//
arsip

saham bagus

This tag is associated with 2 posts

PANEN tiba (kejar 1 M, 116, H-119)

order transaksi:
OT A
imas beli @10500
blta beli @250
mapi beli @4125
apln beli @330, jual @335, 345; full matched @330, 335
asia jual @55, 59
elsa jual @280
masa jual @530, 600
kija jual @166, 169,170; full matched @166, 169, 170
bnii jual @465, 510; full matched @465
trub jual @52, 54, 59; full matched @52
bumi beli @2650, jual @2675, 2700; full matched @2650, 2675

… proses bank sentral amrik yang PALING DITUNGGU pa$ar:
Bernanke Time Commitment on Benchmark Rate Spurs Most Dissents Since 1992
By Craig Torres and Josh Zumbrun – Aug 9, 2011

Ben S. Bernanke lost the full consensus of the Federal Open Market Committee as he reached for another non-traditional tool and provoked three dissenting votes in the process — the most for a Federal Reserve chairman since 1992.

For the first time today, U.S. central bankers specified a date for their commitment to low borrowing costs, saying the benchmark rate will stay in a range of zero to 0.25 percent at least through mid-2013. The new language replaces their prior promise to keep rates low for an “extended period.”

Today’s decision shows that a Fed chief can govern with more than two opposing votes, and it opens the door to bolder action if necessary, said Roberto Perli, a former economist in the Fed’s Division of Monetary Affairs, which helps craft the language of the FOMC statements.

“We have reached the point where Bernanke is taking control and saying we have to do the right thing no matter how many people dissent,” said Perli, a managing director at International Strategy & Investment Group in Washington. “It shows the committee can move forward.”

Seven members of the panel favored the action. Richard Fisher, president of the Federal Reserve Bank of Dallas, Charles Plosser of Philadelphia and Narayana Kocherlakota of Minneapolis voted no, preferring to maintain the existing “extended period” language. The last time three FOMC voters dissented was on Nov. 17, 1992, under Bernanke’s predecessor, Alan Greenspan.
History of Discomfort

Fed officials have a long history of discomfort with pledges that limit their policy flexibility, minutes of their meetings show. The deterioration of the economic outlook, and the limits of monetary policy when interest rates are already near zero, prompted Bernanke to opt for the time commitment — even at the cost of three dissenting votes, said former Fed Governor Laurence Meyer.

“He must be unhappy about that, but with no regrets,” said Meyer, now a senior managing director at Macroeconomic Advisers LLC. “The chairman is the decider, and he will do whatever he thinks needs to be done.”

Ten-year Treasury yields touched a record low, and U.S. stocks rebounded from the worst drop since 2008. The Standard & Poor’s 500 Index gained 4.7 percent to 1,172.53 at the 4 p.m. close of trading in New York. The 10-year yield fell as low as 2.03 percent before paring its decrease to 2.25 percent.

The Federal Open Market Committee lowered its economic assessment, saying it now “expects a somewhat slower pace of recovery over the coming quarters.” It left the door open for more action, saying it discussed “the range of policy tools available to promote a stronger economic recovery.”
More Action

The dissents may have weighed against stronger action for now, said Vincent Reinhart, a former director of the Monetary Affairs Division. With the dissents out of the way, the FOMC majority could push for further easing at the Fed’s annual conference in Jackson Hole, Wyoming, later this month, he said.

“The dissents signal a strongly divided committee,” said Reinhart, a resident scholar at the American Enterprise Institute in Washington. The Bernanke majority “did less than they wanted to probably. But they set themselves up for Jackson Hole to be a midcourse correction.”
… pasar saham indon SEBENARNYA relatif TENANG dan NYAMAN:
Selasa, 09/08/2011 20:02 WIB
Bapepam: Kejatuhan IHSG Bukan Karena Aksi Forced Sell
Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan sejak akhir pekan lalu akibat krisis utang di AS dan Eropa. Sampai saat ini belum ada aksi forced sell yang terdeksi otoritas bursa.

Menurut Kepala Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Nurhaida, saat ini kondisi perdagangan saham jauh berbeda dengan saat krisis 2008, di mana banyak pelaku pasar yang melakukan perdagangan margin.

