaikan risikonya masih pada tahap bisa di-manage,” ujarnya.

Bambang menyatakan meningkatnya risiko juga bisa dilihat dari penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang juga memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Bursa terpengaruh signifikan tapi rupiah terkontrol,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto menyatakan pada dasarnya pasar obligasi negara bisa merefleksikan keyakinan pelaku pasar terhadap pemerintah. Saat ini obligasi negara sebesar Rp 690 triliun dipegang oleh investor institusi di pasar domestik, seperti perbankan, asuransi, dana pensiun, reksa dana, dan perorangan. Sementara sisanya, sekitar Rp 249 triliun dipegang oleh asing.

“Jadi kalau krisis di pasar SBN, itu dampak yang terjelek dua itu. Yang pertama cost of borrowing (biaya Utang) pemerintah naik dan akan membebani APBN, dan kedua reversal, karena Rp 249 triliun SBN yang dipegang asing mungkin sebagian akan keluar,” ujarnya.

Namun, jelas Rahmat, sejauh ini belum ada indikasi terjadinya krisis di pasar surat utang negara (SUN). Untuk mengantisipasi itu, pemerintah sudah memiliki krisis manajemen protokol dan menyiapkan kebijakan buyback SBN.

“Situasi pasar masih normal, namun kita harus waspadai prakrisis dan krisis. Kemarin terjadi nett sell asing sebesar Rp 3,86 triliun, dan hari ini turun jadi Rp 1,24 triliun. sebelumnya, Jumat (pekan lalu) Rp 663 miliar,” pungkasnya.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang mengungkapkan pemerintah merencanakan buyback SBN pada tahun ini sebesar Rp 3,07 triliun. Dari rencana tersebut, sejauh ini realisasinya baru sebesar Rp 367,2 miliar.

(nia/dnl)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya

Statistik Kunjungan

  • 24,824 hits

Posting gw

Kalender Tahun Ini

Oktober 2017
S S R K J S M
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Kategori

Klik tertinggi

  • Tidak ada

neh gw ngetwit youw

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.