“Kondisi saat ini beda sekali dengan 2008 di mana margin trading banyak sekali dilakukan dan sangat-sangat spekulatif. Beda dengan sekarang, margin trading sekarang sudah ada aturannya yang jelas,” ungkapnya dalam jumpa pers di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (9/8/2011).

Nurhaida menyatakan berdasarkan hasil pantauan pihaknya, hingga kini belum ada laporan forced sell besar-besaran. Dia menegaskan hal tersebut disebabkan adanya kebijakan yang lebih baik saat ini.

“Laporan harian margin trading tidak terlalu besar dan juga bukan yang spekulatif. Sampai saat ini kami belum lihat adanya laporan terjadi forced sell ataupun forced sell besar-besaran. Kami anggap karena sudah diatur lebih baik maka transaksi margin ini lebih reasonable,” jelasnya.

Demikian pula dengan yang terjadi pada perdagangan short selling. Ia pun mengaku belum melihat indikasi adanya perdagangan short selling hingga hari ini. Namun bila terindikasi adanya tren tersebut dalam kondisi saat ini maka Bapepam-LK punya kewenangan untuk memberhentikannya.

“Sampai saat ini kita belum lihat indikasi short-selling tapi Bapepam-LK punya kewenangan penghentian short selling kalau dianggap perlu melihat tren yang terjadi. Kalau short selling nilainya besar dan tidak sesuai dengan ketentuan, bisa saja Bapepam melakukan penghentian short selling. Sampai saat ini short selling masih dibolehkan dengan persyaratan-persyaratan dan kondisi-kondisi yang memang sudah ada kriteria yang jelas tentang short selling,” tandasnya.

Forced sell atau jual paksa merupakan hak yang dimiliki sekuritas terkait adanya fasilitas marjin di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bagi sebagian investor, terlebih bagi kalangan awam, istilah forced boleh jadi terasosiasi dengan segala momok yang menyeramkan dalam investasi di pasar modal.

(nia/dnl)
… pemerintah siapkan DANA DARURAT KRISIS 2011, kalo terjadi, seh:
Selasa, 09/08/2011 19:51 WIB
Pemerintah Mengaku Siapkan Dana Mitigasi Krisis Ekonomi Rp 103 Triliun
Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Antisipasi krisis ekonomi, pemerintah Indonesia menyiapkan dana mitigasi Rp 103,1 triliun pada APBN-P 2011. Dana tersebut dialokasikan dalam empat pos anggaran. Selain itu, pemerintah merencanakan pembelian kembali (buyback) obligasi negara sebesar Rp 3,07 triliun.

Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro menyebutkan dalam APBN-P 2011 pemerintah mengalokasikan anggaran belanja yang polanya diarahkan untuk memitigasi krisis ekonomi.

Pertama, mengalokasikan dana cadangan risiko perubahan asumsi makro dan stabilisasi harga Rp 4,7 triliun. Kedua, melalui pos belanja bantuan sosial sebesar Rp 81,8 triliun yang digunakan untuk mendanai Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), Program Keluarga Harapan (PKH), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), dan mitigasi bencana alam.

Ketiga melalui anggaran subsidi pangan Rp 15,3 triliun. Keempat, pemberian beras untuk rakyat miskin atau Raskin ke-13 sebesar Rp 1,3 triliun.

“Selain itu, pemerintah menyiapkan pula sejumlah langkah mitigasi krisis. Yaitu melalui buyback SBN, lalu bond stabilization framework, dan juga ada manajemen protokol krisis,” jelasnya dalam jumpa pers di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (9/8/2011).

Menurut Bambang, risiko investasi Indonesia mengalami kenaikan belakangan ini karena sentimen global yang bermuara dari krisis utang di Amerika Serikat dan Eropa. Hal itu tercermin dari meningkatnya credit default swap (CDS) Indonesia untuk yang berjangka waktu 10 tahun, dari 186.46 per 31 Juli 2011 menjadi 202,75 pada 5 Agustus 2011, dan 240,37 pada 8 Agustus 2011.

“CDS Indonesia kira-kira hampir sama dengan Filipina yang sebesar 234.98, serta Turki 231.11. Jadi memang ada peningkatan risiko, tapi kenaikan risikonya masih pada tahap bisa di-manage,” ujarnya.

Bambang menyatakan meningkatnya risiko juga bisa dilihat dari penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang juga memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Bursa terpengaruh signifikan tapi rupiah terkontrol,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto menyatakan pada dasarnya pasar obligasi negara bisa merefleksikan keyakinan pelaku pasar terhadap pemerintah. Saat ini obligasi negara sebesar Rp 690 triliun dipegang oleh investor institusi di pasar domestik, seperti perbankan, asuransi, dana pensiun, reksa dana, dan perorangan. Sementara sisanya, sekitar Rp 249 triliun dipegang oleh asing.

“Jadi kalau krisis di pasar SBN, itu dampak yang terjelek dua itu. Yang pertama cost of borrowing (biaya Utang) pemerintah naik dan akan membebani APBN, dan kedua reversal, karena Rp 249 triliun SBN yang dipegang asing mungkin sebagian akan keluar,” ujarnya.

Namun, jelas Rahmat, sejauh ini belum ada indikasi terjadinya krisis di pasar surat utang negara (SUN). Untuk mengantisipasi itu, pemerintah sudah memiliki krisis manajemen protokol dan menyiapkan kebijakan buyback SBN.

“Situasi pasar masih normal, namun kita harus waspadai prakrisis dan krisis. Kemarin terjadi nett sell asing sebesar Rp 3,86 triliun, dan hari ini turun jadi Rp 1,24 triliun. sebelumnya, Jumat (pekan lalu) Rp 663 miliar,” pungkasnya.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang mengungkapkan pemerintah merencanakan buyback SBN pada tahun ini sebesar Rp 3,07 triliun. Dari rencana tersebut, sejauh ini realisasinya baru sebesar Rp 367,2 miliar.

(nia/dnl)

Iklan

MEMILIH $AHAM BAGU$

… well, topik PALING PENTING bwat INVESTOR SAHAM adalah MEMPEROLEH LABA RAKSASA DENGAN MEMILIH SAHAM TERBAIK DALAM JANGKA WAKTU DI BAWAH 1 TAON (cara bodo atawa stupid method) … sila baca kutipan berikut dari stock fortuner
Wednesday, July 21, 2010
TIPS & TRIK MEMILIH SAHAM
Banyak orang yang pertama kali baru mengenal investasi saham bingung bagaimana memilih saham – saham emiten yang layak di beli. Bahkan bagi para trader pemula pun kadang masih bingung , atau bahkan menganggap bahwa saham yang sebenarnya kurang bagus dianggap saham bagus.

Pada dasarnya sebelum membeli suatu saham sebaiknya seseorang belajar terlebih dahulu Fundamental Analysis dan atau Technical Analysis. Akan semakin baik bila menguasai kedua pendekatan analisa tersebut, tetapi bila hanya mampu menguasai salah satu juga dapat dijadikan pijakan awal untuk pembelajaran. Jika seseorang yang dapat menyeleksi saham-saham yang akan di beli dengan pendekatan kedua analisis tersebut maka akan mendapatkan filter saham-saham yang baik sehingga dapat meminimalisir potensi resiko yang timbul.

Berdasarkan pengalaman saya, maka saya akan sharing dan menyarankan RULE yang sangat penting dan paling UTAMA bagi mereka yang baru mula mengenal saham, yaitu:

JANGAN PERNAH MEMBELI SAHAM GORENGAN. BELILAH/ INVESTASIKAN UANG ANDA HANYA PADA SAHAM-SAHAM UNGGULAN ( BLUECHIP ) .

Mengapa? Karena suatu saham unggulan mempunyai ciri-ciri adalah rutin membagi deviden setiap tahunnya, di KELOLA OLEH MANAJEMEN yang profesional dan menganut azas Good Governance dalam menjalankan perusahaannya, mempunyai pertumbuhan yang konsisten, serta mempunyai corporate action yang rasional sehingga memberikan keuntungan kepada setiap pemegang sahamnya khususnya kepada masyarakat luas.

Hedge Fund asing yang mengelola private ataupun dana masyarakat, selalu menilai suatu saham perusahaan berdasarkan kriteria yang saya sebutkan diatas. Nah mereka para hedge fund asing tersebut adalah orang-orang yang mempunyai LISENSI dan SERTIFIKASI berstandar INTERNATIONAL, dimana dalam melakukan riset analisa, atau suatu rekomendasi di dasarkan pada suatu analisa yang mendalam. Lalu bagaimana mungkin kita sebagai orang yang tergolong awam di market mencoba membeli saham yang mereka anggap kategori saham gorengan / junk stock?

Saya ingin menggambarkan sedikit bagaimana bahkan secara logika kita bisa menilai apakah suatu saham emiten bagus atau tidak, diantaranya sbb:

1. Pernah ada suatu emiten di mana rasio hutangnya sangat tinggi dan meminjam dana dari sebuah lembaga keuangan di China dengan bunga berkisar 19% per tahun. Mungkin sekilas hal ini wajar saja, tetapi bila kita menelaah lebih jauh, apa betul ada lembaga keuangan di luar negeri apalagi China menetapkan bunga sebesar itu? Di China orang yang menabung di bank tidak mendapatkan bunga atau hanya maksimal mendapat bunga 1 % per tahun. Nah kita asumsikan bila bunga kredit 6% per tahun di China, logiskah dengan bunga 19%? Mungkin saja secara legal agreement memang betul perjanjian itu bunga 19%, tetapi kita patut berpikir mungkin kah saya ( bila sebagai emiten) meminjam dana dengan bunga 8% lalu kongkalikong selisih 11 persen masuk kantong emiten dengan mendirikan perusahaan offshore diluar negeri? Corporate action ini SANGAT TIDAK logis, mengapa lebih memilih bunga mahal dibandingkan mencari bunga yang lebih rendah? ha. ha. ha.

2. Baru-baru ini kita dikejutkan oleh ada nya suatu pencatatan laporan keuangan yang tidak cocok antara satu emiten dengan emiten lainnya dengan selisih 6 Triliun. Sejalan dengan perkembangannya dikatakan bahawa ada kesalahan pencatatan ha. ha. ha, teman saya mengatakan pada saya bahwa: mengapa salah catat selalu angkanya lebih besar dan tidak lebih kecil ? ha,.ha.ha. Dan mengapa suatu emiten dengan kapitalisasi Triliunan menaruh uang 9 Triliun di bank yang kapitalisasi marketnya 350 Milliar ( bank kecil) ?

3. Mengapa Suatu emiten yang kapitalisasinya bahkan kurang dari 200 miliar dalam sehari bisa naik atau turun 30% dalam sehari, sementara saham unggulan dengan kapitalisasi ratusan triliun paling rata-rata naik 2-8% sehari? Padahal dari segi fundamental perusahaan tersebut tidak ada perubahan apa-apa dan tidak ada corporate action apapun?

4. Sering suatu Grup emiten melakukan aksi korporasi dengan menerbitkan saham baru ( Right Issue ) atau menerbitkan Obligasi, setelah aksi korporasi harganya jatuh, dan saat harga di bawah di beli kembali oleh ownernya. Nah dengan skema demikian jelas kita sebagai masyarakat investor kecil sangatlah di rugikan, karena aksi korporasi yang di buat berdasarkan skema untuk hanya meraup uang masyarakat.

Nah dari contoh-contoh diatas hendaknya kita jangan membeli atau berinvestasi saham perusahaan-perusahaan seperti 4 contoh diatas, dimana bahkan secara akal sehat pun tidak bisa masuk akal.

Sering saya dibantah beberapa teman bahwa bermain saham gorengan bisa menghasilkan keuntungan besar. Saya setuju dan sepakat dengan pendapat teman saya tersebut, hanya sayangnya ia cuma bercerita pada saya keuntungan YANG PERNAH dirasakannya tetapi TIDAK menceritakan pada saya KERUGIAN yang pernah ia alami saat bermain saham gorengan. Nah, apakah anda termasuk orang yang logis ingin berinvestasi ataukah hanya ingin mengadu keberuntungan di market? Anda lah yang menentukan.

TLKM,ASII,AALI,
ADRO (bandingkan dengan posting gw: analisis teknikal adro 1 taon terakhir,
ANTM (bandingkan: 1 taon terakhir harga saham antm, BBCA,
BBRI (1 taon bbri,
BBTN,BDMN,BMRI, INCO,INDF,INTP,ISAT,ITMG,KLBF,LSIP,
PGAS,PTBA,SMCB,SMGR,TINS,UNTR,UNVR dan masih ada beberapa yang belum saya sebutkan,

Lalu saham-saham manakah yang dapat dikatakan saham yang bagus ( bluechip)? Untuk membantu para pembaca supaya tidak terjebak pada subjektifitas pendapat setiap orang, saya akan memberikan daftar saham bluechip yang telah saya analisa mempunyai Fundamental yang baik diantaranya yaitu :TLKM,ASII,AALI,ADRO,ANTM, BBCA,BBRI,BBTN,BDMN,BMRI, INCO,INDF,INTP,ISAT,ITMG,KLBF,LSIP,PGAS,PTBA,SMCB,SMGR,TINS,UNTR,UNVR dan masih ada beberapa yang belum saya sebutkan, tetapi inilah daftar saham-saham yang pada umumnya terdapat dalam keranjang portofolio fund manager Asing. Asing tidak mungkin memilih saham seperti misalnya saham CxxO di dalam portofolio mereka ha.ha.ha.ha, lalu mengapa anda malah masih mau membeli saham tersebut? kalau dasar pertimbangan membeli saham hanya karena ingin mencoba keberuntungan, saya pikir lebih realistis bila anda ke Marina Bay Singapura untuk mendapatkan return diatas 100% ha.ha.ha.

Janganlah kita mendengar rumor di media atau milis atau rekomendasi dari pihak yang mengatakan sebuah saham XXXX ( gorengan) akan menuju ke harga 250 bla bla bla. Saya hanya dapat mengatakan bahwa seorang analis yang baik sebelum mengeluarkan rekomendasi harus memberikan analisa riset dan informasi yang memadai berdasarkan kaidah-kaidah pengetahuan ekonomi termasuk didalamnya Fundamental dan Technical Analysis. Tanpa analisa memadai dapat saya kategorikan hoax atau penyesatan untuk kepentingan pihak-pihak tertentu / manipulator harga untuk menciptakan perdagangan semu. Dan perlu saya sampaikan bahwa UU Pasar Modal memberikan sanksi yang tegas berupa ancaman pidana dan denda kepada manipulator, sayangnya otoritas pasar modal di negara Indonesia tercinta ini lemah sekali dalam mengambil tindakan tegas. Saya berharap dibawah kepemimpinan Menkeu Bpk. Agus Martowardoyo, Depkeu dan Bapepam DAPAT lebih tegas dalam menciptakan pasar modal yang sehat di Indonesia.

Semoga dengan tulisan ini setidaknya anda dapat mulai berpikir secara jernih untuk memilih saham-saham yang bagus untuk dapat anda investasikan sehingga pada waktunya anda dapat menikmati hasil investasi anda.

Semoga bermanfaat
===================================================================
… well, jelas bermanfaat, namun pilihan saham2 yang bagus menurut sang penulis BISA JADI BUMERANG JUGA SAAT INI DAN AKAN DATANG … karena hukum kepastian di dunia ini adalah SEMUA TIDAK PASTI … ketidakpastian di bursa saham indon AMAT LUARBIASA TINGGI bo … bahkan blue-chips SEKALI PUN BISA MENJADI NON-BLUE CHIPS … misalnya, saham the bakries (yang contoh kasusnya disebut-sebut di atas) sebagian bole dibilang blue-chips karena kapitalisasinya besar sekale ( di atas 1 Milyar saham) dan frekuensi trading hariannya gede banget (bisa di atas 1000 kale sehari) … saham2 the bakries, terutama bumi, adalah favorit sebelum 2008 … tapi 2009-2010, the bakries menjadi saham NON-BLUE CHIPS, aka bom waktu, karena harga saham2nya BERGUGURAN … well, fakta ini tidak terbantahkan
… bahkan saham seraksasa saham tlkm pun ANJLOK BESAR HARGANYA pada 2010
… saham blue chips yang relatif TUMBUH stabil adalah asii … asii jelas perusahaan yang dianggap memiliki GCG (good company governance) dengan PER yang relatif menarik, nyaris di bawah 20 … well, tetap saja ketidakpastian menghampiri asii, misalnya, pada 2008, tapi 2009-2010, asii maseh melejit bo, yaitu pada harga saham :
54550 (30/12/10),
48300 (30 Juni 2010),
34650 (4 Januari 2010),
12200 (5 Jan 2009), dan
7300 (28 Oktober 2008, saat ihsg terkoreksi turun PALING DALAM), tapi sebelumnya pernah BERTENGGER PADA
22000 (2 JUNI 2008)… up2u lah

asii, misalnya, pada 2008, tapi 2009-2010, asii maseh melejit bo, yaitu pada harga saham :
54550 (30/12/10),
48300 (30 Juni 2010),
34650 (4 Januari 2010),
12200 (5 Jan 2009), dan
7300 (28 Oktober 2008, saat ihsg terkoreksi turun PALING DALAM), tapi sebelumnya pernah BERTENGGER PADA
22000 (2 JUNI 2008)

… itu sebabnya gw bilang cara cerdas adalah terbaik, karena secara rerata imbal hasil yang tertinggi adalah setelah 3 taon … tapi gw juga pengen dapat penghasilan harian dan jangka pendek, itu sebabnya gw mengkombinasikan dengan cara bodo dan rajin (trading) … gitu lho 🙂
… ASUMSI UTAMA TRADING saham menurut jo, SEMUA SAHAM ADALAH BAGUS UNTUK DITRANSAKSIKAN demi MENDAPATKAN LABA LANGSUNG, dengan SYARAT UTAMA, jo TAU INI JENIS PERUSAHAAN APA dan KATEGORI SAHAM APA di bursa indon … misalnya, abba itu jenis gorengan; pgas itu jenis blue-chips; elsa itu sudah masuk golongan second-liners, misalnya … tapi semua saham ini BAGUS DITRADING, karena ekspektasi laba harian dan jangka pendeknya tetap ada 🙂
… perbedaan cara pada kategori saham:
misalnya,
blue-chips beneran: modal maen/inves lebe gede, periode investasi lebe panjang, laba besar
gorengan: modal maen/inves jauh lebe imut, periode investasi AMAT TIDAK TERUKUR, laba atawa rugi GEDE BANGET
second-liners: modal maen/inves sedang-sedang saja, periode investasi mirip blue-chips, laba sedang-sedang saja, tapi bisa juga lumayan gede
… well, kira-kira begitu lah cara gw memilih saham dan cara gw memainkan semua saham bagus tersebut untuk kepentingan laba jo dalam semua jangka waktu (harian, pendek, menengah, dan panjang)

… bandingkan lage dengan kutipan dari 3 langkah pilih saham

3 Langkah Mudah Memilih Saham Sendiri

 

Anda baru saja masuk ke bursa saham dan Anda bingung saham mana yang mau Anda beli? Anda mendengarkan para analis, teman Anda, saudara Anda, posting blog, facebook, dan lainnya?  Jangan.

 

Setelah Anda selesai membaca artikel ini, Anda akan dapat memilih saham Anda sendiri dan yakin dengan pilihan Anda. Bahkan, akan ada orang-orang yang menganggap Anda seorang ahli.

Anda akan membutuhkan Microsoft Excel sebagai pengolah data.

Baiklah mari kita mulai.

Langkah Pertama, Anda harus memegang para “pemain besar”. Bagaimana cara mengetahui siapa pemain besar dan siapa pemain kecil? Cara yang paling pasti adalah dengan melihat kapitalisasi pasarnya.

Anda bisa mendapatkan filenya di sini: kapitalisasi-pasar-bei-16-desember-2009. (klik kanan, save as)

Setelah Anda mendapatkan data tersebut, Anda harus mengimpornya dulu ke Excel. Atau kalau tidak sempat, download saja file excelnya di sini.

Ada sekitar 400 saham di Bursa Efek Indonesia. Urutkan kapitalisasi pasarnya dari yang terbesar hingga yang terkecil. Kemudian Anda ambil 40 saham teratas dan buang sisanya.

Sekarang Anda mempunyai 40 kandidat, atau 10% saham yang berkapitalisasi besar. Dan kita masuk ke langkah kedua.

Langkah Kedua, Anda buka Yahoo Finance dan cari saham yang sedang trend naik. Bagaimana cara mengenali trend naik? Silakan Anda baca di tulisan mengenai analisa teknikal.

Singkatnya, Anda ingin mencari saham dengan gambar kira-kira seperti ini:

Contoh Uptrend Paling Jelas di Saham ADRO

Cara paling mudah adalah Anda print terlebih dahulu daftar ke-40 saham Anda dengan kapitalisasi pasar terbesar. Kemudian Anda ke Yahoo Finance dan Anda masukkan satu-per-satu kode sahamnya di dalamnya. (ingat ada akhiran .JK) Gunakan panduan kami. Lakukan sekarang.

Langkah Ketiga. Anda harus lakukan terlebih dahulu langkah kedua. Jika belum Anda tidak bisa melakukan langkah ketiga. Jika Anda sudah mendapatkan setidaknya enam saham, maka yang perlu Anda lakukan adalah mengikutinya setiap hari dan melihat tiga candlestick terakhir dari saham incaran Anda dengan tiga prinsip berikut:

Jangan beli ketika harga sedang jatuh (lilin gelap dua atau tiga hari berturut-turut).

Jangan beli ketika harga sudah naik terlalu tinggi (jauh di atas pita warna abu-abu/Bollinger Band) tanpa volume. (garis-garis di bawah pendek)

Beli ketika harga berbalik di dekat garis merah (MA 20).

Nah, sekarang Anda tahu cara mudah memilih saham sendiri… dengan mudah. Jadi, pecat saja broker dan manajer investasi Anda. :)

… well tren adro berlaku pada saatnya saja, sedangkan saat ini sedang tertekan … jadi waktu dalam investasi memegang peranan penting juga …

Budi Frensidy seorang pengajar FEUI dan penulis artikel matematika keuangan yang tenar menurunkan tulisannya, yang gw kutip dari : berburu saham bagus:
berburu saham bagus
(tabloid minggu bisnis indonesia)
risiko dan return saham
berbeda dengan risiko reksa dana saham, berinvestasi langsung pada saham lebih besar risikonya. semakin sedikit jumlah saham yang dimiliki seorang investor, maka semakin besar risiko investasi yang dihadapi investor. untuk kasus ekstrim di mana investor hanya membeli satu saham dengan seluruh uangnya, kerugian bisa 88% (saham LMAS) pada tahun 2005, dan 67% (saham BKSL) pada 2006. Namun risiko selalu bermata dua. Keuntungan investor juga bisa mencapai 515% (saham SAIP) pada 2005, dan 639% (saham DAVO) pada 2006. intinya investor harus paham bahwa membeli sedikit saham dapat membuatnya bangkrut atau kaya raya karena return yang didapat bisa jauh di atas atau di bawah perubahan IHSG yang tumbuh 16,2% dan 55,3% selama 2005 dan 2006.
saham bagus atau perusahaan bagus
yang juga penting diketahui investor adalah saham bagus tidak sama dengan perusahaan bagus. banyak investor, yang berpengalaman sekali pun, tidak bisa membedakan antara keduanya sehingga menilai saham bagus atau jelek hanya berdasarkan bagus atau jeleknya perusahaan. akibat optimisme atau pesimisme yang berlebihan saham perusahaan bagus bisa saja kemahalan dan saham perusahaan jelek bisa terlalu murah.
saham yang bagus adalah saham berharga bagus atau saham yang menjanjikan kenaikan harga yang besar di kemudian hari. sementara itu,
=================================================================
gw ukur sejak tulisan soal memilih saham bagus itu diposting yaitu 10 Maret 2011, dan dibandingkan dengan harga saham ybs (saham2 yang disebutkan sebagai blue chips oleh penulis) pada tgl 13 April 2012:

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya

Statistik Kunjungan

  • 24,824 hits

Posting gw

Kalender Tahun Ini

Oktober 2017
S S R K J S M
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Kategori

Klik tertinggi

  • Tidak ada

neh gw ngetwit youw

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.